Rumah Adat Bali, Tempat Tinggal Mirip Gapura Candi Hindu

Posted on
rumah-adat-bali
Rumah Gapura Candi Bentar (sumber gambar: saktidesain.com)

Gapura Candi Bentar Bali menjadi salah satu wilayah di Tanah Air yang hingga saat ini masih terus mempertahankan kebudayaan lokal daerah tersebut. Sebagai salah satu daerah yang masyarakatnya banyak memeluk agama Hindu tentu saja kebudayaan masyarakat Bali juga lekat dengan sejarah dan nilai-nilai dari ajaran yang menjadi keyakinan mereka. Selain memiliki pesona keindahan alam yang sangat tersohor hingga ke kancah internasional, kearifan lokal masyarakat Bali yang dipegang teguh hingga saat ini menjadi daya tarik bagi banyak wisatawan untuk datang ke pulau yang satu ini.

Bagi kalangan wisatawan yang berkunjung ke daerah yang mendapat julukan sebagai ‘Pulau Dewata’ ini tentu saja akan dimanjakan dengan beberapa keunikan yang dimiliki oleh Bali sebagai destinasi wisata populer. Masyarakat Bali dikenal sangat menjaga kelestarian budaya yang sudah diwariskan oleh para leluhur. Salah satunya terlihat dari rumah adat dari masyarakat Bali yang sampai saat ini masih banyak dijumpai. Meski telah banyak wisatawan asing yang berkunjung, masyarakat Bali tak lantas mengubah gaya rumah menjadi lebih modern. Walaupun dalam beberapa kalangan telah ada yang memodifikasi rumah adat dengan gaya modern, namun masih sangat kental mendapatkan pengaruh dari kebudayaan leluhur.

Secara visual, bangunan rumah adat Bali memiliki kemiripian dengan candi-candi yang ada di Indonesia. Tak heran jika rumah adat Bali ini disebut dengan nama Gapura Candi Bentar. Tidak seperti gaya rumah modern yang bagian rumah menjadi satu kesatuan, rumah adat Bali terbagi ke dalam beberapa bangunan di dalamnya yang memiliki fungsi tersendiri.

Rumah Adat Gapura Candi Bentar

Bangunan Utama

Ada empat bangunan utama dari Gapura Candi Bentar, diantaranya adalah:

  • Angkul-angkul: Bangunan ini menyerupai gapura yang memiliki fungsi sebagai pintu masuk. Namun ada yang menjadi pembeda antara angkul-angkul dengan gapura pada umumnya, dimana bangunan ini memiliki atap di bagian atasnya.
  • Aling-aling: Sama dengan namanya, fungsi dari bangunan ini adalah sebagai pembatas antara angkul-angkul dan pekarangan atau yang biasa disebut dengan tempat suci. Selain itu, aling-aling juga memiliki makna filosofis yakni untuk menghalangi hal-hal negatif yang menerobos masuk ke dalam rumah.
  • Bangunan sanggah: Ini merupakan bangunan suci yang biasanya terletak di sebelah ujung timur laut dari rumah. Fungsi dari bangunan ini tentu saja sebagai tempat sembahyang atau beribadah bagi keluarga besar. Di tempat inilah pemilik rumah biasanya melakukan sembahyang umat Hindu dengan khusyuk.
  • Bale manten: Bangunan ini merupakan sebuah tempat khusus yang diperuntukkan bagi anak perempuan dan kepala keluarga. Bale tersebut berbentuk persegi panjang dan biasa diletakkan di sebelah timur. Di dalam ruangan bale terdapat dua bale yang terdapat di sebelah kanan dan kiri. Dari nama juga sudah bisa ditebak jika ruangan ini digunakan sebagai tempat pasangan pengantin yang baru menikah. Namun tak jarang, bale manten juga dogunakan sebagai tempat penyimpanan barang.

Arsitek yang biasa mengangani rumah adat Bali tentunya memiliki pedoman tersendiri untuk membangun rumah adat tersebut yang tentunya sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat Bali. Misalnya saja berpedoman kepada kosala-kosali sehingga arsitek dapat mendesain rumah adat bali sesuai dengan keinginan orang yang ingin membangunnya. Pembangunan rumah adat Bali biasanya juga terdapat perbedaan dari masyarakat biasa atau kalangan bangsawan. Hal ini tentu saja karena perbedaan ekonomi yang cukup mencolok diantara kedua kelompok masyarakat ini. Masyarakat biasa jika membangun rumah adat cukup dengan menggunakan peci yang terbuat dari tanah liat. Sementara kalangan bangsawan biasanya menggunakan tumpukan bata sebagai pondasi dasar rumah adat tersebut. Begitu juga dengan bagian atapnya yang menggunakan genting sebagai dasar utama untuk menutup alang-alang pada atap rumah.

Desain rumah adat Bali yang sangat unik dan memiliki tata letak yang artistik membuat banyak masyarakat Bali yang masih mendesain rumah layaknya rumah adat para leluhurnya. Sama dengan namanya, Gapura Candi Bentar memiliki keunikan tersendiri dari desain pintu utama untuk masuk ke dalam rumah. Dimana rumah adat ini memiliki bentuk yang sangat besar dan tidak diberikan pembatas. Terdapat ukiran unik yang membuatnya menyerupai candi, bahkan sebagian pagar tembok dari rumah adat Bali ini seakan menunjukkan keberagaman kehidupan masyarakat Bali yang masih kental. Ditambah dengan adanya bangunan singgah yang ada di bagian depan sebagai tempat peribadatan menunjukkan kentalnya masyarakat Bali memegang adat warisan para leluhurnya yang erat dengan falsafah kasta kosala-kosali.

Jika dilihat sekilas pada rumah adat Bali memang terdapat banyak bangunan yang tidak didirikan menjadi satu.  Melainkan dirikan seakan berdiri sendiri dalam sebidang tanah yang kemudian dikelilingi dengan pagar. Memasuki rumah adat Bali, ada banyak ruangan yang memiliki fungsi berbeda.

Fungsi Ruangan

  1. Penginjeng karang

Tempat yang satu ini merupakan area pemujaan khusus bagi mereka yang diyakini menjaga pekarangan rumah. Bagian ini tentu berbeda dengan singgah yang merupakan tempat untuk melakukan sembahyang umat Hindu yang berada di bagian depan rumah. Pemujaan khusus untuk penjaga pekarangan ini biasanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu saja.

  1. Bale gede atau bale adat

Nama atau sebutan ‘bale’ pada rumah adat Bali diambil dari kata ‘balai’ yang biasa diartikan sebagai tempat berkumpul. Ini juga menjadi fungsi dari bale yang di rumah tradisional ini. Bale gede atau bale adat biasa digunakan untuk berkumpulnya keluarga besar bahkan pertemuan dengan para tetua adat untuk merundingkan masalah tertentu.

  1. Bale dauh

Berbeda dengan bale gede atau bale adat, tempat yang disebut dengan bale dauh ini diperuntukkan bagi anak lelaki. Ruangan ini ditempati oleh anak lelaki yang ada di rumah tersebut, namun terkadang bale dauh juga digunakan sebagai tempat kerja atau tempat pertemuan untuk urusan pekerjaan. Jika dalam sebuah keluarga memiliki anak lelaki, biasanya ruangan ini dijadikan sebagai tempat tidur untuk sang putra.

  1. Paon

Mirip dengan masyarakat Jawa, ‘paon’ dalam rumah adat Bali ini juga merupakan tempat memasak atau dapur. Ruangan ini biasanya terletak di belakang rumah adat dan menjadi tempat khusus untuk menyajikan makanan.

  1. Lumbung

Karena pada zaman dahulu banyak masyarakat yang berprofesi sebagai petani tak heran jika pada setiap rumah adat hampir selalu terdapat ruangan yang disebut dengan lumbung. Dalam ruangan ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang. Namun tidak semua barang dapat disimpan di lumbung, melainkan hanya bahan makanan pokok saja yang bisa diletakkan pada ruangan ini. Misalnya saja adalah padi, jagung dan lainnya.

Rumah adat Bali menjadi salah satu simbol yang dimiliki oleh masyarakat setempat yang menyimpan banyak nilai filosofi mulai dari tekstur hingga model rumah adat tersebut. Namun karena dianggap memiliki keunikan dan gaya atau model yang sangat klasik tak jarang banyak masyarakat modern yang mengadopsi model rumah adat Bali sebagai referensi hunian.