Rumah Adat Kalimantan Tengah, Rumah Panjang Ciri Khas Suku Dayak

Posted on
rumah-adat-kalimantan-tengah
rumah betang (sumber gambar: situsbudaya.id)

Rumah Betang – Bentuk dan arsitektur dari setiap rumah adat yang ada di Indonesia tentu memiliki ciri khas masing-masing, sebut saja bentuk rumah adat yang ada di pulau Kalimantan. Terbagi ke dalam beberapa wilayah, setiap provinsi yang ada di pulau Kalimantan juga memiliki bentuk dan ciri khas rumah adat yang bermacam-macam. Jika rumah adat Kalimantan Barat adalah rumah panjang, Kalimantan Utara adalah rumah baloy, Kalimantan Timur adalah rumah lamin, dan Kalimantan Selatan memiliki rumah banjar, beda lagi dengan rumah adat dari provinsi Kalimantan Tengah.

Rumah adat dari provinsi Kalimantan Tengah terdiri dari beberapa jenis dipengaruhi dengan banyaknya suku serta kebudayaan yang berbeda dari setiap daerah yang ada di Kalimantan Tengah. Namun pada dasarnya, rumah adat dari provinsi Kalimantan Tengah yang sangat terkenal adalah rumah betang. Rumah adat betang sebenarnya merupakan budaya suku Dayak yang banyak menempati provinsi Kalimantan Tengah. Rumah adat ini bagi suku Dayak tidak hanya sekedar tempat tinggal, namun juga memiliki fungsi lain dan nilai adat yang tinggi. Rumah betang selalu berbentuk panggung dengan panjang yang sesuai dengan namanya.

Karena ukuran rumah adat ini yang cukup besar, sehingga memungkinkan lebih dari 150 jiwa dapat berada di satu atap. Tujuan lain dari rumah betang yang mampu dihuni 5 hingga 30 kepala keluarga ini adalah untuk memudahkan mereka dalam hal komunikasi, saling melindungi, dan membantu dalam hal apapun termasuk masalah pekerjaan dan ekonomi. Pada umumnya, rumah betang dibangun dengan bagian hulu menghadap ke timur dan hilirnya menghadap barat. Hulu yang menghadap timur memiliki nilai filosofi kerja keras yakni bekerja sedini mungki, sementara hilir yang menghadap ke barat atau matahari terbenam memiliki nilai filosofi tidak akan pulang atau berhenti bekerja sebelum matahari tenggelam. Berikut adalah ciri-ciri rumah betang yang menjadi ciri khas dari suku Dayak di wilayah Kalimantan Tengah:

  1. Tinggi rumah dari tanah antara 3-5 meter.
  2. Panjang mulai dari 30-150 meter dan lebar sekitar 30 meter.
  3. Dinding rumah terbuat dari kayu yang dipotong model jengki dengan atap pelana memanjang.
  4. Ada pembagian ruangan tersendiri, diantaranya adalah:
  • Sado: Pelataran yang menjadi jalur lalu-lalang para penghuni rumah sekaligus menjadi tempat untuk melakukan aktivitas. Di ruangan ini biasanya terjadi musyawarah adat, tempat menganyam, tempat menumbuk padi dan lain-lain.
  • Padong: Ruangan keluarga berdimensi antara 4×6 meter. Biasanya masing-masing kepala keluarga memiliki satu padong yang digunakan untuk berkumpul makan, minum, menerima tamu dan lain-lain.
  • Bilik: Ruangan ini difungsikan sebagai tempat tidur. Bilik hanya dipisahkan dengan kelambu saja, baik bilik suami istri, anak laki-laki maupun anak perempuan.
  • Dapur: Sama dengan fungsi dapur pada rumah-rumah modern, dapur juga digunakan sebagai tempat untuk memasak dan biasanya diletakkan pada bagian belakang.
  1. Memiliki 1 tangga yang dinamakan hejot dan satu pintu masuk. Biasanya terdapat sebuah patung yang dinamakan rancak yang diletakkan di dekat pintu masuk. Patung ini merupakan patung persembahan kepada nenek moyang penduduk setempat. Sebelum diletakkan di depan pintu biasanya rancak ini telah melalui beberapa proses upacara adat.
  2. Dinding dan tiangnya memiliki ukiran yang mengandung falsafah hidup suku Dayak.

Rumah adat betang yang ada di Kalimantan Tengah sendiri tidak hanya satu, namun terdiri dari beberapa jenis. Berikut adalah klasifikasi rumah betang yang ada di Kalimantan Tengah:

Jenis Rumah Betang Kalimantan Tengah

Rumah Betang Muara Mea

rumah-adat-kalimantan-tengah
rumah betang muara mea (sumber gambar: situsbudaya.id)

Rumah adat dari provinsi Kalimantan Tengah yang pertama adalah rumah betang muara mea. Rumah adat ini bisa dijumpai di Gunung Purei, Kabupaten Barito Utara. Pemerintah memang sengaja membangun rumah adat ini dengan tujuan untuk melestarikan budaya. Bonusnya adalah rumah adat ini kini menjadi salah satu destinasi wisata yang ada di Desa Muara Mea. Rumah adat ini sebenarnya adalah rumah adat suku Dayak yang masih terlihat sangat alami, walaupun dari segi bentuk dan arsitekturnya masih sangat sederhana tetapi nilai budaya rumah ini harus tetap dilestarikan. Rumah betang muara mea ini menjadi salah satu dari beberapa jenis rumah betang Kalimantan Tengah yang bisa dilihat hingga sekarang.

Rumah Betang Tambaba

rumah-adat-kalimantan-tengah
rumah betang tambaba (sumber gambar: situsbudaya.id)

Rumah adat yang satu ini menjadi salah satu cagar budaya di Kalimantan Tengah yang dibangun dengan material kayu ulin dengan struktur khas yang sesuai dengan kepercayaan suku Dayak.

Rumah Betang Toyoi

rumah-adat-kalimantan-tengah
rumah betang toyoi (sumber gambar: destinasipariwisata.com)

Rumah betang toyoi bisa dilihat di Desa Tumbang Malahoi. Rumah betang ini diberinama sesuai dengan pendirinya yakni Toyoi Panji. Material bangunan rumah betang toyoi ini juga menggunakan kayu ulin yang kabarnya sudah berusia 150 tahun. Saat berkunjung ke rumah betang ini, tamu akan disambut dengan upacara adat bernama Tapung Tawar yang dipercaya bisa mengusir roh jahat sebelum memasuki rumah betang tersebut. Rumah betang toyoi ini sudah beberapa kali mengalami pemugaran, namun keaslian dari rumah ini masih terus dipertahankan.

Rumah Betang Damang Batu

rumah-adat-kalimantan-tengah
rumah betang damang batu (sumber gambar: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

rumah adat ini bisa dijumpai di wilayah Desa Tumbang Anoi, Kecamatan Kahayan Hulu Utara, Gunung Mas. Karakterisrik rumah adat ini sebenarnya sama dengan rumah betang lainnya yang menghadap ke Sungai Kahayan. Rumah adat betang damang batu dibangun oleh Tamanggung Runjang seorang penduduk Tewah pada tahun 1868.

Rumah Betang Desa Tumbang Bukoi

rumah-adat-kalimantan-tengah
rumah betang tumbang bukoi (sumber gambar: wisatasia.com)

Rumah betang yang satu ini pada dasarnya sudah mengalami pemugaran atau dibangun kembali, namun upaya pemugaran dilakukan dengan tidak meninggalkan ciri khas dan keaslian dari rumah adat betang yang ada di Desa Tumbang Bukoi ini. Material yang digunakan juga masih menggunakan kayu ulin dengan tujuan agar pengunjung yang mendatangi rumah adat ini bisa mengetahui ciri khas dari suku Dayak.

Rumah Betang Sei Pasah

rumah-adat-kalimantan-tengah
rumah betang sei pasah (sumber gambar: youtube.com)

Rumah adat ini sebelumnya dimiliki oleh Talining E Toepak. Namun karena sudah usang dan bentuknya yang hampir roboh rumah betang sei pasah ini juga mengalami pemugaran. Karena keterbatasan kayu ulin, rumah ini dibangun dengan gaya yang lebih modern dengan menggunakan material yang lebih mudah dijumpai saat ini. Meski demikian, nuansa khas suku Dayak masih sangat terasa di rumah adat yang berada di Desa Sei Pasah, Kapuas Hilir ini. Pada bagian belakang rumah terdapat kuburan atau sanding, ini merupakan kepercayaan agama Kaharingan dimana tulang manusia akan dikumpulkan dan diletakkan di sana. Selain itu, ada juga patung penjaga di bagian depan untuk menjaga rumah adat yang kini sudah difungsikan sebagai museum. Hal ini dipercaya bisa menjaga benda adat dan bersejarah dari suku asli Kalimantan yakni suku Dayak yang banyak disimpan di dalamnya. Menurut keterangan, patung penjaga yang asli sebenarnya sudah dicuri oleh kolektor benda bersejarah sehingga yang ada saat ini hanyalah tiruannya saja. Bahkan beberapa tulang belulang manusia yang ada di sana juga banyak yang telah hilang.

Rumah Betang Pasir Panjang

rumah-adat-kalimantan-tengah
rumah betang pasir panjang (sumber gambar: silontong.com)

Rumah betang yang satu ini berada di daerah Pangkalan Bun yakni ibu kota Kabupaten Kotawaringin Barat. Rumah adat ini sama sekali belum mengalami pemugaran sehingga apa saja yang ada di sana masih sangat asli mulai dari material yang digunakan hingga struktur yang ada di rumah tersebut.

Selain itu ada juga rumah adat huma gantung yang menjadi tempat tinggal suku Dayak pada masa lampau. Huma gantung berbeda dengan rumah betang baik dari segi luas maupun bangunannya. Rumah adat huma gantung tidak terlalu besar dan dihuni oleh beberapa keluarga secara turun temurun. Rumah adat huma gantung ini masih dapat ditemui di beberapa wilayah seperti di Desa Buntoi, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Kapuas.