Sejarah Candi Singosari

Posted on
sejarah-candi-singosari
Candi Singosari, Malang (sumber gambar: jejakpiknik.com)

Candi Singosari – Dari seluruh kerajaan yang dulu pernah ada di Indonesia, memang hampir selalu memiliki peninggalan-peninggalan bersejarah. Bahkan sampai saat ini masih ada beberapa situs yang diyakini sebagai salah satu peninggalan beberapa kerajaan yang pernah berkuasa di beberapa wilayah Nusantara. Salah satunya bentuk peninggalan kerajaan yang hingga saat ini masih bisa dilihat adalah candi-candi. Di Jawa Timur ada salah satu candi yang cukup populer peninggalan Kerajaan Singosari.

Apalagi jika bukan candi Singosari, dimana candi ini merupakan yang paling populer sebagai peninggalan Kerajaan Singosari. Hal ini bisa dilihat dari daftar pengunjung yang ada di daftar obyek wisata di Jawa Timur, referensi tentang Candi Singosari telah ada di internet jika mencari tentang candi-candi yang ada di Jawa Timur. Lokasi candi ini memang tidak jauh dari jalan raya sehingga siapa saja mudah untuk mengaksesnya, yaitu terletak di desa Candirenggo, Kecamatan Singosari. Jika ditempuh dari Kota Malang, berjarak sekitar 13 kilometer ke utara. Candi Singosari hampir seluruhnya dapat direkonstruksi kecuali sebagian atasnya, di arah barat daya Candi Singosari terpahat angkat 1934. Tahun tersebut diyakini sebagai tahun ketika Candi Singosari selesai direkonstruksi oleh Pemerintah Belanda. Saat rekonstruksi ditemukan adanya sebuah saluran air dari puncak candi menuju ke pusat ruang utama dan selanjutnya dialirkan keluar melalui muara kecil di bagian tengah teras sebelah utara. Dengan demikian, air yang mengalir keluar dari candi merupakan air suci karena berasal dari langit dan menyentuh lingga sebagai esensi candi.

Sejarah Candi Singosari

sejarah-candi-singosari
Candi Singosari (sumber gambar: alamasedy.com)

Sebagai peninggalan Kerajaan Singosari, candi ini dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Kartanegara yang merupakan raja terakhir di Kerajaan Singhasari. Hal ini terbukti pada sejarah candi yang telah diambil pada tulisan yang ada pada kitab Negarakertagama. Selain itu juga terdapat pada sebuah prasasti yang ditemukan pada pelataran candi yakni Prasasti Gajah Mada. Raja Negarakertagama sendiri tertulis wafat pada tahun 1292 karena penyerangan oleh pasukan Raja Jayakatwang. Ada beberapa ahli yang berpendapat bahwa pembangunan Candi Singosari ini tidak pernah selesai, sehingga pada tahun 1934 hingga 1936 dilakukan kegiatan renovasi oleh Pemerintah Hindia.

Sebagaimana tertulis dalam kitab Negarakertagama, candi Singosari ini merupakan tempat pendharmaan Raja Kertanegara. Namun disini Kertanegara diwujudkan dengan 3 arca perwujudan yang melambangkan trikaya. Diantaranya sebagai Siwa-Budha dalam bentuk Bhairawa yang melambangkan nirmanakaya, sebagai Ardhanari lambang sanbhokaya dan sebagai Jina dalam bentuk Aksobhya yang melambangkan dharmakaya. Perwujudan ini dinilai sebagai bentuk yang paling agung untuk seorang raja besar Kertanegara mengingat Kerajaan Singosari juga menjadi salah satu kerajaan dengan cakupan pemerintahan yang cukup besar di masanya.

Candi utama merupakan perwujudan dari Gunung Suci Meru yang menjulang tinggi. Oleh karena itu, dataran di sekeliling candi diumpamakan sebagai lautan luas. Semua itu disebut-sebut sebagai lambang keutamaan Raja Kertanegara pada perwujudan Siwa-Budha yang dimuliakan pada candi Singosari. Perumpamaan candi sebagai Gunung Meru ini semakin dikuatkan dengan adanya empat buah gundukan di atas masing-masing candi. Hal ini disesuaikan dengan topografi Gunung Meru di India yang dikelilingi oleh empat gunung-gunung kecil. Sedangkan di sekitar Malang tempat keberadaan candi Singosari ini, simbol puncak Gunung Meru atau Mahameru adalah Gunung Penanggungan yang berada di Pandaan. Selain bentuk fisiknya yang sempurna, Gunung Penanggungan juga dikelilingi oleh empat buah hunung kecil yang berada di empat arah mata angin.

Sementara dalam kitab kuno Tantu Panggelaran diceritakan bahwa suatu ketika Gunung Meru di India sebagai pusat alam raya harus dipindahkan ke Jawa dengan tujuan untuk mensahkan Jawa sebagai Jambudwipa baru. Dalam perjalanannya, banyak bagian-bagian Gunung Meru itu yang terjatuh berceceran sehingga membentuk rangkaian gunung-gunung mulai dari India, Myanmar, Bangladesh, Thailand, Sumatera, dan Jawa seperti saat ini. Konon, Gunung Meru dari India berubah menjadi Gunung Semeru sementara puncaknya adalah Gunung Pawitra atau Mahameru.

Arsitektur Candi Singosari

sejarah-candi-singosari
arca Candi Singosari (sumber gambar: malang.merdeka.com)

Candi Singosari memiliki konsep yang sama dengan wujud candi Jawi yang melambangkan mandala alam raya sekaligus tempat yang memuliakan Raja Kertanegara. Dengan prinsip candi yang terdiri atas kaki, badan, dan atap candi. Bangunan candi aslinya sendiri terletak di atas sebuah batur teras yang melambangkan benua Jambudwipa (India) sebagai benua paling tengah dari alam raya. Dalam pembuatan Candi Singosari menggunakan cara-cara yang sama seperti dengan candi lainnya yang ada di Indonesia. Candi ini dibuat dengan cara menumpuk bebatuan andhesit hingga mencapai ketinggian tertentu. Lalu akan diteruskan untuk mengukirnya dari atas dan turun ke bawah. Letak Candi Singosari berada di lembah antara Gunung Arjuna dan Pegunungan Tengger.

Salah seorang ahli purbakala asal Eropa pernah memberi nama candi ini dengan nama Candi Cella yang berarti Candi Menara. Namun masyarakat setempat kala itu tidak setuju dengan pemberian nama ini dan menggantinya dengan nama Candi Singosari yang digunakan sampai sekarang. Jika dilihat dari segi struktur candi, pada umunnya Candi Singosari memberikan sebuah penyimpangan dalam sebuah bentuk badan yang berkesan menjulang ramping dan ditopang dengan kaki candi yang ada di atas batu. Sementara bagian kaki candi yang tambun merupakan sebuah perubahan dari bangunan induknya. Jadi tubuh candi akan terangkat agak lebih tinggi.

Di kaki candi ada arca-arca yang berbentuk bangunan. Tubuh candi sudah dirancang dengan tidak memiliki ruangan untuk tempat arca seperti halnya yang ada pada candi Hindu, namun sebagai gantinya dibuat dengan relung-relung yang tidak dalam pada setiap sisi yakni pada dinding luar arah empat mata angin. Penyimpangan struktur tersebut bukan suatu yang kebetulan ataupun atas dasar kreatifitas arsiteknya, tetapi tentu ada berbagai sebab dan pertimbangan yang dapat melatarbelakangi kreatifitas para arsitekturnya. Pada puncak bangunan Candi Singosari sekarang terlihat lebih pejal seakan puncak dari candi nampak rata. Sementara pada bagian badan terlihat menjulang dan untuk kaki candi terlihat lebih tambun.

Sesuatu menarik yang dapat dilihat dari struktur candi ini adalah letak ruang utama dan bilik-biliknya. Pada umumnya candi-candi yang ada di Jawa memiliki ruang utama dan bilik-bilik yang berada di badan candi., namun pada Candi Singosari dapat dijumpai jika keberadaan ruang utama dan bilik-bilik justru berada di kaki candi. Padahal biasanya kaki candi difungsikan sebagai dasar candi, sementara badan candi meski tidak untuk menempatkan patung-patung utama tetap diberi pola bilik-bilik kecil. Sedangkan bentuk asli dari atap candi ini belum diketahui secara pasti, pasalnya pihak pengelola tidak dapat melakukan pemugaran seluruhnya. Hal ini membuat atap Candi Singosari tidak diketahui secara pasti apakah menjulang tinggi seperti pada candi Jawi lainnya atau pendek datar seperti pada atap Candi Kidal.