Pakaian Adat Bali, Daya Tarik Pulau Dewata Di Mata Wisatawan

Posted on
pakaian-adat-bali
Pakaian Adat Bali (sumber gambar: kpbtabanan.blogspot.com)

Kebaya Bali – Memiliki kebudayaan yang khas menjadikan Bali sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia yang sangat populer. Bahkan kepopuleran Pulau Bali sampai terkenal ke kancah internasional. Banyak turis asing bahkan tokoh populer atau selebritis dunia yang memilih menghabiskan waktu berlibur di Bali. Tidak hanya pesona alam yang membuat Bali sangat populer, namun kebudayaan yang hingga saat ini masih kental dipertahankan menjadi daya tarik wisata. Salah satu cara untuk memperkenalkan kebudayaan Bali kepada masyarakat dunia adalah dengan menyediakan pakaian adat khas Bali saat turis berwisata ke kawasan ini. Fasilitas ini banyak ditawarkan di beberapa daerah wisata yang ada di Bali.

Pakaian adat Bali tak hanya menjadi ciri khas tetapi juga memiliki fungsi dan kepercayaan yang sampai saat ini masih dipertahankan oleh penduduk setempat. Namun memang tidak ada nama khusus yang diberikan untuk menyebut pakaian tradisional dari Pulau Dewata ini. Meski begitu, sampai saat ini baju adat Bali masih terus dilestarikan sebagai salah satu kekayaan budaya dan kearifan lokal di sana. Sama dengan daerah lainnya, pakaian adat Bali yang digunakan oleh kalangan pria dan wanita memiliki perbedaan.

Pakaian Adat Bali

Pakaian adat bali untuk wanita

pakaian-adat-bali
Kebaya Bali (sumber gambar: balubu.com)

Pakaian adat yang biasa digunakan oleh wanita Bali terdiri dari kebaya dan kamen. Wanita Bali memang menggunakan kebaya sama halnya dengan pakaian khas dari Pulau Jawa, namun ada perbedaan diantara keduanya meski tidak terlalu mencolok. Jika dilihat secara detail, kebaya yang digunakan oleh wanita Bali tidak terkesan mewah layaknya yang dipakai oleh wanita Jawa. Bagi masyarakat Jawa, kebaya selalu identik dengan kesan glamor ala keraton. Selain itu, kebaya Jawa juga memiliki banyak macam dan motifnya terlebih kini sudah banyak diberi sentuhan modern yang semakin memperlihatkan kemewahan dari busana tradisional ini.

Sedangkan kebaya Bali justru terkesan sangat sederhana bahkan nyaris tanpa motif. Kebaya Bali biasanya juga hadir dengan pilihan warna yang fresh dan cerah. Itulah yang menjadi ciri khas dari kebaya yang digunakan oleh wanita Bali. Biasanya mereka menggunakan kebaya dengan warna putih, kuning atau oranye. Untuk melengkapi pakaian tradisional ini, pada bagian bawahan menggunakan kain yang disebut dengan kamen. Sekilas, kamen juga mirip dengan kain batik pada umumnya. Hanya saja kamen pada pakaian tradisional Bali memiliki motif yang sangat sederhana yang didominasi dengan motif bunga. Wanita Bali biasanya juga menggunakan aksesori yang membuat penampilan mereka semakin khas. Tak hanya untuk mempercantik penampilan, namun aksesori yang digunakan oleh wanita Bali juga memiliki makna tersendiri. Berikut penjelasannya:

  • Sanggul: Aksesori yang satu ini pada dasarnya hampir sama dengan yang digunakan oleh wanita Jawa saat berpakaian kebaya. Tetapi ada yang menjadi ciri khas dari sanggul Bali, yakni bentuknya yang memanjang. Panjang dari sanggul Bali sendiri bisa mencapat 50 sentimeter. Sanggul Bali juga dilengkapi dengan bunga kamboja serta memiliki peraturan khusus pemakaiannya. Ada 3 macam sanggul Bali yakni pusung gonjer, pusung tagel, dan pusung kepupu atau podgala. Ketiga model sanggul Bali ini digunakan oleh kalangan wanita berdasarkan pada status perkawinan. Pusung gonjer diperuntukkan bagi wanita yang belum menikah, pusung tagel untuk wanita yang telah menikah, dan pusung kepupu dipakai oleh wanita yang telah berstatus janda.
  • Selendang: Selendang yang digunakan oleh para wanita saat memakai pakaian adat Bali disebut dengan senteng. Pemakaiannya cukup diselempangkan pada bagian bahu. Selain itu, terdapat pula filosofi dari penggunaan senteng. Masyarakat Bali percaya jika menggunakan senteng sebagai salah satu perwujudan dari kebaktian seorang anak wanita kepada orang tuanya.
  • Sabuk prada: Menilik pakaian adat yang biasa dipakai oleh kalangan wanita Bali, tentu akan terlihat adanya penggunaan sabuk. Sabuk ini merupakan sabuk prada yang fungsinya sangat sederhana, namun sabuk ini kental akan makna filosofis. Penggunaan sabuk prada dimaksudkan untuk melindungi diri dari perbuatan buruk yang sekaligus digunakan sebagai pelindung rahim.

Pakaian adat bali untuk pria

pakaian-adat-bali
pakaian adat pria Bali (sumber gambar: regional.kompas.com)

Berbeda dengan pakaian adat untuk para wanita yang sangat sederhana, para pria Bali justru menggunakan busana adat yang lebih kompleks. Hal ini terlihat jelas pada jumlah kain yang dipakai pada pakaian adat Bali untuk pria. Atasan baju adat Bali untuk pria ini disebut dengan yoko. Yoko hadir dengan satu buah warna saja yakni putih, bentuknya cukup sederhana karena lebih mirip dengan kemeja atau jas berkerah. Sedangkan untuk bawahannya menggunakan kamen. Kamen ini berbentuk sarung yang terbuat dari bahan tipis dan bermotif layaknya kain batik. Pemakaian kamen pada pria berbeda dengan kamen wanita, sebab pada bagian tengahnya dibentuk lancip sehingga menjulur ke tanah.

Aturan pemakaian ini juga kental akan nilai folosofi sebagai bentuk penghormatan terdapap para leluhur. Ada juga sebuah saput pada bagian pinggang yang dipakai pada lapisan atas kamen. Saput ini bercorak, namun tidak memiliki motif yang mencolok. Saat menggunakan pakaian adat para pria Bali juga menggunakan beberapa aksesoris, diantaranya adalah:

  • Udeng: Ini sejenis ikat kepala khas dari baju adat Bali. Bahkan aksesori yang satu ini dikenal sebagai identitas dari pakaian adat Bali untuk pria. Udeng juga mempunyai makna tersendiri, ada dua jenis motif udeng yakni polos atau berwarna putih dan bermotif batik. Kedua jenis udeng tersebut memiliki fungsi dan aturan pemakaian. Udeng polos digunakan untuk upacara keagamaan, sedangkan udeng bermotif digunakan untuk keseharian. Sehingga disarankan bagi para wisatawan yang ingin membeli udeng sebagai oleh-oleh memilih yang bermotif, karena biasanya turis tidak akan pernah mengikuti upacara keagamaan secara langsung.
  • Sabuk selendang: Para pria menggunakan sabuk selendang dengan cara diikatkan pada pinggang setelah mengenakan kamen dan saput. Pemakaian aksesori ini memiliki makna tersendiri yang sampai saat ini masih dipercaya oleh masyarakat setempat. Penduduk Bali percaya jika menggunakan sabuk ini akan dapat menjaga pemakainya terutama dari bahaya dan hal negatif lainnya.

Selain itu, dalam pakaian adat Bali juga terdapat sebuah bagian yang penting namun terpisah dari kesatuan baju adat tersebut. Adalah sebuah selendang yang dikenal dengan nama saput poleng. Biasanya saput poleng bermotif kotak-kotak dengan warna hitam dan putih. Saput poleng sendiri dianggap sangat sakral bagi masyarakat Bali sehingga hanya orang tertentu saja yang boleh menggunakan saput poleng ini. Masyarakat Bali mengartikan saput poleng sebagai filosofi hidup manusia, seperti halnya dua warna yang terdapat pada saput poleng tersebut. Warna putih sebagai perlambang hal yang positif seperti kebahagiaan, kebaikan, anugerah, kebenaran, dan pencerahan. Sedangkan warna hitam melambangkan hal yang berbabu negatif seperti keburukan, kegelapan, kebohongan, musibah dan kesedihan. Dalam keyakinan yang dianut oleh masyarakat Bali, masyarakat sangat percaya bahwa dalam kehidupan ini selalu ada dua sisi kehidupan yakni gelap dan cerah, yang mana keduanya saling berkaitan satu sama lain.