Pakaian Adat 34 Provinsi Di Indonesia, Lengkap Dengan Gambar dan Penjelasan

Posted on
pakaian-adat-riau
baju adat Melayu Riau (sumber gambar: bualbual.com)

Pakaian Adat – Indonesia terdiri dari 34 provinsi yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Setiap provinsi tersebut tentu saja memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal, selain letak geografis juga dipengaruhi oleh suku-suku yang mendiami kawasan tersebut. Salah satu yang menjadi ciri khas dari kebudayaan di setiap provinsi adalah busana adat. Busana adat bisa dikatakan menjadi identitas mereka di tingkat Nasional. Berikut merupakan daftar nama-nama pakaian adat setiap provinsi yang ada di Indonesia:

  1. Provinsi Papua

pakaian-adat-papua
Holim/ Koteka (sumber gambar: www.kemerahan.id)

Dari beberapa jenis pakaian adat Papua lainnya, pakaian holim ini menjadi yang paling terkenal. Bahkan tak jarang banyak turis mancanegara yang menjadikan pakaian holim sebagai olek-oleh khas dari Papua. Namun seiring dengan berjalannya waktu baik pakaian holim maupun pakaian sejenis koteka lainnya kini dilarang digunakan di tempat umum sehingga pakaian ini biasanya hanya diperjualbelikan sebagai cinderamata semata.

Sejak tahun 1950, para misionaris memang mulai mengampanyekan pemakaian celana pendek untuk menggantikan koteka. Namun suku Dani yang tinggal di Lembah Baliem pada kala itu terkadang masih menggunakan koteka dengan tujuan untuk mempertahankan sebagai warisan leluhur dan kebiasaan asli mereka. Kampanye anti-koteka sendiri kala itu terus berlangsung dimana pada tahun 1960 pemerintah RI juga berusaha mengurangi penggunaan koteka dan selanjutnya aksi kampanye ini dilanjutkan pada tahun 1964 yang dipimpin oleh Gubernur Frans Kaisiepo.

  1. Provinsi Papua Barat

pakaian-adat-papua-barat
ewer (sumber gambar: moondoggiesmusic.com)

Nama pakaian adat dari Papua Barat adalah Pakaian Ewer. Pakain ini murni terbuat dari bahan alami yakni jerami yang dikeringkan. Kendati digerus oleh arus modern, pakaian adat ini kemudian dimodifikasi dengan kain untuk bagian atasnya. Saat ini bahan alam berupa jerami atau serat kering hanya digunakan sebagai bawahan rok rumbia yang digunakan oleh para wanita. Rok ini dibuat dengan mengambil serat-serat tumbuhan dan merangkainya menggunakan tali di bagian atasnya. Rok ini dibuat lapis, lapisan dalam dibuat sebatas lutut dan lapisan luarnya lebih pendek. Untuk mengikatkan rok digunakan ikat pinggang yang dibuat dari kulit kayu dan diukir sedemikian rupa. Biasanya motif ukiran tersebut tidaklah rumit yakni motif kotak dengan susunan yang geometris.

  1. Provinsi Maluku

pakaian-adat-maluku
baju salele (sumber gambar: silontong.com)

Nama pakaian adat Maluku adalah baju cele atau kain salele. Baju cele merupakan baju sederhana yang mewakili karakteristik adat suku-suku di Kepulauan Maluku, umumnya berwarna merah terang dengan motif garis-garis geometris berwarna emas atau perak yang dibuat dari kain tebal. Untuk wanita umumnya Baju cele dipadukan dengan kain kebaya atau sarung tenun dengan warna yang sama, sementara pria biasanya bentuk caju cele meyerupai jas dan dikenakan bersama dengan kemeja berwarna hitam atau putih. Untuk bawahan biasanya pria Maluku memadukannya dengan celana panjang berwarna senada dengan kemeja yang digunakan.

  1. Provinsi Maluku Utara

pakaian-adat-maluku
baju koja (sumber gambar: gpswistaindonesia.wordpress.com)

Ada empat jenis pakaian adat dari Maluku Utara berdasarkan pada kelas sosial atau kedudukannya di dalam masyarakat. Keempat jenis pakaian ini antara lain pakaian adat untuk rakyat biasa, remaja putra dan putri, kaum bangsawan, dan pakaian adat sultan serta permaisuri. Pakaian adat untuk rakyat biasa sarat akan nilai kesederhaan, sedangkan pakaian adat untuk remaja putra disebut dengan koja. Baju koja adalah perpaduan antara jubah panjang berwarna biru atau kuning muda dan biasa dipadukan dengan celana panjang hitam atau putih. Sedangkan untuk remaja putri menggunakan perpaduan kebaya dan kain songket yang dilengkapi dengan beragam aksesoris.

Bagi kaum bangsawan biasanya menggunakan jubah panjang yang menjuntai hingga betis, celana panjang, dan ikat kepala berbentuk khusus. Sedangkan untuk wanitanya menggunakan kebaya dan kain panjang sebagai bawahan. Busana yang paling mewah adalah yang digunakan oleh sultan yang bernama Manteren Lamo. Pakaian ini terdiri dari jas tertutup berwarna merah dengan 9 kancing besar. Warna merah menjadi perlambang keperkasaan dan kekuasaan. Sementara untuk permaisuri menggunakan busana bernama Kimun Gia yang merupakan kebaya yang dipadukan dengan bawahan berupa kain songket yang diikat dengan ikat pinggang emas. Permaisuri juga akan menggunakan perhiasan dan aksesoris lainnya.

  1. Provinsi Sulawesi Tenggara

pakaian-adat-sulawesi-tenggara
baju lipa hinoru (sumber gambar: kamerabudaya.com)

Suku Tolaki adalah suku yang paling banyak mendiami provinsi Sulawesi Tenggara adalah Suku Tolaki, kebudayaan mereka mewakili kebudayaan dari Sulawesi Tenggara di kancah Nasional termasuk untuk urusan busana adat. Babu Nggawi dan Babu Nggawi Langgai merupakan sebutan untuk busana adat dari Provinsi Sulawesi Tenggara. Babu Nggawi digunakan oleh para wanita yang terdiri dari lipa hinoru sebagai atasan dan roo mendaa sebagai bawahan. Lipa hinoru merupakan blus dengan bahu terputus sedangkan roo mendaa adalah rok panjang hingga mata kaki dengan warna yang sama dengan baju atasannya. Sedangkan Nggawi Langgai merupakan busana adat pria berupa baju atasan berlengan pajang yang bagian depannya terbuka dengan hiasan keemasan pada belahan baju, leher, dan lengan yang disebut sebagai baju babu kandiu. Sedangkan untuk bawahannya menggunakan celana panjang dengan belahan di bagian bawah yang disebut saluaro ala.

  1. Provinsi Sulawesi Selatan

pakaian-adat-gorontalo
Pakaian Adat Gorontalo – Bodo Takowa (sumber gambar: bajutradisionals.com)

Ada cukup banyak busana adat yang berasal dari Provinsi Sulawesi Selatan, namun yang paling terkenal adalah Baju Bodo. Busana adat ini memiliki desain yang sangat sederhana dan juga minim jahitan. Selain itu busana ini dianggap sebagai baju paling tua dan bahkan tercantum dalam Kitab Patuntung peninggalan nenek moyang Suku Makassar. Baju Bodo pada umumnya digunakan bersama dengan aksesoris yang terbuat dari logam sebagai hiasannya. Penggunaan baju bodo saat ini cenderung hanya dilakukan pada upacara-upacara adat tertentu saja. Busana adat ini biasanya juga digunakan saat melakukan pertunjukan tarian adat.

  1. Provinsi Sulawesi Tengah

baju-adat-sulawesi-tengah
baju adat Suku Kaili (sumber gambar: wikinegara.blogspot.com)

Meski pada dasarnya ada banyak suku yang mendiami wilayah Sulawesi Tengah, saat berbicara tentang ciri khas dan kebudayaan yang ada di sana didominasi oleh budaya dari Suku Kaili. Busana adat dari Sulawesi Tengah disebut dengan nama Baju Nggembe dan Baju Koje. Dimana Baju Nggembe merupakan baju adat khusus wanita atau remaja putri yang dikenakan saat pesta dan upacara adat. Baju ini memiliki bentuk yang unik yakni segi empat dengan kerah bulat dan blus longgar yang panjang sampai ke pinggang. Sedangkan Baju Koje merupakan busana untuk para bujang atau laki-laki yang berupa kemeja dengan kerah tegak berlengan panjang. Bagian bawahannya menggunakan Puruka Pajana. Puruka Pajana adalah celana lebar yang dilengkapi dengan sarung di bagian pinggang. Para pria juga akan menggunakan destar atau penutup kepala yang disebut siga dan keris yang diselipkan di pinggangnya.

  1. Provinsi Sulawesi Barat

baju-adat-sulawesi-barat
baju adat Pattuqduq Towaine (sumber gambar: mysindyputriaprilia.blogspot.com)

Busana adat dari Provinsi Sulawesi Barat tak lepas dari budaya Suku Mandar, karena 50 persen dari total penduduk wilayah tersebut adalah Suku Mandar. Dahulu masyarakat Suku Mandar mengenal jenis pakaian adat mereka dengan nama Pattuqduq Towaine. Pakaian ini merupakan busana adat khas Sulawesi Barat yang biasa digunakan oleh wanita. Busana ini terdiri dari 18 aksesoris, semua aksesoris ini terbagi menjadi 5 golongan yakni pakaian utama, penghias kepala, perhiasan badan, dan perhiasan tangan. Sedangkan untuk laki-laki terbilang cukup sederhana yakni dengan menggunakan jas tertutup warna hitam berlengan panjang. Busana ini dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam dan kain sarung yang dililitkan di bagian pinggang.

  1. Provinsi Sulawesi Utara

baju-adat-sulawesi-utara
laku tepu (sumber gambar: imomo.me)

Busana adat dari Porvinsi Sulawesi Utara bernama pakaian Laku Tepu. Busana adat ini dibuat dari serat kofo atau sejenis tanaman pisang yang mempunyai serat batang kuat. Pakaian ini pada umumnya hanya digunakan pada saat upacara Tulude saja. Laku Tepu merupakan pakaian dengan baju lengan panjang dan untaiannya sampai ke tumit. Pakaian ini digunakan bersama dengan perlengkapan lainnya yakni popehe (ikat pinggang), paporong (penutup kepala), bandang (selendang di bahu), dan kahiwu (rok rumbai). Pakaian dan perlengkapan ini digunakan baik oleh wanita maupun para pria dengan warna dasar kuning, hijau, merah atau warna cerah lainnya.

  1. Provinsi Gorontalo

pakaian-adat-gorontalo
Pakaian Adat Gorontalo (sumber gambar: adat-tradisional.blogspot.com)

Pakaian adat Gorontao sendiri dikenal dengan nama Mukuta dan Biliu, ini merupakan sepasang pakaian tradisional yang sangat umum digunakan pada acara-acara adat Gorontalo. Kedua busana ini digunakan pada upacara perkawinan. Mukuta digunakan oleh mempelai pria, sementara Biliu digunakan oleh mempelai wanita. Baik Makuta maupun Biliu terdiri dari kain warna kuning keemasan, namun ditemui juga warna lain seperti hijau, ungu, dan warna-warna lainnya. Meski begitu dalam upacara perkawinan ada juga busana lain yang digunakan baik oleh mempelai pria maupun wanita. Tidak menggunakan Mukuta dan Biliu, mereka menggunakan busana yang berbeda pada saat akad nikah yang disebut masyarakat Gorontalo dengan nama Boqo Takowa dan Madipungu.

  1. Provinsi Kalimantan Selatan

pakaian-adat-kalimantan
Baamar Galung Pancar Matahari (sumber gambar: jolygram.com)

Busana adat dari daerah ini sudah ada sejak abad ke-17 dan memiliki hiasan yang cukup mewah. Namanya adalah baju penganti Baamar Galung Pancar Matahari. Busana ini dilengkapi oleh beberapa perhiasan, diantaranya adalah kalung kebin raja, anting berunati panjang, cincin, penghias kepala, cikak gelang kaki, dan selop bersulam benang emas. Selain itu ada juga beberapa busana adat dari Kalimantan Selatan:

  • Baju Pengantin Bagajah Gamulin Bular Lutut: Busana ini sangat kental akan nuansa Hindu. Penggunaan kemben atau yang lebih dikenal dengan nama udat oleh masyarakat setempat membuat busana yang biasa digunakan oleh pengantin wanita ini menjadi semakin eksotis. Ada juga rangkaian bunga melati atau karang jagung yang menjadi hiasan pada pakaian ini.
  • Babaju Kun Galung Pacinan: Busana ini sudah diperkenalkan sejak abad ke-19. Sama dengan namanya, busana ini kental akan nuansa Cina yang dipadukan dengan budaya Timur Tengah. Kombinasi ini menjadi corak khas dari busana pengantin yang satu ini.
  • Babaju Kubaya Panjang: Jenis pakaian ini merupakan jenis busana yang paling banyak diminati oleh masyarakat. Busana ini terkenal dengan nuansa islami yang membuatnya banyak disukai oleh pengantin muslim.
  1. Provinsi Kalimantan Tengah

pakaian-adat-dayak
rompi sangkarut (sumber gambar: liputan6.com)

Provinsi yang satu ini didominasi oleh suku Dayak Ngaju dengan pakaian adat mereka yang disebut dengan nama Sangkarut. Baju adat yang biasanya digunakan dalam acara pernikahan dan peperangan ini terbuat dari bahan alam berupa serat kayu lemba atau nyamu. Biasanya pakaian adat ini diwarnai dengan bahan alami dan diberi hiasan unik seperti pernak-ernik koin, kulit teringgling kancing, dan juga ada beberapa benda yang dinilai memiliki kekuatan magis. Senjata tradisional Kalimantan Tengah juga kerap dijadikan pelengkap pada busana adat ini. Motif yang digunakan pada busana ini adalah flora dan fauna serta ada beberapa bentuk geometris lainnya. Motif alam terkadang juga sering digunakan sebagai penambah nilai artistik pada busana Sangkarut ini.

  1. Provinsi Kalimantan Timur

pakaian-adat-dayak
sapei sapaq (sumber gambar: vivaborneo.blogspot.com)

Busana adat dari Kalimantan Timur disebut dengan nama Ta’a, sedangkan untuk busana para wanitanya disebut dengan Sapei Sapaq. Ta’a merupakan pakaian yang terdiri dari atasa dan rok sebatas lutut. Sebagai hiasan digunakan ikat kepala dari daun pandan serta gelang dari pintalan benang. Motif yang ada pada busana biasanya berupa harimau, burung enggan dan tumbuhan. Sedangkan Sapei Sapaq untuk kaum laki-laki memiliki perbedaan dengan Ta’a. Perbedaan ini terlihat pada bawahan yang digunakan yakni celana pendek dan tambahan senjata tradisional seperti pesiau atau mandau.

Sementara Suku Kutai menggunakan baju adat bernama Kustim yang terdiri dari pakaian kurung dan bawahan. Hiasan seperti sanggung dengan pemberian kembang goyang dan tali kuantan bagi mempelai perempuan. Ada juga topi berbulu bagi mempelai laki-laki. Busana ini sangat digemari oleh masyarakat Kutai untuk dijadikan busana di acara-acara penting.

  1. Provinsi Kalimantan Barat

pakaian-adat-kalimantan
king baba & king bibinge (sumber gambar: media-kalimantan.blogspot.com)

Pakaian adat dari Kalimantan Barat sangat lekat dengan kebudayaan suku Dayak. Untuk kaum laki-laki menggunakan busana yang diberi nama King Baba yang terbuat dari bahan alai berupa kayu tanaman ampuro atau kayu kapuo. Pemilihan jenis kayu ini karena memiliki kandungan serat yang tinggi dan termasuk tumbuhan endemik Kalimantan. Sebagai pelengkap, busana adat yang digunakan oleh laki-laki juga dilengkapi dengan beberapa aksesoris seperti ikat kepala dan juga bulu burung engang gading yang diselipkan di dalamnya. Biasanya mereka juga menggunakan senjata tradisional mereka yakni Mandau sebagai penambah nilai artistik.

Sedangkan untuk wanita menggunakan busana adat yang diberi nama King Bibinge. Baju ini juga terbuat dari bahan yang sama dengan baju adat untuk laki-laki. Bedanya, King Bibinge dibuat lebih tertutup dan sopan. Pakaian adat ini digunakan untuk aktivitas sehari-hari masyarakat suku Dayak. Kelengkapan lain pada busana adat ini diantaranya adalah aksesoris dari bulu burung enggang, manik-manik, kalung, dan gelang. Hingga saat ini suku Dayak masih banyak yang menggunakan busana ini terlebih suku Dayak Kubu yang tinggal di pedalaman Kalimantan.

  1. Provinsi Kalimantan Utara

pakaian-adat-kalimantan
baju sapei sapaq & ta’a (sumber gambar: instasaver.org)

Pada dasarnya, kebudayaan yang ada di salah satu provinsi baru di Pulau Kalimantan ini memiliki kemiripan dengan daerah Kalimantan Timur. Mayoritas penduduknya adalah suku Dayak yang menggunakan busana khas di berbagai acara penting. Busana adat mereka adalah Ta’a dan Sapei Sapaq. Mulai dari bahan dan aksesoris yang digunakan juga serupa dengan busana Ta’a dan Sapei Sapaq pada umumnya. Adanya etnis asli yang mendiami suatu daerah memang menambah keberagaman kebudayaan yang tercermin dalam keseharian serta adat di daerah tersebut. Hal ini pula yang terjadi di daerah Kalimantan yang memang terdiri dari beberapa wilayah serta suku-suku etnis yang mendiami daerah tersebut. Keberadaan pakaian adat ini tentu saja menjadi daya tarik tersendiri untuk Pulau Kalimantan sekaligus menambah khazanah budaya Indonesia yang sangat beragam.

  1. Provinsi Nusa Tenggara Timur

tarian-nusa-tenggara-timur
tari cerana (sumber gambar: youtube.com)

Pakaian adat dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah busana adat Suku Rote. Busana ini dianggap sangat unik dan sarat akan nilai filosofis. Salah satu keunikan dari busana ini terletak pada desain Ti’i Langga, yaitu sebuah penutup kepala dengan bentuk seperti topi sombrero khas Meksiko yang dibuat dari daun lontar kering. Penutup kepala tersebut kerap dianggap sebagai simbol kewibawaan orang yang mengenakannya dan kepercayadirian para pria Suku Rote. Topi ini menjadi pelengkap utama dari busana adat yang dinamakan Tenun Ikat. Sesuai dengan namanya, pakaian ini didominasi dengan kain tenun khas Rote. Untuk pria menggunakan kemeja putih lengan panjang dan sarung tenun ikat warna gelap sebagai bawahan. Sedangkan untuk wanita menggunakan perpaduan kebaya dan bawahan berupa tenunan tangan.

  1. Provinsi Nusa Tenggara Barat

baju-adat-nusa-tenggara-barat
baju adat Lambung (sumber gambar: budaya.kampung-media.com)

Kebudayaan yang Suku Sasak menjadi wakil budaya masyarakat Nusa Tenggara Barat di kancah Nasional. Suku Sasak mempunyai pakaian adat yang bernama Lambung dan Pegon. Pakaian adat Lambung adalah busana yang dikenakan oleh para wanita saat menyambut tamu dan pada acara adat. Pakaian ini berupa baju hitam dengan kerah bentuk ‘V’, tidak berlengan dan berhias manik-manik di tepi jahitan. Pakaian ini terbuat dari bahan kain pelung dan digunakan bersama dengan selendang bercorak ragi genep di bahu kanan dan kiri. Sedangkan Pegon merupakan pakaian yang digunakan oleh pria. Baju ini dipercaya merupakan hasil adaptasi kebudayaan Eropa dan Jawa yang terbawa ke Nusa Tenggara Barat. Bentuknya berupa jas hitam sedangkan bawahannya adalah wiron atau cute yakni batik bermotif nangka dari bahan kain pelung hitam.

  1. Provinsi Bali

pakaian-adat-bali
Kebaya Bali (sumber gambar: balubu.com)

Pakaian adat yang biasa digunakan oleh wanita Bali terdiri dari kebaya dan kamen. Mereka memang menggunakan kebaya sama halnya dengan pakaian khas dari Pulau Jawa, namun ada perbedaan diantara keduanya meski tidak terlalu mencolok. Jika dilihat secara detail, kebaya yang digunakan oleh wanita Bali tidak terkesan mewah layaknya yang dipakai oleh wanita Jawa. Kebaya Bali justru terkesan sangat sederhana bahkan nyaris tanpa motif, biasanya hadir dengan pilihan warna yang fresh dan cerah.

Berbeda dengan pakaian adat untuk para wanita yang sangat sederhana. Para pria Bali justru menggunakan busana adat yang lebih kompleks. Hal ini terlihat jelas pada jumlah kain yang dipakai pada pakaian adat Bali untuk pria. Atasan baju adat Bali untuk pria ini disebut dengan yoko yang hanya berwarna putih saja. Bentuknya cukup sederhana karena lebih mirip dengan kemeja atau jas berkerah. Sedangkan untuk bawahannya menggunakan kamen, yaitu berbentuk sarung yang terbuat dari bahan tipis dan bermotif layaknya kain batik.

  1. Provinsi Jawa Timur

tarian-tradisional-jawa-timur
Tari Beskalan (sumber gambar: blogkulo.com)

Jika dilihat secara sekilas pakaian adat Jawa Timur sebenarnya memiliki beberapa kesamaan dengan pakaian yang biasa digunakan oleh orang Jawa Tengah. Ditilik dari sejarahnya, masyarakat Jawa Timur memperolah pengaruh yang begitu kental dari daerah Jawa Tengah. Namun secara garis besar ada yang membedakan antara busana adat Jawa Timur dan Jawa Tengah, yaitu dari segi corak. Corak busana adat Jawa Timur lebih menonjolkan nilai-nilai ketegasan namun tetap sederhana dan menjunjung tinggi etika. Kedua adalah pada segi perlengkapan, pakaian adat Jawa Timur digunakan bersama dengan beberapa aksesoris unik seperti penutup kepala dan kain selendang yang diselempangkan pada bahu.

  1. Provinsi DI Yogyakarta

baju-adat-nusa-tenggara-barat
baju adat Yogyakarta (sumber gambar: harianriez.com)

Dalam adat masyarakat Yogyakarta ditemui banyak ragam pakaian adat tradisional, dimana penggunaannya disesuikan dengan acara yang akan dihadiri. Tak hanya itu adanya perbedaan strata sosial di kalangan masyarakat Yogyakarta yang masih cukup kental membuat busana adat yang digunakan setiap orang tidak boleh sembarangan. Namun secara keseluruhan busana adat yang paling sering digunakan adalah pakaian rakyat. Para pria menggunakan baju sorjan, kain batik, dan blangkon sebagai penutup kepala. Sedangkan untuk para wanita menggunakan kebaya, kain batik, dan juga hiasan rambut berupa sanggul. Busana ini merupakan tatanan busana yang sering digunakan oleh masyarakat Yogyakarta di acara-acara resmi hingga pernikahan adat hingga masa sekarang.

  1. Provinsi Jawa Tengah

baju-adat-jawa-tengah
baju adat Jawa Tengah (sumber gambar: romadecade.org)

Ada banyak jenis busana adat khas Jawa Tengah namun yang paling umum digunakan untuk keperluan adat adalah busana bernama Jawi Jangkep dan Kebaya. Jawi Jangkep merupakan busana yang digunakan oleh pria dan terdiri dari atasan berupa baju beskap dengan motif bunga dan bawahan berupa kain jarik yang dililitkan di pinggang. Penggunaan busana ini biasanya juga dilengkapi dengan aksesoris lain berupa keris, cemila, dan blangkon sebagai penutup kepala.

Sedangkan Kebaya merupakan busana adat yang biasa digunakan oleh wanita. Umumnya busana ini terbuat dari bahan katun, beludru, sutera brokat, dan nilon. Warna-waran yang dipilih juga cenderung variatif mulai dari putih, hijau, biru, kuning, merah, dan warna-warna lainnya. Kebaya panjang bagian bawahnya mencapai lutut, sedangkan Kebaya yang pendek panjangnya hanya mencapai pinggang. Sebagai bawahan, biasanya masyarakat Jawa Tengah menggunakan kain bernama Kain Tapih Pinjung.

  1. Provinsi Jawa Barat

baju-adat-jawa-barat
pakaian daerah Sunda (sumber gambar: borneochannel.com)

Banyak kalangan yang kini mengenal nama beskap sebagai busana resmi adat Sunda yang bisa digunakan oleh semua kalangan. Beskap sendiri merupakan pakaian yang biasa digunakan oleh para laki-laki. Beskap memiliki tekstur tebal dengan kerah baju yang tidak memiliki lipatan. Warnanya sendiri juga sangat beragam, namun biasanya berwarna gelap dan polos. Beskap sendiri hampir selalu dipadukan dengan jarik sebagai bawahan yang diikatkan untuk menutupi kaki. Sedangkan untuk para mojang atau perempuan juga memiliki pakaian tersendiri yang khas saat acara resmi. Dalam beberapa kesempatan selalu terlihat para perempuan menggunakan baju adat berupa kebaya dengan paduan warna polos. Untuk atasannya menggunakan kain, tak lupa juga selop sebagai alas kaki yang disesuaikan dengan warna kebaya. Tampilan ini dilengkapi dengan ikat pinggang (beubeur) dan juga selendang atau kerembong.

  1. Provinsi DKI Jakarta

baju-adat-dki-jakarta
baju adat Suku Betawi (sumber gambar: rumahulin.com)

Menurut penggunannya pakaian adat Betawi ada 3 macam yakni pakaian keseharian, pakaian resmi dan busana pengantin. Untuk kesehariannya pakaian yang umum digunakan orang Betawi adalah baju koko yang lazim disebut baju sadariah untuk kaum pria dan para wanita menggunakan baju kurung berwarna terang. Sementara kalangan bangsawan biasanya menggunakan baju ujung serong. Untuk para pria dan untuk wanita menggunakan varian baju yang sama dengan baju kesehariannya yakni baju kurung, kain batik, selendang, dan kerudung.

Pada saat upacara pernikahan masyarakat Betawi biasanya menggunakan busana bernama Dandanan Care Haji untuk para pria, sedangkan pengantin wanitanya menggunakan Dandanan Care None. Busana pengantin khas Betawi ini juga sarat dengan nilai-nilai budaya Tionghoa. Baik untuk pria maupun wanita penggunaan busana pengantin ini juga dilengkapi dengan beberapa aksesoris lainnya.

  1. Provinsi Banten

baju-adat-banten
baju ada Banten (sumber gambar: tokopedia.com)

Budaya Banten memang cukup mirip dengan budaya Sunda yang ada di Jawa Barat. Hal ini dibuktikan dengan ragam pakaian adat yang dikenakan oleh masyarakatnya. Dalam adat Banten dikenal pakaian adat yang bernama baju Panganten. Pakaian ini sesuai namanya hanya digunakan oleh para pengantin saat upacara pernikahannya saja. Dari bentuk dan motifnya, pakaian ini nyaris serupa dengan pakaian adat Sunda. Para pria menggunakan baju koko berkerah, kain batik sebagai bawahan, penutup kepala, dan selendang untuk ikat pinggangnya.

  1. Provinsi Lampung

pakaian-adat-lampung
pakaian adat Lampung (sumber gambar: lampung.co)

Pakaian adat Lampung adalah peninggalan budaya yang memiliki nilai seni tinggi, sehingga sering digunakan sepasang pengantin sebagai simbol kebesaran budaya daerah Lampung. Tidak ada nama khusus untuk busana adat Lampung ini, namun berbagai pernak-pernik yang biasa ada pada busana adat Lampung umumnya terbuat dari kain tapis. Kain tapis merupakan tenunan khas daerah Lampung yang didominasi warna emas sebagai warna utama, sementara motifnya kebanyakan geometris. Busana untuk para pria cukup sederhana yakni baju lengan panjang berwarna putih, celana panjang hitam, sarung tumpal, sesapuran, dan khikat akhir. Sedangkan untuk busana wanitanya menggunakan pakaian yang hampir serupa dengan busana pria, namun pada wanita terdapat perlengkapan-perlengkapan lain yang menambah nilai filosofis dan estetis.

  1. Provinsi Bangka Belitung

pakaian-adat-bangka-belitung
baju seting dan kain cual (sumber gambar: perpustakaan.id)

Pakaian adat dari daerah ini disebut dengan Baju Seting dan Kain Cual. Pakaian ini diduga adalah pakaian yang dipengaruhi oleh akulturasi budaya masyarakat Arab, Cina, dan Melayu pada masa silam. Pasalnya wilayah Bangka Belitung dulunya memang daerah yang sering dikunjungi oleh bangsa-bangsa di seluruh dunia saat melakukan pelayaran dan perdagangan. Baju Seting merupakan baju kurung biasa dengan warna merah yang dibuat dari kain beludru atau kain sutra yang bawahnya dipadukan dengan Kain Cual. Kain Cual merupakan kain asli budaya Bangka Belitung yang dibuat dengan metode tenun ikat. Motif yang digunakan untuk kain ini ada dua jenis yakni motif corak penuh dan motif ruang kosong. Untuk busana pria biasanya menggunakan jubah panjang khas Arab yang dilengkapi dengan selendang atau selempang pada bagian bahu. Busana pria juga dilengkapi dengan bawahan berwarna senada dengan baju dan pending selop atau sandal Arab.

  1. Provinsi Sumatera Selatan

pakaian-adat-sumatera-selatan
Aaesan Gede dan Aaesan Pasangko (sumber gambar: metif.blogspot.com)

Ada dua jenis busana yang menjadi pakaian adat dari daerah Sumatera Selatan yakni Aesan Gede dan Aesan Pasangko. Aesan Gede merupakan pakaian yang melambangkan kebesaran yang mana dulunya menjadi perlambang keagungan kerajaan Sriwijaya di masa silam. Berbalut dengan warna merah jambu yang dipadukan dengan sulaman berwarna emas, pakaian adat ini memiliki nilai filosofis yang cukup luhur bahwa Sumatera memang layak dijuluki sebagai swarnadwipa atau pulau emas. Sedangkan Aesan Pasangko merupakan busana adat yang melambangkan keanggunan. Gaya busana pria dalam Aesan Pasangko biasanya berupa penggunaan songket lepus sulam emas, selempang songket, jubah dengan motif taburan bunga emas, seluar atau celana, dan songkok emas. Untuk para wanitanya menggunakan baju kurung merah bertabur motif bintang emas, teratai penutup dada, mahkota Aesan Pasangko sebagai penutup kepala, dan kain songket bersulam emas.

  1. Provinsi Bengkulu

pakaian-adat-bengkulu
pakaian adat Bengkulu (sumber gambar: kosmetitky-szalenstwo-wlosowe.blogspot.id)

Suku asli masyarakat Bengkulu adalah Suku Rejang, Serawai, Lembak, dan Pekal yang merupakan bagian dari sub Suku Melayu. Oleh sebab itu, adat dan budaya masing-masing suku yang mendiami Bengkulu mempunyai kemiripan dengan budaya yang sama yakni budaya Melayu. Pakaian adat Bengkulu bernama busana Melayu Bengkulu. Para pria menggunakan pakaian adat yang terdiri dari jas, celana panjang, alas kaki, dan penutup kepala. Jasnya terbuat dari kain wol atau beludru dan celananya terbuat dari kain satin. Penggunaan celana panjang umumnya disertai dengan lipatan sarung yang dipasang di pinggang setinggi lutut.

Untuk para wanitanya menggunakan baju kurung lengan panjang yang terbuat dari kain beludru dengan hiasan sulaman emas berbentuk bulat. Warna yang paling dominan digunakan pada baju kurung ini adalah warna-warna tua seperti merah tua, lembayung, biru tua, dan hitam. Baju kurung dipadukan dengan kain songket berbahan sutra yang dihiasi dengan motif benang emas. Untuk mempercantik penampilan saat menggunakan busana adat, para wanita juga menggunakan beberapa aksesoris seperti sanggul lengkap dengan tusuk kondenya.

  1. Provinsi Jambi

pakaian-adat-jambi
baju adat Jambi (sumber gambar: fitinline.com)

Jambi yang merupakan daerah yang juga cukup banyak dihuni oleh masyarakat Melayu biasanya menggunakan baju kurung tanggung. Baju ini terbuat dari kain beludru dan sebagai hiasan dilengkapi dengan sulaman benang emas bermotif kembang tabur, kembang melati, dan kembang berangkai. Sebagai bawahan, para pria menggunakan cangge atau celana biasa yang juga terbuat dari bahan beludru. Hampir sama dengan busana pria, para wanita Jambi juga menggunakan baju kurung yang terbuat dari kain beludru. Namun khusus wanita, sarung songket dan selendang merah dari tenunan benang sutra biasanya dikenakan sebagai pelengkap. Sebagai mahkota atau penutup kepala dalam busana khas Jambi, untuk wanita menggunakan pesangkon yang diberi hiasan logam berwarna kuning dengan bentuk menyerupai duri pandan.

  1. Provinsi Kepulauan Riau

pakaian-kepulauan-riau
teluk belanga dan kebaya labuh (sumber gambar: pinterest.com)

Salah satu bentuk akulturasi antara budaya Eropa, Arab, dan Cina terlihat dalam penampilan pakaian adat dari Kepulauan Riau, Kebaya Labuh, dan Teluk Belanga. Kebaya Labuh merupakan pakaian adat yang digunakan oleh wanita dalam upacara adat atau acara resmi lainnya, desain pakaian ini sangat sederhana dan biasanya dipadukan dengan kain batik cual untuk bawahannya. Kebaya Labuh menjadi simbol kebudayaan yang hingga saat ini masih banyak digunakan pada upacara pernikahan.

Sedangkkan Teluk Belanga adalah busana yang biasanya digunakan oleh pria. Pakaian ini pada dasarnya mirip dengan pakaian adat Melayu yang kemudian dijadikan ikon pakaian adat Riau. Teluk Belanga khas Kepulauan Riau umumnya memiliki motif polos dengan warna yang tidak mencolok seperti hitam atau abu-abu. Warna pakaian dan celana panjang yang digunakan sebagai bawahan lazimnya adalah sama. Baik Kebaya Labuh maupun Teluk Belanga mempunyai kesamaan aksesoris yaitu kain sarung yang dipakai sebatas lutut.

  1. Provinsi Sumatera Utara

pakaian-sumatera-utara
kain ulos (sumber gambar: id.wikipedia.org)

Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi yang memiliki penduduk yang cenderung heterogen. Beragam suku bangsa mendiami wilayah ini dan hidup secara berdampingan, namun suku yang paling mendominasi dan menjadi mayoritas penduduk di daerah ini adalah Suku Batak. Pakaian adat dari daerah Sumatera Utara yang sangat terkenal adalan kain ulos. Dimana kain ulos sendiri juga menjadi ciri khas dan identitas daerah Sumatera Utara di kancah Nasional. Kain ulos dibuat dengan cara ditenun manual dari bahan benang sutra berwarna hitam, merah, dan juga putih. Biasanya kain ulos ini juga dihiasi dengan beberapa motif khas Suku Batak yakni berupa benang emas atau perak. Berdasarkan coraknya, kain ulos terdiri dari beragam jenis antara lain Ulos Mangiring, Ulos Antakantak, Ulos Bintang Maratur, Ulos Bolean, Ulos Pinan Lobu-lobu, Ulos Padang Ursa, dan masih banyak lagi. Masing-masing motif memiliki filosofi dan kegunaan yang berbeda-beda.

  1. Provinsi Sumatera Barat

pakaian-adat-sumatera-barat
baju bundo kanduang (sumber gambar: kaskus.co.id)

Kisah Malin Kundang yang sangat tersohor di Negeri ini sedikit banyak telah mempengaruhi berbagai aspek budaya di tanah Sumatera Barat. Kisah atau dongeng turun temurun dari nenek moyang Suku Minangkabau tersebut memang sangat populer bahkan tak jarang kisahnya diceritakan kembali di layar televisi. Salah satu yang paling jelas adalah masyarakat menjunjung peran seorang ibu dalam adat istiadat setempat. Hal ini juga berpengaruh dalam urusan busana adat daerah. Pakaian adat dari Sumatera Barat disebut dengan busana Bundo Kanduang yang diambil dari nilai filosofis peran seorang ibu dan keluarga dan strata sosial di daerah tersebut. Busana adat ini memiliki keunikan tersendiri yang terletak pada bagian penutup kepalanya. Hiasan kepalanya berbentuk menyerupai tanduk kerbau atau atap rumah gadang. Secara umum pakaian adat Bundo Kanduang memiliki desain yang berbeda-beda dari setiap suku yang ada di Sumatera Barat, namun dalam penggunaanya ada beberapa perlengkapan khusus yaitu tingkuluak, baju batabue, minsie, lambak atau sarung, salempang, dukuah, galang, dan beberapa aksesori lainnya.

  1. Provinsi Riau

baju adat Melayu Riau (sumber gambar: bualbual.com)

Busana adat Riau sangatlah beragam, masyarakat memiliki busana adat masing-masing yang disesuaikan dengan penggunaannya. Untuk keseharian masyarakat Riau menggunakan busana yang cukup sederhana. Masyarakat Riau yang didominasi oleh Suku Melayu terbilang memiliki busana adat yang cukup modern. Pria biasa menggunakan pakaian bernama Baju Kurung Cekak Musang, sedangkan para wanita memiliki 3 jenis baju yang disebut dengan Baju Kebaya Pendek, Baju Kurung Laboh, dan Baju Kurung Tulang Belut. Baju Kurung Cekak Musang biasanya digunakan lengkap bersama dengan kopiah dan kain sarung tenun. Baju ini sendiri terbuat dari jenis kain berkualitas tinggi seperti kain satin atau kain sutra. Sedangkan busana wanita juga terbuat dari kain tenun khas masyarakat Riau. Saat menggunakan baju adat, para wanita akan dilengkapi dengan hiasan berupa sanggul joget yakni sanggul lipat pandan dengan hiasan bunga goyang di bagian atasnya.

  1. Provinsi Aceh

pakaian-adat-aceh
peukayan linto baro (sumber gambar: bandaacehtourism.com)

Pakaian adat Aceh yang biasa digunakan oleh kalangan pria adalah Peukayan Linto Baro. Awalnya, busana ini digunakan untuk menghadiri upacara adat dan kegiatan pemerintahan pada zaman kerajaan islam yakni Samudera Pasai dan Perlak. Pakaian ini terdiri dari tiga bagian penting yang tak terpisahkan yakni bagian atas, tengah, dan bagian bawah. Ada tiga bagian penting dari busana adat yang digunakan oleh laki-laki Aceh diantaranya adalah meukasah, sileuweu, dan meukeutop. Sedangkan pakaian adat yang biasa digunakan oleh kalangan wanita Aceh biasanya didominasi dengan warna-warna cerah. Dibandingkan dengan busana adat laki-laki, busana untuk wanita ini memiliki lebih banyak variasi. Busana adat Aceh yang digunakan oleh para wanita disebut dengan nama Peukuyan Daro Baro yang biasanya busana ini berwarna merah, kuning, ungu, dan hijau. Peukayan Daro Baro dalam penggunaannya memiliki lebih banyak hiasan sebagai pelengkap yang terdiri dari tiga bagian yakni bagian bawah, bagian atas, dan bagian tengah.