Rumah Adat Yogyakarta, Perbedaan Joglo dan Bangsal Kencono

Posted on
Rumah-Adat-Yogyakarta,-Perbedaan-Joglo-dan-Bangsal-Kencono...
Rumah Joglo (sumber gambar: romadecade.org)

Rumah Joglo – Indonesia mempunyai banyak budaya yang terkenal hingga kancah internasional. Selain pulau Bali dan wisata Indonesia Bagian Timur, daerah bernama Yogyakarta juga sudah termasyur untuk turis-turis luar Negeri. Yogyakarta menjadi salah satu dari tiga Daerah Istimewa di Indonesia, karena itulah daerah yang berada di kawasan Jawa Tengah ini kental dengan kebudayaannya yang mempunyai ciri khas tersendiri. Salah satu yang menjadi daya tarik wisatawan baik domestik maupun luar Negeri adalah rumah adat Yogyakarta yang hingga saat ini masih terawat dan dilestarikan oleh pemerintah daerahnya.

Budaya yang sangat beragam di Yogyakarta membuat daerah berjuluk DIY ini mempunyai potensi cagar budaya baik kawasan maupun benda bernilai sejarah. Yogyakarta juga mempunyai potensi budaya non-fisik seperti gagasan, aturan (norma), seni, dan sistem sosial yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Rumah adat Yogyakarta sendiri merupakan salah satu dari ratusan peninggalan masa lalu yang saat ini masih digunakan sebagian besar masyarakat DIY.

Dalam artikel ini akan dibedah 2 Rumah Adat Yogyakarta untuk memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang budaya Indonesia yang masih dilestarikan di daerah Yogyakarta hingga saat ini. Dua rumah adat Yogyakarta yaitu Rumah Adat Joglo dan Rumah Adat Bangsal Kencono.

Rumah Adat Yogyakarta:

1. Rumah Adat Joglo

Rumah-Adat-Yogyakarta,-Perbedaan-Joglo-dan-Bangsal-Kencono
Rumah Joglo (sumber gambar: budayalokal.id)

Rumah adat Joglo mungkin lebih familiar didengar orang awam dari pada rumah adat Bangsal Kencono. Rumah adat Joglo seringkali ditemukan di beberapa daerah di pulau Jawa, tidak hanya di daerah Yogyakarta saja. Namun aslinya Joglo merupakan rumah adat yang berasal dari Provinsi Jawa Tengah, yaitu daerah yang mempunyai karakteristik budaya dan adat yang sangat unik dibandingkan provinsi-provinsi di pulau Jawa lainnya.

Meski rumah adat Joglo sudah sering didengar namanya oleh masyarakat awam, namun nyatanya masih banyak yang mencari informasi yang lebih mendalam tentang rumah adat yang satu ini. Misalnya saja tentang ragam nama-nama rumah Joglo yang ternyata masih dibagi ke dalam 17 jenis. Berikut adalah 17 jenis rumah adat Joglo yang ada di Yogyakarta:

  1. Joglo Ceblokan
  2. Joglo Kepuhan Limolasan
  3. Joglo Lambangsari
  4. Joglo Kepuhan Lawakan
  5. Joglo Kepuhan Awitan
  6. Joglo Wantah Apitan
  7. Joglo Limasan Lawakan
  8. Joglo Sinom
  9. Joglo Jompongan
  10. Joglo Pangrawit
  11. Joglo Mangkurat
  12. Joglo Hageng
  13. Joglo Semar Tinandhu
  14. Joglo Jepara
  15. Joglo Kudus
  16. Joglo Pati
  17. Joglo Rembang

Meski jenisnya beragam, namun intinya rumah adat Joglo hanya dibagi ke dalam dua bagian besar, yaitu rumah induk dan rumah tambahan. Di dalam rumah induk dibagi lagi atas delapan bagian, sedangkan untuk rumah tambahan hanya berisi pelengkap rumah induk. Di dalam rumah induk terdapat pendopo, pringitan, teras, rumah dalam, senthong kiwa, senthong tengah, senthong tengen, dan gandhok. Berikut fungsinya bagian rumah induk tersebut:

  1. Pendopo: Bagian rumah induk ini biasanya ada di depan rumah. Fungsinya untuk tempat pertemuan, tempat pagelaran seni seperti wayang kulit, tari-tarian, dan upacara adat.
  2. Pringitan: Bagian rumah ini merupakan penghubung bagian dalam. Fungsinya adalah sebagai jalan masuk ke lorong, biasanya bagian ini juga digunakan untuk pertunjukan wayang kulit.
  3. Teras: Merupakan bagian rumah induk yang menghubungkan bagian pringitan dengan rumah dalam. Teras berfungsi sebagai bagian rumah untuk menerima tamu, tempat bersantai, dan kegiatan lainnya yang bersifat berkumpul.
  4. Rumah dalam: Rumah dalam bisa berisi rumah besar atau rumah belakang. Fungsinya adalah untuk tempat tinggal orang yang tinggal di rumah adat Joglo tersebut.
  5. Senthong kiwa: Kiwa, dalam bahasa Jawa artinya kiri. Biasanya di senthong kiwa digunakan untuk kamar tidur, gudang, atau tempat penyimpanan logistik seperti makanan dan lain sebagainya.
  6. Senthong tengah: Berbeda dengan dua senthong lainnya, senthong tengah berfungsi untuk menyimpan harta keluarga atau barang pusaka yang dimiliki oleh sang pemilik rumah. Sebagai contoh benda pusaka yang sering terlihat di senthong adalah pusaka keris, dan banyak lagi jenis pusaka lainnya.
  7. Senthong tengen: Tengen dalam bahasa Jawa artinya kanan. Bagian ini berfungsi hanya sebagai pembagian ruangan sisa.
  8. Gandhok: Untuk melengkapi bagian bangunan yang ada di rumah induk, ada bagian yang disebut gandhok. Fungsinya hanya untuk bangunan tambahan, biasanya letaknya mengelilingi sisi samping dan belakang bangunan inti.

2. Rumah Adat Bangsal Kencono

Rumah-Adat-Yogyakarta,-Perbedaan-Joglo-dan-Bangsal-Kencono.-
Rumah Bangsal Kencono (sumber gambar: balajarcerita.com)

Setelah mengulas tentang jenis, pembagian, dan fungsi bagian rumah adat Joglo, kali ini akan dibahas tentang rumah adat Bangsal Kencono yang juga merupakan rumah adat Yogyakarta. Bangsal Kencono bisanya luasnya lebih besar dari pada rumah adat Joglo. Bangsal Kencono bisa juga disebut sebagai rumah padepokan dengan halam luas mencapai 14.000 meter persegi. Rumah adat Bangsal Kencono dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1756 Masehi silam dengan tujuan sebagai tempat berkumpul untuk acara keagamaan atau kesultanan. Contohnya saja seperti acara naik tahta seorang Sultan biasanya akan digelar di rumah adat Bangsal Kencono.

Pada dasarnya tidak ada perbedaan yang mencolok antara rumah adat Bangsal Kencono dengan desain rumah-rumah adat di kawasan Jawa Tengah. Ciri khas rumah adat Jawa Tengah adalah memiliki bubungan tinggi penyangga tiang pada bagian tengahnya. Ditinjau dari bahan bangunannya, terbuat dari bahan sirap atau genting tanah. Sementara untuk bagian rumah adat Bangsal Kencono sendiri dibagi atas 3 bagian besar yaitu bagian depan, bagian inti, dan bagian belakang.

  1. Bagian Depan, terdiri dari:
    – Gladhag pangurakan: Yaitu nama lain dari gerbang utama. Fungsinya sebagai pintu masuk ke dalam istana.
    – Alun-alun lor: Berfungsi sebagai tempat diselenggarakannya upacara grebeg, upacara, sekaten, watangan, dan masih banyak lagi acara-acara penting lainnya yang diselenggarakan di bagian alun-alun lor.
    – Kompleks masjid gedhe: Bagian ini merupakan Masjid Kesultanan yang berfugsi sebagai tempat beribadah bagi punggawa kesultanan. Kompleks masjid gedhe berada di barat alun-alun utara.
  2. Bagian Inti, terdiri dari:
    – Bangsal pagelaran: Bagian ini digunakan para punggawa kesultanan menghadap Sang Sultan ketika ada suatu upacara resmi Kesultanan.
    – Siti hinggil ler: bagian ini terletak di selatan bangsal pagelaran. Sementara fungsinya sendiri sebagai tempat melaksanakan upacara-upacara kesultanan yang bersifat resmi.
    – Kamandhungan ler: Letaknya ada di bagian utara dengan fungsi sebagai tempat untuk mengadili perkara-perkara berat yang diancam dengan hukuman mati.
    – Sri manganti: Di sebelah selatan kamandungan ler terdapat bagian sri menganti yang berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu-tamu penting kerajaan.
    – Kedhaton: Seluruh anggota kerajaan atau kesultanan tinggal di bagian kedathon ini.
    – Kemagangan: Bangunan ini digunakan sebagai tempat menerima pada abdi-dalem, tempat berlatih, tempat diselenggarakannya ujian, dan tempat apel kesetiaan para abdi kesultanan.
    – Siti hinggil kidul: Berbeda dengan siti hinggil ler, siti hinggil kidul biasanya digunakan untuk menyaksikan pagelaran adu manusia dan harimau, tempat untuk gladi resik upacara Grebeg, tempat berlatih para prajurit wanita, dan yang terakhir untuk prosesi awal upacara pemakaman Sulan yang wafat sebelum menuju ke Imogiri.
  3. Bagian Belakang, terdiri dari:
    Bagian belakang rumah adat Bangsal Kencono hanya terdiri dari dua bagian besar yaitu Alun-alun Kidul yang terletak di selatan Keraton dan Plengkung Nirbaya yang letaknya juga ada di selatan Keraton yang fungsinya sebagai poros utama ujung selatan.

Perbedaan rumah adat Joglo dan Bangsal Kencono ada di ukuran rumahnya. Bangsal Kencono berukuran lebih besar mirip padepokan yang digunakan untuk tinggal anggota keluarga Kesultanan. Bangsal Kencono mempunyai desain bangunan yang melambangkan kecintaan terhadap alam, sementara untuk bagian motifnya didominasi oleh nuansa Jawa atau yang biasa disebut Kejawen.

Meski Yogyakarta hanya memiliki dua rumah adat, namun rumah adat Joglo dan Bangsal Kencono memiliki ciri khas yang menyebabkan budaya ini berbeda dengan daerah yang lainnya. Kawasan Keraton sendiri beberapa ada yang dibuka untuk umum, tujuannya tidak lain adalah untuk memperkenalkan kebudayaan Jawa Keraton Yogyakarta kepada wisatawan domestik ataupun luar Negeri yang datang ke Yogyakarta. Pastinya akan sangat kurang jika plesir ke Yogyakarta tapi tidak mampir ke kawasan Keraton untuk mengenal budaya Daerah Istimewa Yogyakarta.

Namun bukan rahasia umum lagi jika budaya pembangunan rumah Joglo di Yogyakarta bisa dibilang hampir punah karena zaman modern seperti sekarang ini banyak sekali arsitek yang menawarkan desain rumah modern yang unik dan minimalis. Jadi tidak heran banyak ditemukan rumah adat Yogyakarta yang beberapa sisinya sudah terpengaruh oleh budaya-budaya modern masa kini, sehingga rumah adat itu kemudian disebut sebagai rumah adat tradisional yang modern dan kekinian dengan kesan mewah.