Sejarah Candi Tikus

Posted on
sejarah-candi-tikus
Candi Tikus (sumber gambar: id.wikipedia.org)

Candi Tikus – Jawa Timur merupakan sebuah daerah yang mempunyai arti tersendiri di dalam sejarah kuno bangsa Indonesia. Pasalnya, di daerah inilah terdapat peninggalan-peninggalan kuno dan penting dari peradaban bangsa Indonesia kuno. Disanalah berdiri kerajaan besar yaitu Majapahit yang meninggalkan begitu banyak warisan yang adiluhung. Selain itu, di kawasan ini juga berdiri kerajaan-kerajaan besar bercorak Hindu-Budha. Berbagai warisan unsur dari aliran agama Hindu-Budha seperti Tantrayana yang bisa ditemui di sana.

Berdasarkan catatan sejarah, di Jawa Timur memang ada banyak kerajaan-kerajaan besar yang pernah berkuasa di sana. Oleh karena itu hingga saat ini banyak situs warisan budaya yang ada di daerah Jawa Timur. Bahkan banyak para sejarawan dan ahli purbakala yang melakukan penelitian di Jawa Timur karena menyimpan banyak benda-benda bersejarah dan situs-situs yang tak ternilai harganya, salah satunya adalah Candi Tikus. Kawasan candi ini merupakan petirtaan yang terbuat dari batu merah kecuali pancuran-pancuran yang ada di sana karena terbuat dari batu andesit.

Bangunan yang ada di kawasan ini kurang lebih 3,5 meter di bawah permukaan tanah dan berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 22,5 x 22,5 meter. Dinamakan Candi Tikus karena pada tahun 1914 di daerah Temon sedang diserang hama tikus sehingga penduduk mengalami hambatan dan gagal panen. Kemudian masyarakat bermusyawarah bagaimana mengatasi hama tikus itu, kemudian mereka sepakat untuk mengadakan pengejaran dan penggalian guna mengatasi hama tikus secara masal. Saat itu, setiap sarang yang akan digali dan ternyata dalam penggalian terdapat salah satu temuan terminatur candi yang pada waktu itu lokasi ini merupakan gundukan tanah dan tempat makam rakyat setempat.

Temuan terminatur candi ini lantas dilaporkan kepada Bupati Mojokerto saat itu yakni R.A. Kromodjojo Adinegoro. Atas ijin dinas purbakala yang pada waktu itu bernama Oudheldkundige Dients, penggalian menampakan seluruh bangunan selesai pada tahun 1916 yang pendiriannya diperkirkan pada abad VIII sampai XIV. Namun mengenai fungsi candi beluk diketahui secara pasti, dengan melihat bentuknya diketahui jika candi ini merupakan sebuah pemandian suci. Susunan candinya melambangkan Gunung Mahameru tempat para dewa bersemayam dan sumber segala kehidupan yang diwujudkan dalam bentuk air mengalir dari pancuran-pancuran yang terdapat di sepanjang kaki candi.

Letak dan Kondisi Geografis Candi Tikus

sejarah-candi-tikus
Candi Tikus Mojokerto (sumber gambar: kisahwali9.blogspot.com)

Candi Tikus berada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Candi ini merupakan bangunan petirtaan jika dilihat dari adanya miniatur candi di tengah bangunan yang melambangkan Gunung Mahameru. Hal ini seakan mengukuhkan dugaan bahwa sumber segala kehidupan yang diwujudkan dalam bentuk air mengalir dari pancuran-pancuran atau jaladwara yang terdapat di sepanjang kaki candi. Secara garis besar bangunan petirtaan Candi Tikus ini terdiri dari beberapa bagian, diantaranya adalah:

  1. Bangunan Induk

Bentuk bangunan Candi Tikus semakin ke atas semakin kecil dan dikelilingi oleh delapan menara yang lebih kecil bagaikan puncak gunung dengan delapan puncak yang lebih kecil. Bangunan induk luasnya 7,65 x 8,75 meter dengan tinggi 5,2 meter. Secara horizontal bangunan induk dibagi menjadi tiga bagian yakni kaki, tubuh, dan atap. Kaki bangunan berbentuk segi empat dengan profil berpelipit. Pada lantai atas kaki bangunan terdapat saluran air dengan ukuran 17 sentimeter dan tinggi 54 sentimeter serta mengelilingi tubuh. Sedangkan pada sisi luar terdapat jaladwara dan ada pula menara-menara yang disebut menara kaki bangunan. Di setiap bagian dinding tubuh terdapat bangunan menara yang lebih besar dan berukuran 100 x 140 sentimeter dengan tinggi 2,78 meter.

  1. Kolam

Di sebelah timur laut dan barat laut bangunan induk terletak dua bangunan yang berbentuk kolam dan disebut ‘kolam barat’ dan ‘kolam timur’. Kolam yang berada di kanan dan kiri tangga masuk ini masing-masing berukuran panjang 3,5 meter, lebar 2 meter, tinggi 1,5 meter, dan tebal dinding 0,8 meter. Pada sisi utara dinding kolam bagian dalam terdapat tiga jaladwara dengan ketinggian kurang lebih 80 sentimeter dari lantai kolam. Bagian luar kolam atau sisi selatan terdapat tangga masuk ke bilik kolam yang memiliki lebar 1,2 meter, sedangkan di bagian dalamnya terdapat semacam pelipit setebal 0,35 meter.

  1. Dinding Teras

Bangunan dinding ini terdiri atas tiga teras yang mengelilingi bangunan induk dan kolam. Fungsi teras sebagai penahan desakan air dari sekitarnya karena bangunan ada di bawah permukaan tanah, selain itu juga sebagai penahan longsor. Dinding teras pertama berukuran 13,5 x 15,5 meter, sedangkan lebar lantai teras 1,89 meter. Pada kaki terasnya yang berpelipit ada pancuran air yang berbentuk padma dan makara. Sementara di bawah lantai teras terdapat saluran air berukuran 0,2 dengan tinggi 0,46 meter. Saluran ini berhubungan dengan saluran yang ada pada bangunan induk dan diperkirakan saluran tersebut dipergunakan untuk mengalirkan air yang berasal dari bangunan induk tersebut.

  1. Tangga Utama

Tangga ini merupakan tangga menuju ke bangunan induk dan bilik kolam. Panjang tangga 9,5 meter, lebar 3,5 meter, dan tinggi 3,5 meter. Sebagai catatan, pada sisi timur dan barat tangga teras satu dan teras dua terdapat pipi tangga yang menutupi jalan masuk ke teras satu dan dua.

  1. Lantai Dasar

Lantai dasar terdiri dari susunan bata yang mempunyai permukaan atau bidang datar di bagian atasnya. Lantai tersebut tersusun dari dua lapis bata yang luasnya kurang lebih 100 meter persegi. Lantai ini berfungsi sebagai tempat berdirinya bangunan induk, kolam, dinding teras, dan tangga utama.

  1. Pagar Tembok Luar

Pagar tembok berada di sisi utara yang berjarak kurang lebih 0,8 meter dari dinding teras tiga dan menjadi satu dengan pintu gerbang yang terdapat di tangga masuk.

Filosofis Bagian Bangunan Petirtaan Candi Tikus

sejarah-candi-tikus
Candi Tikus (sumber gambar: id.wikipedia.org)

Trowulan merupakan salah satu situs yang banyak dikaji oleh para sejarawan dan arkeolog. Penelitian itu menghasilkan rekonstruksi tata kota Majapahit. Salah satu dasar yang rupanya digunakan dalam menentukan tata ruang dan letak bangunan di Majapahit dan di Jawa pada waktu itu adalah orientasi pada alam sekitarnya seperti gunung, laut, dan dataran. Gunung disimbolkan sebagai tempat suci, banguan air di Kota Majapahit juga sangat tertata. Pengairan atau irigasi yang teratur sudah dikenal di Segaran, Petirtaan Tikus, dan sisa peninggalan-peninggalan saluran air.

Arsitektur bangunan Candi Tikus merupakan simbol kesucian Gunung Mahameru, yang mana gunung tersebut diyakini sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Menurut kepercayaan Hindu, Gunung Mahameru adalah sumber air kehidupan (Tirta Amerta) yang konon katanya dapat memberikan pengaruh magis dan dapat memberikan kesejahteraan. Oleh sebab itu, air mengalir di Petirtaan Tikus dianggap bersumber dari Gunung Mahameru. Selain itu, Petirtaan Tius yang dianggap sebagai replika Gunung Mrru berlandaskan pada kosmogoni yakni kepercayaan yang mengharuskan adanya keserasian antara dunia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos).