Sejarah Candi Plaosan

Posted on
Candi-Plaosan
Candi Plaosan (sumber gambar: mnctrijaya.com)

Candi Plaosan – Di sekitar kompleks Candi Prambanan memang terdapat sederet bangunan candi lainnya tak kalah mempesona dengan nilai sejarah yang tinggi. Salah satunya adalah Candi Plaosan yang terletak sekitar 1,5 kilometer dari Kompleks Candi Prambanan. Candi Plaosan merupakan salah satu candi yang berada di daerah Klaten dan terbagi menjadi dua yakni Candi Plaosan Lor (Lor= Utara) dan Candi Plaosan Kidul (Kidul= Selatan). Dilihat dari pahatan yang ada di Candi Plaosan mirip dengan pahatan pada Candi Borobudur, Candi Sewu, dan Candi Sari yang memiliki bentuk pahatan sangat halus. Secara keseluruhan Kompleks Candi Plaosan dikelilingi oleh parit yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran 440 meter X 270 meter dengan lebar parit 10 meter dan kedalaman 2,5 meter.

Sementara di luar parit terdapat pagar keliling yang berbentuk empat persegi panjang. Penemuan ini menunjukkan bahwa Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul merupakan bagian dari sebuah kompleks percandian. Jika diamati lebih lanjut, Candi Plaosan memiliki keistimewaan tersendiri, pasalnya meski terkenal sebagai salah satu candi Budha namun arsitektur yang ada di Candi Plaosan ini memiliki campuran antara gaya Budha dan Hindu. Candi ini mempunyai keistimewaan dari sejarah Rakai Pikatan dan sang istri, Pramordhawardani, yang berbeda kepercayaan. Kisah keduanya diangkat menjadi latar belakang arsitektur candi Plaosan.

Berdasarkan catatan sejarah, Candi Plaosan dibangun saat Rakai Pikatan memutuskan untuk menikah dengan Pramordhawardani meski sebenarnya hubungan asmara mereka menimbulkan banyak keresahan dan penolakan karena perbedaan agama yang mereka anut. Rakai Pikatan merupakan pemuda asal Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu, sedangkan Pramordhawardani adalah gadis dari Dinasti Syailendra yang berlatar belakang agama Budha. Keputusan untuk menikah didasari oleh rasa cinta dengan mengesampingkan perbedaan yang mereka miliki.

Hingga pada akhirnya, Rakai Pikatan membangun candi sebagai lambang rasa cintanya kepada sang istri. Ia juga memberikan kebebasan kepada sang istri untuk menganut agama yang berbeda. Hal ini menandakan bahwa Candi Plaosan merupakan bukti nyata bahwa kekuatan cinta dapat menjadi alat untuk menyatukan perbedaan serta menjadi simbol toleransi umat beragama. Tidak hanya itu, pahatan relief yang ada di candi juga bisa diinterpretasikan sebagai perasaan cinta antara Rakai Pikatan dengan sang istri. Relief candi yang menggambarkan laki-laki merupakan bentuk kekaguman Pramordhawardani terhadap sang suami. Begitu juga sebaliknya, relief yang menggambarkan perempuan sebagai bentuk luapan cinta Rakai Pikatan terhadap sang istri.

Pembangunan Candi Plaosan

Candi-Plaosan
Candi Plaosan (sumber gambar: hrgatiket.net)

Sejarah pembangunan candi ini diperkirakan pada awal abad ke-9 Masehi pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Hindu. Seorang fisiolog Belanda, J.G. De Casparis, juga menyatakan pernyataan yang sama dengan berpegang pada Prasasti Cri Kahulunan (842 Masehi). Disebutkan bahwa Candi Plaosan Lor dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan dengan dukungan suaminya. De Casparis sendiri berpendapat bahwa Sri Kahulunan adalah gelar Pramordhawardani putri Raja Samarattungga dari Dinasti Syailendra.

Namun ada juga pendapat lain dari seorang sejarawan bernama Anggraeni yang menyebutkan bahwa pembangunan Candi Plaosan dimulai sebelum pemerintahan Rakai Pikatan. Dimana Sri Kahulunan merupakan ibunda Rakai Garung yang memerintah Mataran sebelum Rakai Pikatan. Menurut Anggraeni, masa pemerintahan Rakai Pikatan tergolong cukup singkat sehingga tidak memungkinkan untuk membangun candi sebesar Candi Plaosan. Ia menyebutkan bahwa candi yang dibangun semasa pemerintahan Rakai Pikatan adalah Candi Perwara.

Sedangkan di area Kompleks Candi Plaosan sendiri juga ditemukan adanya prasasti pada Oktober 2003 silam. Dalam prasasti yang terbuat dari lempengan emas berukuran 18,5 x 2,2 cm berisi tulisan dalam bahasa Sanksekerta dan ditulis dalam huruf Jawa Kuno. Isi dari prasasti ini belum diketahui secara pasti, namun seorang Epigraf bernama Tjahjono Prasdjo menguatkan pernyataan bahwa Candi Plaosan dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.

Candi Plaosan Lor

Di depan pintu masuk Candi Plaosan Lor ini terdapat dua pasang arca Dwarapala yang saling berhadapan. Sepasang terletak di pintu masuk utara dan sepasang lagi di pintu masuk selatan. Tangan kanannya memegang dada, sedangkan tangan kiri tertumpang di atas lutut kiri. Pada pelataran utara juga terdapat teras batu yang berbentuk persegi. Diduga ini merupakan tempat meletakkan sesajen dan dikelilingi oleh deretan umpak batu.

Konon di teras tersebut terdapat bangunan dari kayu dan di atas umpat batu terdapat sebuah arca Dhyani Buddha, di area pelataran ini terdapat juga enam buah stupa besar. Pada kompleks percandian ini ada dua buah bangunan Candi Utama yang memiliki dua tingkat. Kedua bangunan ini menghadap ke barat dan masing-masing dikelilingi oleh pagar batu. Pagar atau dinding batu yang memagari candi utama dikelilingi oleh candi perwara yang semula berjumlah 174 terdiri atas 58 candi kecil dan 116 bangunan berbentuk stupa. Pada ruang tengah terdapat tiga arca Budha yang duduk berderet di atas Padadmasana dan menghadap ke arah pintu. Pada dinding kiri dan kanan ruangan terdapat relung yang tampaknya merupakan tempat meletakkan penerangan, ruangan ini berada diantara relief Kuwera dan Hariti.

Candi Plaosan Kidul

Kompleks Candi Plaosan Kidul ditemukan oleh Ijzerman seorang arkeolog asal Belanda pada tahun 1909. Saat itu, Ijzerman menemukan 16 candi kecil dalam keadaan yang sudah rusak. Kompleks ini terletak di selatan CandiPlaosan Lor dan dipisahkan dengan jalan raya. Di kompleks ini, candi utamanya sudah menjadi reruntuhan yang masih berdiri hanyalah beberapa candi perwara saja. Pada bulan Mei 2003 terjadi penggalian dan pemugaran untuk komplek ini sedang dilaksanakan.

Kegiatan di Candi Plaosan

Candi-Plaosan
Candi Plaosan (sumber gambar: id.wikipedia.org)

Area Candi Plaosan ini tidak hanya dijadikan sebagai kawasan wisata saja, namun juga digunakan untuk melakukan festival tahunan. Festival pertama kali digelar pada tahun 2016 dan diadakan di sekitar Candi Plaosan, Bugisan, Prambanan. Festival ini mempunyai tujuan untuk mengangkat seni budaya dan produk unggulan masyarakat di sekitar Candi Plaosan. Perhelatan hiburan seperti ini biasanya diikuti oleh banyak kelompok seni budaya dari Prambanan sendiri maupun masyarakat sekitarnya. Festival ini juga menjadi salah ajang peluncuran Desa Wisata Bugisa sebagai kampung budaya Candi Plaosan. Tujuan diadakannya festival ini adalah untuk menarik wisatawan dengan berbagai potensi seni budaya lokal, sepeti karawitan, gojeg esung, jathilan, srandul, wayang kulit, dan sebagainya.

Sementara itu, cerita asmara Rakai Pikatan dan Primordawardani menjadi mitos tersendiri untuk pasangan yang mengunjungi Candi Plaosan. Berdasarkan mitos yang beredar menyebutkan jika pasangan yang datang ke Candi Plaosan ini niscaya akan memiliki hubungan yang langgeng. Mitos ini tentu berbanding 180 derajat dengan mitos yang ada di kawasan Candi Prambanan, dimana jika pasangan berkunjung ke Candi Prambanan maka hubungan keduanya akan menjadi retak.