Rumah Adat Kalimantan Selatan, Penjelasan Lengkap dan Gambarnya

Posted on
rumah-adat-kalimantan-selatan
rumah bubungan tinggi (sumber gambar: indonesiakaya.com)

Rumah Bubungan Tinggi – Masing-masing rumah adat dari setiap daerah memiliki ciri khas dan keunikan sendiri-sendiri. Hal ini juga menambah kekayaan budaya yang ada di Indonesia. Tak dipungkiri juga rumah adat yang cukup menarik adalah milik daerah Kalimantan Selatan. Provinsi dengan ibu kota Palangkaraya ini memiliki luas wilayah 2.400 kilometer persegi dengan penduduk sebanyak 376.647 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 92.067 jiwa tiap kilometer persegi. Meski berada di Pulau yang terkenal dengan cuaca panas karena berada di daerah lintasan garis Khatulistiwa, namun tak menutup banyaknya kunjungan wisatawan ke daerah tersebut.

Ada beberapa wisata yang bisa dikungjungi di Kalimantan Selatan diantaranya adalah Taman Nasional Palangkaraya dan Kalawa Watepark. Selain itu, ada juga salah satu destinasi wisata di daerah Kalimantan Selatan yang cukup populer yakni rumah adat. Banyak wisatawan yang memilih untuk berkunjung ke salah satu situs budaya di Kalimantan Selatan ini. Keberadaan rumah adat di provinsi ini menjadi salah satu daya tarik yang dapat membantu lonjakan jumlah turis atau wisatawan. Rumah adat yang ada di Kalimantan Selatan pada dasarnya memiliki bentuk yang cukup beragam.

Rumah Adat Kalimantan Selatan

Rumah Bubungan Tinggi

rumah-adat-kalimantan-selatan
rumah bubungan tinggi (sumber gambar: indonesiakaya.com)

Rumah bubungan tinggi merupakan salah satu rumah adat yang ada di daerah Kalimantan Selatan. Sama dengan namanya, rumah tradisional ini memiliki atap yang menjulang tinggi. Pada awalnya rumah ini merupakan tempat tinggal kesultanan Kalimantan Selatan. Seiring berjalannya waktu, banyak rumah warga yang meniru gaya bangunan tersebut. Meski pada awalnya rumah ini merupakan tempat tinggal untuk kesultanan, kini rumah bubungan tinggi difungsikan sebagai rumah penduduk di daerah Banjar. Jenis rumah ini sangatlah terkenal karena menjadi maskot rumah adat khas provinsi Kalimantan Selatan.

Rumah adat bubungan tinggi dibangun dengan konstruksi panggung dan memiliki anjung pada kiri dan kanan bangunannya. Ciri-ciri rumah adat ini adalah atapnya berbentuk sindang langit, jumlah tangga naik selalu ganjil, dan pamedangan diberi lapangan dengan kandang rasi berukir. Bahan utama pembangunan rumah adat ini adalah kayu. Sementara pada bagian konstruksi pokok pada rumah adat Banjar ini diantaranya adalah:

  1. Tubuh bangunan yang memanjang lurus ke depan disebut dengan bangunan induk.
  2. Bangunan yang menempel di kiri dan kanan disebut anjung.
  3. Bubungan atap yang tinggi melancip disebut bubungan tinggi.
  4. Bubungan atap sengkuap yang memanjang ke dan disebut atap sidang langit.
  5. Bubungan atap yang memanjang ke belakang disebut hambin awan.

Ukuran rumah bubungan tinggi juga berbeda-beda, hal ini disebabkan karena ukuran pada waktu itu hanya berdasarkan ukuran depa atau jengkal. Ada kepercayaan bahwa setiap hitungan haruslah ganjil. Tata ruang rumah tradisional ini terdiri dari ruang terbuka, setengah terbuka dan ruang dalam. Ruang terbuka terdiri dari palataran atau serambi, ruang setengah terbuka diberi pagar rasi disebut lapangan pamedangan, sedangkan ruangan dalam dibagi menjadi pacira, paluaran, dan paledangan.

Rumah Ba’anjung Gajah Baliku

rumah-adat-kalimantan-selatan
rumah gajah baliku (sumber gambar: budaya-indonesia.org)

Rumah adat dari provinsi Kalimantan Selatan ini merupakan rumah tradisional dari suku Banjar. Pada zaman Kesultanan Banjar, rumah adat ini digunakan sebagai tempat tinggal Warit Raja yang merupakan sebutan bagi para keturuan garis utama atau bubuhan para Gusti. Jadi rumah ini hanya dihuni oleh para calon pengganti Sultan jika terjadi sesuatu terhadap Sultan yang tengah berkuasa. Rumah tradisional ini pada dasarnya memiliki model yang mirip dengan rumah bubungan tinggi, namun ada yang sedikit membedakannya yakni pada ruang paluara atau ruang tamu. Atap rumah pada ba’anjung gajah baliku ini menggunakan konstruksi kuda-kuda dengan atap perisai yang disebut dengan atap gajah. Kondisi lantai ruangan didesain datar saja sehingga menghasilkan bentuk ruang yang dinamakan dengan ambin sayup. Sementara itu pada kedua anjung sama-sama memakai atai pisang sasikat atau atap sengkuap.

Rumah Gajah Manyusu

rumah-adat-kalimantan-selatan
rumah gajah manyusu (sumber gambar: id.wikipedia.org)

Rumah adat dari Kalimantan Selatan berikutnya adalah rumah gajah manyusu. Rumah ini memiliki ciri pada bentuk atap limas dengan hidung bapicik atau atap mansart di bagian depan. Anjung pada rumah adat ini memilik atap pisang sasikat dan pada surambinya beratap sindang langit. Dahulu bangunan induk rumah adat gajah manyusu ini memiliki konstruksi berbentuk segi empat yang memanjang dari depan ke belakang, yang mana pada bagian depan ditutupi dengan atap perisai buntung yang dalam bahasa Banjar disebut dengan atap hidung bapicik. Atap perisai buntung ini menutupi mulai ruang surambi pamedangan hingga ruang-ruang yang ada di belakangnya.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, rumah yang pada dasarnya berbentuk segi empat ini mendapatkan tambahan ruangan pada salah satu sisi bangunan entah itu bagian bagian samping kanan ataupun kiri  bangunan. Kedua ruangan ini berukuran sama panjang, penambahan ini dalam bahasa Banjar disebut disumbi. Ruang tambahan ini disebut dengan istilah anjung.

Rumah Tadah Alas

rumah-adat-kalimantan-selatan
rumah tadah alas (sumber gambar: kanalkalimantan.com)

Rumah tradisional ini pada dasarnya juga bentuk rumah adat dari suku Banjar yang ada di Kalimantan Selatan. Rumah tadah alas merupakan pengembangan dari rumah balai bini yakni dengan menambahkan satu lapis atap perisai sebagai kanopi paling depan. Atap kanopi inilah yang disebut dengan ‘tadah alas’ sehingga rumah ini dinamakan dengan istilah tersebut. Awalnya, tubuh bangunan induk rumah adat ini memiliki konstruksi segi empat yang memanjang dari depan ke belakang. Bagian depannya ditutupi dengan atau perisai atau dalam bahasa Banjar disebut dengan istilah atap gajah. Rumah tadah alas ini memiliki dua buah anjung secara simetris yang dinamakan dengan ba’anjung dua. Kedua ruangan atau anjung ini ditutup dengan atap sengkuap pisang sasikat. Dalam perkembangannya, di belakang anjung biasanya disambung dengan atap jurai luar yang menjadikan pada ruangan ini bisa terbagi lagi ke dalam beberapa ruang.

Rumah Palimbangan

rumah-adat-kalimantan-selatan.
rumah palimbangan (sumber gambar: disbudpar.banjarkab.go.id)

Rumah adat yang satu ini juga sudah dikenal sejak zaman Kesultanan Banjar sebagai hunian para tokoh agama Islam dan para alim ulama. Bumbungan atap rumah palimbangan memakai atap pelana dengan tebar layar yang disebut tawing layar. Kebanyakan rumah ini tidak menggunakan anjung, biasanya rumah palimbangan berukuran lebih besar dibandingkan dengan rumah balai laki. Fungsi rumah palimbangan ini diperuntukkan bagi golongan saudagar besar.

Meski ada banyak nama-nama rumah adat dari Kalimantan Selatan, namun pada dasarnya antara satu dan lainnya hanya memiliki perbedaa-perbedaan kecil. Semuanya masih memiliki keterikatan dengan nilai tradisional masyarakat Kalimantan Selatan utamanya suku Banjar yang menjadi etnis paling banyak menghuni kawasan ini. Pada dasarnya rumah adat ini dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan fungsi dan adaptasi terhadap lingkungan. Meskipun demikian, seiring dengan perkembangan zaman kini banyak rumah tradisional di Kalimantan Selatan yang sudah mendapatkan sentuhan gaya modern. Sehingga tak heran jika rumah adat Kalimantan Selatan kini hanya bisa dijadikan sebagai cagar budaya atau museum karena banyak warga asli Banjar yang memilih membangun rumah dengan model bangunan modern yang sederhana namun tetap nyaman.