Rumah Adat Papua, Desain Kerucut Beratap Jerami

Posted on
rumah-adat-papua
Rumah Adat Honai Papua (sumber gambar: polarumah.com)

Rumah Adat Papua – Banyaknya suku, agama, budaya dan ras yang ada di Indonesia tentu saja menambah keberagaman yang ada di tengah masyarakat. Setiap suku bahkan memiliki keunikan dan tradisi tersendiri, bahkan bangunan rumah adat dari setiap daerah juga berbeda-beda. Meski kini hampir di seluruh wilayah Tanah Air bangunan rumah yang ada sudah dimodifikasi dengan gaya yang lebih modern, namun tak jarang beberapa wilayah masih ada yang mempertahankan gaya rumah adat mereka. Salah satu rumah adat yang memiliki bentuk cukup unik misalnya adalah rumah adat dari Papua. Baik wilayah Papua maupun Papua Barat sama-sama menyebut nama rumah adat mereka dengan sebutan Honai.

Secara morfologis, Honai berasal dari dua kata yakni ‘Hun’ yang artinya pria dewasa dan ‘Ai’ yang berarti rumah. Sedangkan dari segi harafiah Honai berarti rumah laki-laki dewasa. Namun istilah ini tentu saja tidak berarti jika yang menempati rumah Honai hanyalah kaum laki-laki dewasa saja. Pasalnya kaum perempuan juga memiliki Honai hanya saja dalam pengistilahan yang berbeda. Honai untuk para perempuan disebut dengan Ebei. Maknanya sama dengan honai, ‘Ebe’ berarti tubuh dalam pengertian kehadiran tubuh dan ‘Ai’ yang berarti rumah.

Rumah Adat Papua

Rumah Honai

rumah-adat-papua
Rumah Honai (sumber gambar: superadventure.co.id)

Rumah adat Papua yang disebut Honai ini terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut, bagian atapnya ditutupi dengan jerami atau ilalang. Bentuknya yang sangat kecil menjadi ciri khas dari rumah adat yang satu ini, tujuannya dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela adalah untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua. Rumah ini biasanya dibangun dengan tinggi 2,5 meter dan pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun. Pasalnya di kawasan Papua cenderung mempunyai hawa dingin sehingga banyak penduduk yang menyalakan api unggun dengan tujuan menghangatkan diri. Rumah Honai terbagi menjadi tiga model yakni Hanoi untuk kaum laki-laki, Ebei untuk kaum perempuan, dan Wamai yang diperuntukkan sebagai kandang babi.

Honai sendiri sudah sejak lama dikenal di Kabupaten Jayawijaya bagi suku Dani dan beberapa suku yang mendiami wilayah pegunungan tengah Papua. Dilihat dari hal ini tentu saja desain dari Honai memang dikhususkan sebagai rumah yang berfungsi untuk melindungi diri dari hawa dingin. Bahkan sampai dengan saat ini masih banyak ditemui bangunan rumah Honai yang memang sudah dibangun secara turun temurun dengan tradisi dan kondisi setempat. Atap rumah Honai ini berbentuk kerucut atau kubah (dome), dimana material yang digunakan adalah alang-alang atau jerami. Honai biasanya memiliki luas 5 meter sampai 7 meter persegi, sedangkan Honai yang dihuni oleh para perempuan biasanya dibangun lebih pendek. Material lain yang digunakan untuk membangun Hanoi diantaranya adalah tali hutan (akar), papan, dan kayu untuk tiang. Rumah Honai ini juga memiliki fungsi yang berbeda diantaranya adalah:

  • Honai (untuk laki-laki): Rumah adat utama yang dihuni oleh para laki-laki ini biasanya digunakan untuk merumuskan perang dan pesta adat. Penduduk laki-laki biasanya melakukan diskusi perihal masalah tersebut di ruang bawah. Tak hanya itu, Hanoi untuk kaum laki-laki ini biasanya juga digunakan untuk berdemokrasi, berdebat dan berdialog mengenai kehidupan ekonomi, keamanan daerah, pengalaman dan kesinambungan hidup. Honai bagian bawah juga digunakan sebagai tempat untuk menyimpan harta. Bagi suku Dani, Honai bagian bawah digunakan untuk menyimpan mumi. Hanoi juga menjadi tempat pendidikan khusus bagi laki-laki yang beranjak dewasa untuk diajarkan banyak hal yang diajarkan tentang kehidupan.
  • Ebai: Rumah adat untuk kaum perempuan ini juga berfungsi untuk melakukan proses pendidikan bagi kaum perempuan yang beranjak dewasa. Di dalam Ebai biasanya dibuat tinggal oleh ibu dan anak-anak baik laki-laki maupun perempuan. Dari sinilah sang ibu memberikan pelajaran tentang hal-hal yang akan dihadapi oleh anak perempuannya saat dewasa termasuk untuk urusan menikah. Bagi anak laki-laki akan tinggal di Ebai sementara waktu, ketika nanti sudah dewasa tentu akan langsung pindah ke Honai khusus laki-laki dewasa.

Sementara itu, Wamai atau kandang babi diperuntukkan bagi hewan ternak yang dipelihara oleh penduduk Papua. Honai secara umum merupakan rumah yang memiliki banyak fungsi meski dibeda-bedakan berdasarkan penghuninya yakni perempuan dan laki-laki. Namun secara umum rumah adat ini juga memiliki selain sebagai tempat tinggal dan tempat pendidikan khusus. Penduduk Papua biasanya menggunakan Honai sebagai tempat penyimpanan baik untuk peralatan berburu dan juga berperang. Bahkan Honai juga dijadikan sebagai salah satu tempat untuk menyimpan segala sesuatu yang merupakan simbol berharga secara suku dan adat. Hal inilah yang membuat Honai sangat berharga bagi suku Dani, bahkan hingga saat ini semua peralatan ini masih tersimpan dengan baik.

Dalam suku Dani, anak laki-laki memiliki peran yang sangat penting yaitu mendapatkan penggemblengan tentang kehidupan di dalam Honai. Para laki-laki di suku Dani memang disiapkan untuk mampu melindungi dan menjadi pemimpin suku saat sudah dewasa nanti. Pembelajaran tentang perang dan berburu juga sangat penting bagi mereka. Tujuannya adalah agar kelompok atau suku mereka senantiasa bisa bertahan hidup dan sejahtera.

Bagi suku-suku yang masih memegang teguh tentang kebudayaan adat dan tertutup dengan adanya modernisasi tak pelak nantinya bisa saling bertikai dan berperang. Keributan antar suku sampai saat ini bahkan masih sering terjadi di kawasan Indonesia Bagian Timur ini. Di dalam Honai inilah dirundingkan tentang strategi yang akan digunakan saat akan berperang. Rumah adat Papua ini dianggap sebagai tempat terbaik untuk menyusun strategi perang, dalam penyusunan strategi tentu saja akan melibatkan kaum laki-laki dewasa yang sudah siap baik secara fisik maupun mental jika mengharuskan perang dalam keadaan yang mendesak.

Filosofi Rumah Honai

rumah-adat-papua
Rumah Adat Honai Papua (sumber gambar: polarumah.com)

Rumah adat bagi setiap penduduk atau suku tentu saja memiliki makna dan filosifi tersendiri. Bagi suku Dani, Honai juga dianggap tak hanya sebagai rumah tempat tinggal namun memiliki makna penting bagi kehidupan mereka. Penduduk Papua menganggap rumah Honai merupakan sebuah simbol dalam kehidupan, diantaranya adalah:

Pemersatu kelompok – Rumah adat Papua yang berbentuk bulat dan melingkar ini merupakan sebuah bentuk yang menjadikan suku Dani dapat bersatu satu sama lain.

Lambang kesatuan – Tak hanya sebagai pemersatu, hanoi juga menjadi dasar bagi suku Dani agar senantiasa memiliki tujuan dan pemikiran yang sama dalam pekerjaan sehari-hari.

Status harga diri – Bagi suku Dani, martabat dan harga diri merupakan suatu hal yang sangat penting dan hal ini tercermin dari rumah adat Papua. Rumah Honai dapat memperlihatkan seperti apa martabat dari suku mereka.

Meski hampir di seluruh tanah Papua mendirikan rumah yang disebut dengan nama Honai, ada salah satu suku yang memiliki gaya rumah tersendiri. Yaitu suku Arfak di Papua Barat yang memiliki rumah dengan sebutan Mod Aki Aksa yang berarti rumah kaki seribu. Rumah khas suku Arfak ini terdiri dari satu lantai dengan atan yang terbuat dari daun-daun sagu atau jerami. Ciri khas dari rumah ini adalah desainnya yang berbentuk kerucut serta memiliki pintu yang sangat kecil. Lantai rumah ini disangga oleh tiang pilar penyangga sehingga membuatnya hampir mirip dengan rumah panggung. Desain rumah ini jika dilihat sekilas seperti tanpa model dan hanya memiliki dua buah pintu pada bagian depan dan belakang. Sama dengan julukannya yakni rumah kaki seribu, Mod Aki Aksa dibangun dengan banyak tiang penyangga di bagian bawah rumah.