Rumah Adat Sumatera Utara, Gambaran Keberagaman Etnis Setempat

Posted on
rumah-adat-sumatera-utara
Rumah Adat Bolon Sumatera Utara (sumber gambar: t-knits.blogspot.com)

Rumah Adat Karo Sumatera Utara (Sumut) merupakan salah satu provinsi yang ada di Pulau Sumatera. Provinsi yang satu ini dikenal dengan sejumlah suku yang bermukim di sana. Bicara soal Sumatera Utara, tentu saja tak lepas dari peran suku-suku yang sampai saat ini masih cukup eksis. Diantaranya adalah suku Batak, Melayu, Karo, Simalungun, Pakpak, dan Mandailing. Kesemuanya suku tersebut memiliki ciri khas tersendiri di berbagai aspek kehidupan. Tak hanya nilai sosial yang berbeda, namun juga rumah adat dari semua suku tersebut memiliki bentuk yang khas dan unik.

Keberadaan suku-suku tersebut tak hanya menambah khazanah kebudayaan yang ada di Indonesia, namun saat ini juga memiliki peran yang sangat penting pada berbagai bidang dan sisi kehidupan, misalnya saja untuk mengisi berbagai posisi baik di pemerintahan maupun swasta. Berbicara tentang rumah adat, ini merupakan salah satu kekhasan dari setiap daerah yang memiliki bentuk dan sebutan berbeda-beda. Tak hanya itu di setiap daerah rumah adat biasanya juga memiliki sejarah, fungsi, posisi hingga nilai yang terkandung di dalamnya. Di kawasan Sumatera Utara ada 7 rumah adat yang berasal dari daerah-daerah di sana.

Macam-Macam Rumah Adat Di Sumatera Utara

  1. Rumah Adat Bolon

rumah-adat-sumatera-utara
Rumah Adat Bolon Sumatera Utara (sumber gambar: t-knits.blogspot.com)

Rumah adat yang satu ini dikenal pula dengan sebutan Rumah Balai Batak Toba. Bahkan secara Nasional sudah diakui sebagai perwakilan rumah adat dari provinsi Sumatera Utara. Jika dilihat dari bentuknya, rumah adat ini berbentuk persegi panjang dan termasuk dalam kategori rumah panggung. Hampir keseluruhan bangunannya terbuat dari bahan alam. Biasanya rumah panggung ini dihuni oleh 4-6 keluarga secara bersama-sama. Rumah ini dibangunnya model rumah panggung adat bolon adalah setiap rumah memiliki kolong rumah. Nantinya kolong rumah ini dapat digunakan sebagai kandang hewan yang dipelihara oleh masyarakat Batak. Masyarakat biasanya mempelihara beberapa hewan seperti ayam, babi, dan kambing.

Rumah ini terbagi dalam dua bagian yakni parsakitan dan jabu bolon. Berdasarkan fungsi, jabu parsakitan merupakan tempat untuk menyimpan barang namun ada juga yang menjadikannya sebagai tempat untuk membicarakan terkait dengan hal-hal adat. Sedangkan untuk jabu bolon sendiri merupakan rumah keluarga besar. Dilihat dari sejarahnya, rumah bolon didirikan oleh Raja Tuan Rahalim yang dikenal sangat perkasa dan memiliki 24 istri. Namun yang tinggal di sini hanya puang bolon atau permaisuri, yaitu 11 selir beserta 46 orang anaknya. Sisanya, yakni 12 istri lainnya tinggal di kampung-kampung yang berada datu wilayah dengan kerajaanya.

Seiring dengan bergulirnya waktu dan deklarasi kemerdekaan RI pada tahun 1945 ,akhirnya raja terakhir yang menempati rumah bolon yakni Tuan Mogang Purba menyerahkannya kepada Pemerintah Sumatera Utara dalam hal ini adalah Pemerintah Kabupaten Simalungun. Pasalnya, kedaulatan seorang raja berakhir dengan dibentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Rumah adat bolon ini memiliki atap berbentuk limas yang menyerupai seekor kerbau. Menurut kepercayaan masyarakat Batak, rumah ini terbagi ke dalam tiga bagian yang mencerminkan dunia atau dimensi yang berbeda-beda diaantaranya adalah:

  • Bagian pertama, yaitu bagian atap rumah yang menurut kepercayaan setempat mencerminkan dunia para dewa;
  • Bagian kedua, yaitu lantai rumah yang diyakini mencerminkan dunia manusia, dan;
  • Bagian yang ketiga, yaitu bagian bawah rumah atau kolong rumah yang didefinisikan sebagai dunia kematian.
  1. Rumah Adat Karo

rumah-adat-sumatera-utara.
Rumah Adat Karo Sumatera Utara (sumber gambar: akurat.co)

Dari namanya tentu saja rumah adat yang satu ini berasal dari suku Karo yang disebut juga sebagai rumah adat Siwaluh Jabu. Dalam keyakinan masyarakat setempat Siwaluh Jabu memiliki makna sebagai sebuah rumah yang dihuni oleh delapan keluarga, masing-masing keluarga memiliki makna dan peran tersendiri di dalam rumah tersebut. Penempatan keluarga-keluarga yang menghuni rumah Karo ditentukan dengan hukum adat setempat. Secara umum, rumah ini terdiri atas Jabu Jahe atau hilir dan Jabu Julu atau hulu. Jabu Jahe kemudian dibagi lagi menjadi dua yakni Jabu ujung kayu dan Jabu sendipar ujung kayu. Pembagian ruangannya juga sesuai dengan jumlah keluarga yang menghuninya yakni 8 ruangan. Namun di dalam rumah adat ini hanya terdapat 4 dapur saja.

  1. Rumah Adat Pakpak

rumah-adat-sumatera-utara
Rumah Adat Pakpak SUmatera Utara (sumber gambar: steemit.com)

Rumah tradisional yang satu ini memiliki bentuk yang unik dan menjadi ciri khas tersendiri. Rumah adat Pakpak atau Dairi ini dibuat dari bahan kayu serta atapnya berbahan ijuk. Bentuk desainnya sendiri juga menjadi perwujudan dari keyakinan masyarakat di sana. Selain sebagai wujud seni budaya Pakpak, bagian-bagian yang ada di dalam rumah adat Pakpak juga memiliki arti tersendiri. Dari penampakan atau bentuknya, rumah adat Pakpak ini secara umum hampir sama dengan rumah adat lainnya yang ada di Sumatera Utara dimana pada umumnya mereka menggunakan tangga dan tiang penyangga.

  1. Rumah Adat Mandailing

rumah-adat-sumatera-utara
Rumah Adat Bagas Godang Mandailing

Suku yang ada di Sumatera Utara ini tersebar di perbatasan dengan provinsi Riau. Daerah Mandailing dikenal dengan destinasi wisatanya yang cukup tersohor. Budaya dan kearifan lokal setempat juga menjadi salah satu bagian yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat Mandailing. Rumah adat Mandailing bisa ditemui di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang terbagi ke dalam wilayah Kabupaten Padang Lawas dan Kabupaten Tapanuli Selatan. Rumah adat yang biasa disebut dengan Bagas Godang ini bagi masyarakat Mandailing memiliki arti tersendiri. Bagas berarti rumah, sedangakan Godang berarti banyak.

  1. Rumah Adat Melayu

rumah-adat-sumatera-utara
Rumah Adat Melayu Langkat Sumatera Utara (sumber gambar: sakuilmu.xyz)

Di kawasan Sumatera Utara juga dapat ditemui suku Melayu yang kebanyakan bermukim di Kota Medan, Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Kabupaten Batu Bara, Kabupaten Labuhan, Kabupaten Serdang Begadai (Sergei), dan Tebing Tinggi. Suku Melayu memiliki andil yang cukup besar untuk menjadikan Medan sebagai kota terbesar ketiga yang ada di Indonesia. Selain itu, suku Melayu juga memiliki hunian atau rumat adat tersendiri. Rumah adat suku Melayu ditandai dengan warna-warna yang terang yakni kuning dan hijau, sementara pada bagian dinding dan lantainya terbuat dari papan. Atapnya hampir sama dengan beberapa rumah adat yang ada di Sumatera Utara yang masih menggunakan ijuk.

  1. Rumah Adat Nias

rumah-adat-sumatera-utara
Rumah Adat Omo Hada Suku Nias Sumatera Utara (sumber gambar: takaitu.id)

Rumah adat dari daerah Nias ini diberi nama Omo Hada yang berbentuk rumah panggung tradisional khas Nias. Namun ada juga rumah adat Nias yang memiliki desain yang berbeda dan dikenal dengan nama Omo Sebua. Omo Sebua merupakan rumah yang ditempati oleh para kepala Negeri atau Tuhenori, Kepala Desa atau Salawa dan kaum bangsawan lainnya. Rumah adat Omo Hada dibangun dengan penyangga tiang-tiang kayu nibung yang tinggi dan besar, sedangkan pada bagian lantainya menggunakan rumbia. Di daerah Nias Utara, Timur, dan Barat, denah rumah Omo Sebua ini adalah bulat telur. Sedangkan untuk daerah Nias Tengah dan Selatan berbentuk persegi panjang. Bangunan rumah adat memiliki pondasi yang tidak tertanam ke dalam tanah serta sambungan antara kerangkanya tidak memakai paku sehingga tahan terhadap goyangan gempa.

  1. Rumah Adat Angkola

rumah-adat-sumatera-utara
Rumah Adat Bagas Godang Angkola Sumatera Utara (sumber gambar: batak-network.blogspot.com)

Dari suku atau etnis, Angkola merupakan salah satu etnis yang berdiri sendiri meskipun beberapa orang menyebutnya dan menyamakan dengan suku Mandailing. Oleh sebab itu etnis Angkola juga memiliki budaya dan ciri khas tersendiri termasuk dalam hal rumah adat. Berdasarkan namanya, rumah adat etnis Angkola ini sama dengan Mandailing yakni Bagas Godang, namun ada beberapa perbedaan diantara keduanya. Rumah adat etnis Angkola ini menggunakan ijuk pada bagian atapnya serta dinding dan lantainya terbuat daru papan. Rumah adat Angkola ini juga memiliki keistimewaan tersendiri yakni warnanya yang di dominasi oleh warna hitam.

Rumah adat yang berbeda-beda di setiap daerahnya merupakan sebuah situs sejarah yang menjadi peninggalan nenek moyang. Untuk itu sebagai generasi penerus harus tetap merawatnya agar tidak tergerus dengan kebudayaan asing dan arus modernisasi yang terus berkembang.