Senjata Tradisional Jawa Timur, Lengkap Dengan Gambar dan Penjelasannya!

Posted on
senjata-tradisional-jawa-timur
Clurit (sumber gambar: tkardinpisau.co.id)

Clurit Jawa Timur – Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki kekayaan melimpah. Kekayaan ini berupa kekayaan alam, hasil bumi, dan tentunya yang menjadi ciri khas dari Indonesia adalah Negara yang kaya akan budaya. Ini tentu saja bisa menjadi kebanggaan tersendiri bagi seluruh penduduk sebagai warga Negara Indonesia. Tak heran jika budaya yang ada di Indonesia terus dijaga dan dilestarikan sebagai identitas Bangsa dan warisan leluhur atau nenek moyang.

Salah satu kebudayaan yang cukup unik ada di daerah Jawa Timur. Sebagai salah satu daerah yang cukup maju di Pulau Jawa, tentu saja ada banyak nilai moral dan peninggalan sejarah yang menarik untuk dibahas dari daerah Jawa Timur. Jawa Timur adalah salah satu provinsi yang memiliki luas wilayah 47. 992 kilometer persegi. Jumlah penduduk provinsi yang beribu kota di Surabaya ini mencapai 42. 030. 633 jiwa (berdasarkan pada data sensus tahun 2017). Jawa Timur juga menjadi wilayah dengan total penduduk terbesar kedua di Indonesia setelah Jawa Barat. Tak heran dengan banyaknya penduduk membuat Jawa Timur juga kaya akan kebudayaan lokal.

Sama dengan daerah di Indonesia lainnya, Jawa Timur memiliki banyak ciri khas yang mana salah satunya ditunjukkan dari senjata tradisional. Sebagai peninggalan para leluhur tentu saja masyarakat Jawa Timur menjadikan senjata tradisional mereka sebagai ikon yang diperkenalkan kepada daerah lainnya. Berikut adalah daftar senjata tradisional dari Jawa Timur.

Senjata Tradisional Jawa Timur

Clurit

senjata-tradisional-jawa-timur
Clurit (sumber gambar: tkardinpisau.co.id)

Senjata tradisional dari daerah Jawa Timur yang sangat populer adalah clurit. Senjata ini pada dasarnya berasal dari suku Madura, bahkan sampai saat ini senjata ini tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Madura. Sehingga diyakini jika clurit memiliki banyak sejarah dalam perkembangan dan budaya masyarakat Madura. Clurit umumnya memiliki bilah melengkung dengan mata pisau pada sisi bagian dalam. Ujung senjata tradisional ini berbentuk runcing dan memiliki pegangan tangan sekitar 20 sentimeter. Konon masyarakat Madura tak jarang memasukkan kekuatan gaib ke dalam clurit dengan cara membacakan doa-doa atau melalui ritual khusus. Tujuannya tentu saja untuk membuat senjata ini mematikan saat digunakan melawan musuh.

Tak hanya di Madura, sebenarnya senjata ini bisa ditemukan hampir di seluruh Pulau Jawa hanya saja dengan nama atau sebutan yang berbeda. Clurit memiliki kesamaan dengan sabit yang digunakan sebagian besar petani untuk memotong rumput. Senjata tradisional ini memiliki sejarah yang panjang karena pada zaman dahulu sering digunakan oleh tokoh-tokoh masyarakat. Salah satu tokoh yang lekat dengan clurit adalah Sakera, yaitu mandor atau petani yang ikut memperjuangkan kemerdekaan dan melawan kolonial Belanda. Sakera merupakan pahlawan dari daerah Pasuruan.

Keris

senjata-tradisional-jawa-tengah
Keris (sumber gambar: asyraafahmadi.com)

Tidak hanya di daerah Jawa Tengah saja yang menganggap keris sebagai senjata tradisional, begitu pula dengan masyarakat Jawa Timur. Meski pada awalnya senjata ini dianggap asing oleh masyarakat Jawa Timur, namun setelah masa Kerajaan Pajajaran dan Kerajaan Majapahit senjata ini menjadi begitu dikenal luas. Dahulu banyak kalangan yang menggunakan senjata ini sebagai alat untuk membela diri dan berburu. Keris merupakan senjata tikam yang memiliki ujung runcing dengan mata pisau pada kedua sisinya. Saat ini, senjata tradisional juga masih sering dijumpai pada upacara pernikahan baik di kalangan masyarakat Jawa Timur maupun Jawa Tengah.

Buding

senjata-tradisional-jawa-timur
Buding (sumber gambar: kerusku.id)

Senjata tradisional lainnya dari Jawa Timur adalah buding. Senjata ini memang tidak cukup populer karena hanya digunakan di sebagian tempat saja. Dari segi bentuk, buding memiliki kemiripan dengan pisau dapur. Namun senjata ini memiliki sarung untuk menutupi mata pisau layaknya pedang. Buding merupakan senjata khas dari suku Osing yang tinggal di daerah Banyuwangi. Masyarakat setempat biasanya menggunakan buding untuk membantu aktivitas sehari-hari, bahkan tak jarang mereka menggunakan senjata ini untuk membela diri.

Bionet

senjata-tradisional-jawa-timur
Bionet (sumber gambar: kerisku.id)

Meski senjata tradisional asal Jawa Timur yang satu ini tidak begitu terkenal, namun keberadaan tetap saja menjadi bagian dari kekayaan budaya yang ada di Indonesia. Bionet merupakan salah satu senjata tradisional Jawa Timur yang asal usul daerah penggunaannya tidak diketahui secara pasti. Senjata ini memiliki bentuk lurus dan cukup panjang layaknya pedang. Bionet merupakan senjata yang tidak terlalu tajam, namun memiliki ujung yang runcing dibandingkan dengan senjata lainnya. Dahulu senjata ini sering digunakan saat berperang, dengan ujungnya yang runcing membuat senjata ini mudah untuk melukai bahkan membunuh musuh.

Caluk

senjata-tradisional-jawa-timur
Caluk (sumber gambar: asyraafahmadi.com)

Senjata tradisional ini memiliki bentuk panjang seperti halnya golok. Namun yang membedakannya adalah pada bagian ujungnya yang memiliki lengkungan. Sementara pada bagian tengah caluk terdapat semacam kapak. Caluk merupakan senjata yang unik dan langka, bahkan ini merupakan senjata yang hanya bisa ditemui di Pulau Jawa. Memiliki bentuk yang berbeda dengan senjata lainnya, caluk sering digunakan untuk membantu kegiatan sehari-hari, namun tak jarang yang menggunakan benda ini untuk membela diri. Sayangnya, saat ini senjata ini bisa dikatakan sudah jarang ditemui. Namun ada beberapa orang yang masih menyimpan senjata ini untuk dijadikan koleksi atau benda pusaka, pada umumnya senjata ini panjang sekitar 1 meter.

Kudi

senjata-tradisional-jawa-timur-bionet
Kudi (sumber gambar: silontong.com)

Kudi bukan hanya digunakan sebagai senjata saja, konon pada zaman dahulu senjata ini juga digunakan untuk mencari kayu bakar. Kayu bakar tersebut nantinya akan dijual agar mendapatkan uang. Kusi juga bisa digunakan untuk membantu proses pembuatan meja dan kursi. Pada umumnya, kudi memiliki benjolan pada bagian tengah. Keunikan ini yang membedakan antara kudi dengan senjata lainnya yang bernama pethel. Keduanya memiliki bentuk yang hampir yang sama dengan panjang sekitar 35 sentimeter dan lebar 10 sentimeter.

Namun sayangnya hampir sebagian besar keberadaan senjata tradisional dari Jawa Timur ini sudah semakin langka. Jika ingin melihat wujud asli dari senjata-senjata tradisional tersebut mungkin bisa ditemui di beberapa museum atau cagar alam. Tetapi biasanya yang masih menyimpan barang-barang bernilai sejarah semacam ini adalah para kolektor. Orang yang menggilai kolektor senjata-senjata tradisional biasanya memiliki koleksi senjata yang masa pembuatannya cukup lama. Di mata kolektor, semakin lama atau semakin lawas sebuah senjata tentu saja memiliki nilai histori sekaligus nilai ekonomi yang cukup mahal.

Kini tugas generasi muda sebagai generasi penerus untuk tetap memperkenalkan kebudayaan daerah kepada anak cucu kelak. Dengan harapan apa yang telah diwariskan oleh para leluhur tidak semakin tergerus dengan kebudayaan budaya Barat. Mengingat saat ini banyak kalangan remaja yang justru gemar dan menjadi budak dari masuknya budaya Barat ke Indonesia, sehingga sudah saatnya generasi muda giat untuk memperkenalkan kebudayaan daerah sebagai simbol dan ciri khas yang bisa dibanggakan hingga ke kancah internasional.