Rumah Adat Jambi, Hunian Berkonsep Arsitektur Suku Batin

Posted on
rumah-adat-jambi
rumah adat jambi (sumber gambar: kangapip.com)

Rumah Adat Kajang Leko – Provinsi Jambi merupakan daerah yang letaknya berada di pulau terpanjang di Indonesia, yaitu Sumatera. Wilayah Jambi terbentuk pada abad ke-18 setelah Kerajaan Melayu Jambi muncul yang terletak di pinggiran Sungai Batanghari. Kebiasaan yang ada di daerah ini juga mendapatkan pengaruh dari keberadaan bangsa Melayu. Wilayah Jambi banyak didiami oleh suku Batin, sama dengan suku-suku yang ada di daerah lain suku Batin juga terkenal dengan kebiasaannya untuk mempertahankan adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Salah satu peninggalan nenek moyang suku Batin adalah adanya rumah adat yang sangat khas dari daerah Jambi hingga saat ini.

Rumah tradisional yang menjadi rumah adat dari provinsi Jambi ini disebut dengan nama rumah Kajang Leko. Berdasarkan cerita sejarah, rumah ini berasal dari 60 tumbi atau keluarga yang pindah ke Koto Rayo. Dari segi arsitektur rumah adat ini sangatlah unik, berkat keunikannya ini banyak yang masih mempertahankan bentuk asli dari rumah Kajang Leko hingga saat ini. Rumah adat ini memiliki gaya arsitektur seperti pada rumah adat yang ada di Indonesia lainnya terlebih yang berasal dari Pulau Sumatera.

Banyak sekali rumah adat dari provinsi-provinsi yang ada di Pulau Sumatera menggunakan konsep rumah panggung, begitu juga dengan rumah Kajang Leko. Didesain dengan konsep rumah panggung membuat rumah adat Jambi ini bisa menghindari saat banjir tiba. Selain itu, rumah ini juga didesain khusus yang dapat digunakan untuk menghindari dari serangan musuh seperti binatang buas.

Rumah Adat Kajang Leko

Konstruksi rumah

Rumah ini dikonsep oleh arsitektur dari suku Batin, bentuknya persegi panjang dengan ukuran 12 x 9 meter. Menggunakan konsep rumah panggung, Kajang Leko berdiri dengan ditopang 30 tiang berukuran besar, dimana 24 tiang adalah tiang utama dan sisanya merupakan tiang pelamban. Untuk bisa naik ke rumah adat ini tentu saja dibutuhkan adanya tangga yang menghubungkan dasar tanah ke lantai rumah. Biasanya jumlah tangga yang ada pada rumah tradisional ini adalah dua tangga, yakni di sebelah kanan sebagai tangga utama dan sebelah kiri yang merupakan tangga penteh.

Konstruksi bagian atap rumah Kajang Leko ini terbilang berbeda dengan umunya rumah adat Sumatera. Masyarakat setempat biasa menyebut bagian atap rumag ini dengan sebutan ‘gajah mabuk’. Bubungan atapnya memiliki bentuk seperti perahu dengan ujung atas melengkung dan terbuat dari anyaman ijuk, lengkungan ini disebut ‘potong jerambah’. Bagian dinding rumah adat ini juga sangat cantik karena terbuat dari kayu dengan hiasan ukiran yang khas. Pada bagian langit-langit terdapat material yang disebut tebar layar, yang merupakan plafon yang memisahkan antara ruangan loteng dengan ruangan di bawahnya. Loteng ini sering digunakan sebagai ruang penyimpanan.

Jumlah ruangan

Sama dengan rumah adat lainnya, setiap ruangan yang ada pada rumah Kajang Leko ini juga memiliki fungsi masing-masing. Ruangan ini juga memiliki makna yang khusus berdasarkan kepercayaan masyarakat Jambi. Berikut merupakan ruangan dan fungsi yang ada pada rumah adat Kajang Leko:

  • Pelamban: Bagian bangunan yang berada di sebelah kiri bangunan induk. Lantai pelamban terbuat dari bambu belah yang telah diawetkan. Bambu dipasang dengan jarak untuk mempermudah air mengalir di bawahnya. Ruangan ini dipakai untuk para tamu yang sedang datang berkunjung namun belum mendapatkan izin untuk masuk ke dalam rumah.
  • Ruang gaho: Ruangan ini terletak di ujung sebelah kiri bangunan dan memiliki arah memanjang. Di dalam ruang gaho ini terdapat dapur, ruang tempat air, dan ruang penyimpanan.
  • Masinding: Ruang ini merupakan serambi depan yang digunakan untuk menerima tamu. Ruangan ini biasanya digunakan untuk musyawarah adat, hanya mereka tamu laki-laki saja yang boleh menempati ruangan ini.
  • Ruang tengah: Sesuai namanya, ruangan ini berada di tengah-tengah bangunan. Ruangan ini ditempati oleh perempuan saat pelaksanaan upacara adat.
  • Ruang balik menahan: Bagian ini juga merupakan serambi yang terdiri dari beberapa ruang yakni ruang makan, ruang tidur orang tua, dan ruang tidur anak gadis.
  • Ruang balik melintang: Ruangan ini berada di ujung sebelah kanan bangunan dan menghadap ke ruang tengah dan masinding. Ukuran ruangan ini adalah 2 x 9 meter dan hanya orang-orang tertentu yang bisa menempati ruangan ini.
  • Ruang atas/penteh: Ini merupakan ruangan yang berada di atas bangunan seperti plafon yang menjadi pembatas antara atap dengan bagian bawah. Biasanya masyarakat Jambi menggunakan tempat ini untuk menyimpang barang.
  • Ruang bawah/bauman: Bauman merupakan ruang bawah yang tidak berlantai dan tidak berdinding. Biasanya ruangan ini digunakan untuk memasak saat ada pesta atau kegiatan lainnya.

Ornamen

Rumah adat Kajang Leko memiliki bentuk ornamen yang sangat caantik. Ornamen ini biasanya terdiri dari beberapa motif ragam hias. Ciri khas motif yang digunakan pada rumah adat Kajang Leko ini adalah motif flora dan fauna. Motif flora yang biasa digunakan antara lain bungo tanjung, tampuk manggis, dan bungo jeruk. Motif bungo tanjung biasanya diukir di bagian depan masinding, sedangkan motif bungo jeruk di blandar dan di atas pintu. Motif bunga ini sekaligus menjadi penanda jika di daerah Jambi terdapat banyak tumbuh-tumbuhan, selain itu juga menjadi lambang pentingnya peran hutan bagi masyarakat Jambi.

Untuk motif fauna penduduk Jambi biasanya menggunakan gambar ikan. Memilih ikan sebagai motif fauna pada rumah adat mereka juga memiliki makna tersendiri. Motif fauna menjadi lambang bahwa masyarakat Jambi banyak yang berprofesi sebagai nelayan. Motif fauna biasanya digambar dengan tidak berwarna dan diukir pada bagian bendul gahi serta balik melintang, hiasan berbentuk ikan ini juga dipadukan dengan bentuk-bentuk daun yang dilengkapi dengan bentuk sisik ikan.

Susunan rumah

Rumah adat Kajang Leki di Jambi biasanya dibangun dalam satu kompleks yang berderet memanjang. Bangunan semacam ini dapat ditemui di daerah Rantau Panjang. Rumah-rumah ini dibangun saling berhadapan dengan jarak sekitar 2 meter. Pada bagian belakang rumah biasanya terdapat bangunan khusus untuk menyimpan padi. Masyarakat yang masih menggunakan rumah adat Jambi ini biasanya berada di daerah pedesaan, misalnya saja di daerah Jambi Seberang yakni jalan menuju jembatan Gentala Arasy.

Rumah tradisional khas Jambi ini memiliki arsitektur yang sangat unik dan kaya akan nilai filosofi. Pada dasarnya rumah adat Kajang Leko merupakan rumah panggung yang memiliki desain hunian baru. Rumah ini telah ditetapkan sebagai rumah adat Jambi setelah melewati proses yang cukup panjang. Namun ada beberapa model rumah tradisional lain yang juga berasal dari daerah Jambi diantaranya adalah Rumah Batu Pangeran Wirokusumo dan Rumah Adat Merangin. Rumah adat merangin merupakan salah satu hunian khas suku Batin yang ada di Kabupaten Merangin. Di desa Rantau Panjang masih memiliki 60 buah model rumah tradisional ini yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.