Rumah Adat Jawa Timur, Akulturasi 3 Agama Islam, Hindu, dan Budha

Posted on
rumah-adat-jawa-timur
Rumah Joglo Jawa Timur (sumber gambar: polarumah.com)

Rumah Adat Jawa Timur – Kebudayaan yang ada di setiap daerah selalu memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Ada banyak bentuk dari kebudayaan tersebut mulai dari lagu, pakaian, tradisi, nilai moral hingga rumah adat. Berbicara tentang rumah adat, tentu sudah banyak yang mengetahui bentuk rumah adat dari provinsi Jawa Timur yang dikenal dengan nama rumah joglo. Rumah adat ini berbentuk limas dengan atap yang sangat megah. Sebutan joglo sendiri juga dimaksudkan untuk atapnya yang besar dengan mengadobsi model sebuah gunung.

Pada dasarnya hampir semua rumah adat dari daerah Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur, memiliki bentuk yang mirip. Nama joglo sendiri juga memiliki filosofi layaknya rumah adat joglo asal Jawa Tengah. Joglo dianggap sebagai salah satu bangunan yang merepresentasikan adanya pengaruh dan akulturasi pengaruh agama Islam, Hindu, dan Budha. Joglo dulunya dibangun sebagai salah satu hal yang dapat menunjukkan strata atau status sosial tertentu dalam masyarakat. Biasanya hanya orang yang berasal dari kalangan bangsawan yang memiliki rumah joglo. Tujuannya adalah untuk menerima tamu dengan jumlah besar, namun setelah mengalami perkembangan zaman rumah adat yang satu ini diidentitaskan sebagai rumah yang boleh dimiliki oleh semua orang.

Rumah joglo juga memiliki keunikan tersendiri yang mana pada semua komponen utama pembuatannya didominasi oleh kayu jati. Rumah tradisional masyarakat Jawa Timur ini terdiri dari beberapa macam. Setidaknya ada tiga jenis yang sering digunakan oleh masyarakat diantaranya adalah joglo sinom, joglo pangrawit, dan joglo hageng. Masing-masing daru jenis joglo tersebut memiliki keunikan dan berbeda satu sama lainnya.

Macam Macam Rumah Joglo Jawa Timur

  • Joglo sinom: Ciri khas dari jenis rumah joglo ini memiliki 36 pilar dan 4 saka guru. Konsep dari rumah ini adalah perkembangan dari saka joglo yang menggunakan teras keliling. Masing-masing dari keempat sisi didesain secara tingkat dan bertingkat.
  • Joglo pangrawit: Jenis yang satu ini memiliki ciri khas yang lebih detail dibandingkan dengan joglo sinom, yakni halamannya lebih luas dengan pilar yang lebih banyak. Rumah joglo pangrawit memiliki atap yang menjulang dan mengerucut dengan setiap sudutnya yang memiliki pilar.
  • Joglo hageng: Konsep dari model rumah joglo hageng terbilang lebih rumit dibandingkan dengan dua model lainnya. Jumlah pilarnya juga lebih banyak dibandingkan dengan joglo pangrawit dan halamannya lebih luas. Ukuran ruangannya lebih pendek dengan atap yang tumpul. Rumah ini biasanya dimiliki oleh keluarga yang berpenghasilan besar.

Keunikan rumah adat Jawa Timur ini tak hanya dilihat dari jenisnya yang bermacam-macam, namun masih terdapat keunikan lainnya. Keunikan ini tercermin dari sejumlah bagian yang ada dalam rumah joglo. Pasalnya dalam setiap rumah joglo dibagi ke dalam beberapa bagian yang sarat akan keunikan.

Bagian Bagian Rumah Joglo Jawa Timur

  1. Pendopo yang megah

Pendopo merupakan bagian yang sangat khas dari depan rumah adat Jawa Timur ini. Ditambah dengan halamannya yang sangat luas menambah ciri khas tersendiri dari setiap rumah joglo di Jawa Timur. Pendopo biasanya digunakan sebagai ruang pertemuan dengan warga dalam rangka musyawarah dan berdikusi, misalnya untuk membahas acara adat atau hajatan-hajatan tertentu. Dengan ini, pendopo memiliki banyak fungsi sebagai wujud terdepan rumah adar Jawa Timur. Pendopo sendiri dibangun sangat luas tanpa sekat dan terdapat pilar-pilar penyangga di setiap sisi dan sudutnya. Empat buah pilar utama penyangga yang ada di bagian tengah dinamakan saka guru, yang mewakili keempat arah mata angin yaitu utara, selatan, barat, dan timur. Secara garis besar, bentuk pendopo rumah joglo ini adalah bujur sangkar dengan bahan-bahan berkualitas tinggi yang digunakan pada bagian atap rumah.

  1. Pringgitan

Bagian ini terletak diantara pendopo dan omah jero (rumah dalam) dan difungsikan sebagai jalan masuk pada rumah bagian dalam. Wujud pringgitan sendiri terlihat layaknya serambi yang berbentuk tiga persegi. Serambi-serambi tersebut dubangun mengarah ke bangunan pendopo dan menjadi komponen tersendiri yang dapat menarik tamu yang sedang berkunjung. Lorong pringgitan juga kerap digunakan sebagai tempat pertunjukkan wayang kulit.

  1. Emperan

Pengertian dan fungsi bagian yang satu ini sama dengan namanya. Dalam bahasa Jawa ‘emperan’ merupakan sebutan untuk teras yang kerap digunakan untuk bersantai. Selain itu, emperan juga difungsikan sebagai tempat untuk menerima tamu dan kegiatan lainnya. Biasanya dalam bagian emperan terdapat sepasang kuris kayu dan meja. Lebar emperan yang dimiliki setiap rumah joglo berkisar antara 2 meter saja.

  1. Omah njero

Ruangan ini menjadi salah satu ruangan privasi dari rumah joglo. Omah njero atau rumah dalam merupakan khusus di bagian dalam sebagai tempat bersantai bagi keluarga. Karena bersifat privasi, tidak semua tamu diperbolehkan masuk ke ruangan ini. Pada ruangan ini juga dilengkapi dengan penyekat atau pembatas antar ruangan berupa papan kayu. Penampilannya sangat unik karena ada banyak kursi dan atribut lain yang menghiasi ruangan ini. Bagian ini sekaligus menjadi akses jalan masuk menuju senthong (kamar utama).

  1. Senthong

Pada rumah joglo khas Jawa Timur biasanya ada tiga senthong yang dibedakan berdasarkan letaknya yakni senthong kiwa (kiri), senthong tengen (kanan), dan senthong tengah. Fungsi dari ketiga kamar ini berbeda-beda. Senthong kiwa terdiri dari berbagai macam ruangan yang dapat difungsikan sebagai kamar tidur, gudang atau tempat menyimpan persediaan makana. Desain ruangan-ruangan senthong kiwa lebih menarik karena biasa difungsikan sebagai kamar pribadi. Sedangkan untuk senthong tengen atau yang terletak di wilayah ruangan sebelah kanan juga bisa difungsikan sebagai kamar tidur. Namun ada pula yang menjadikan senthong bagian kanan sebagai gudang dan tempat menyimpan persediaan makanan. Terakhir adalah senthong tengah terletak di wilayah ruangan bagian tengah dalam. Sebutan senthong tengah juga diartikan lain sebagai pedaringan, boma atau krobongan.  Letak ruangan ini berada jauh di dalam rumah dan berjarak sangat dari pringgitan. Senthong tengah difungsikan sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga seperti keris, emas dan harta berharga lainnya. Lantaran ini, banyak yang menyebut jika senthong tengah ini merupakan wilayah sakral karena erat digunakan untuk menyimpan benda pusaka. Ruangan yang dianggap sakral dalam keyakinan masyarakat Jawa biasanya harus mendapatkan penerangan yang cukup baik di malam maupun siang hari. Selain itu juga diberi beberapa pelengkap seperti kasur, cermin, bantal, dan sisir rambut yang dibuat dari bahan berupa tanduk.

  1. Gandhok

Dalam bahasan modern ruangan ini disebut sebagai gudang. Gandhok terdiri dari dua bagian yakni gandhok kiwa (kiri) dan gandhok tengen (kanan) yang tersebar di belakang rumah. Gudang pada rumah tradisional Jawa Timur ini didesain dengan unsur Jawa yang sangat melekat pada tiang dan atapnya. Gandhok pada umumnya difungsikan sebagai gudang tempat menyimpan barang atau lumbung tempat menyimpan bahan makanan pokok seperti padi, jagung, dan lainnya.

Sama dengan daerah lainnya, rumah ada Jawa Timur ini juga memiliki nilai filosofis yang sangat kental dalam setiap bagian dan ruangannya. Joglo juga menjadi salah satu ciri khas yang tak bisa dilepaskan dari sejarah bangsa Indonesia yang diwariskan secara turun-temurun. Namun di zaman modern seperti sekarang ini, budaya membangun rumah adat di Jawa Timur sudah kian berkurang. Apalagi dengan masuknya budaya luar seperti Eropa dan Arab yang kemudian mempengaruhi desain penduduk Jawa Timur untuk membangun rumah unik berdesain modern. Rumah adat yang biasa membutuhkan banyak lahan juga menjadi salah satu alasan penduduk setempat untuk memilih desain modern yang lebih minimalis.