Senjata Tradisional Kalimantan Barat, Alat Pertahanan Diri Suku Dayak

Posted on
senjata-tradisional-kalimantan-barat
sipet (smber gambar: sampit.ptokal.co)

Senjata Tradisional TombakKalimantan Barat merupakan sebuah provinsi yang ada di Indonesia yang berada di pulau terbesar di Nusantara. Wilayah ini terletak di Pulau Kalimantan dengan ibu kota provinsi Kota Pontianak. Kalimantan Barat adalah wilayah terluas keempat setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Berdasarkan catatan sejarah, nama ‘Kalimantan’ ini berasal dari bahasa Sanksekerta yang bila diartikan adalah pulau dengan udara yang sangat panas atau membakar. Sedangkan jika dilihat dari bahasa Jawa, ‘Kalimantan’ berarti Sungai Intan. Daerah Kalimantan Barat sendiri merupakan salah satu wilayah yang mendapat julukan sebagai provinsi ‘Seribu Sungai’. Sebutan itu sama dengan kondisi alamnya yang mempunyai ratusan aliran sungai baik besar maupun kecil. Beberapa sungai bahkan bisa digunakan untuk berlayar, dengan kata lain banyak perahu yang lalu lalang sebagai transportasi air masyarakat setempat.

Kalimantan Barat berbatasan dengan bagian Sarawak, Malaysia. Jumlah penduduknya adalah 4.073.304 jiwa berdasarkan sensus yang dilakukan pada tahun 2004 silam. Iklim di daerah Kalimantan Barat cendrung tropis basah dengan curah hujan merata sepanjang tahun. Wilayah ini dihuni oleh beragam suku, namun suku paling dominan adalah Suku Dayak yang tinggal di daerah pedalaman. Selain itu, ada pula suku dari Melayu yang berada di kawasan pesisir. Etnik ketiga yang cukup besar menghuni daerah Kalimantan Barat adalah dari tanah Jawa yang basis permukiman mereka berada di daerah-daerah transmigrasi.

Masyarakat Kalimantan Barat juga terbiasa menggunakan bahasa ibu atau bahasa Indonesia untuk percakapan sehari-hari. Namun ada juga bahasa sehari-hari yang sangat khas dengan daerah Kalimantan Barat, yang mana sebagian masyarakat menggunakan dialek bahasa khas Suku Dayak. Lantaran banyaknya suku yang ada di daerah ini tentu saja ada beragam kebudayaan yang menjadi ciri khas dari provinsi Kalimantan Barat. Selain bahasa daerah, salah satu yang cukup menarik adalah senjata tradisional khas Kalimantan Barat. Senjata tradisional yang ada di sana kemungkinan juga dipengaruhi oleh kerajaan yang sebelumnya dipercaya mengampu daerah ini. Selain itu, keberadaan Suku Dayak yang mendominasi daerah ini juga memiliki peran yang cukup penting dalam menentukan benda-benda sejarah yang ada di Kalimantan Barat. Sebab banyak sekali kebudayaan Suku Dayak yang lantas menjadi identitas dan kearifan lokal dari Kalimantan Barat termasuk untuk peninggalan senjata tradisionalnya.

Ragam Senjata Tradisional Kalimantan Barat

Sipet

senjata-tradisional-kalimantan-barat
sipet (smber gambar: sampit.ptokal.co)

Sipet atau sumpitan merupakan senjata tradisional Kalimantan Barat yang terbuat dari batang kayu yang keras berdiameter 2-3 sentimeter dengan panjang kira-kira 1,5 meter sampai 2,5 meter. Pada bagian tengah senjata ini terdapat lubang dengan diameter lubang sekitar ¼ sampai ¾ sentimeter. Lubang ini berfungsi sebagai laras untuk meluncurkan dan menembakkan anak sumpit atau disebut ‘damek’. Dimana ‘damek’ ini terbuat dari bambu yang ujungnya diberi racun atau bisa dari getah pohon ipuh atau pohon iren yang mereka sebut ‘ipu’. Konon, bisa atau racun yang disematkan pada senjata tersebut sangat mematikan dan belum ada penawarnya hingga saat ini. Berdasarkan cerita turun-temurun, ipuh atau racun dari anak sumpit dapat melumpuhkan seekor beruang dan harimau dalam waktu kurang lebih 10 menit. Bahkan Suku Dayak pedalaman yang banyak menggunakan senjata ini terbilang sangat lihai. Tingkat akurasi tembak mencapai jarak 200 meter saat berburu.

Lonjo atau Tombak

senjata-tradisional-kalimantan-barat
lonjo (sumber gambar: kerisku.id)

Senjata tradisional ini biasa digunakan untuk berburu dan juga berperang oleh tentara Nusantara pada masa lampau. Sebab dahulu kurangnya bahan besi untuk membuat senjata berupa pedang dan akhirnya banyak yang berinisiatif untuk menggunakan lonjo atau tombak. Lonjo atau tombak ini terdiri dari tongkat sebagai pegangannya dan kepala tombak atau mata yang tajam dan diperkeras serta berbentuk runcing. Biasanya mata tombak dibuat dari bahan lain dari bahan logam agar lebih mematikan saat digunakan berperang.

Perisai atau Telawang

senjata-tradisional-kalimantan-barat
telawang (sumber gambar: borneochannel.com)

Perisai atau telawang merupakan senjata tradisional yang terbuat dari bahan kayu, kulit binatang atau tempurung kura-kura. Senjata ini memiliki panjang 1 sampai 2 meter dan lebar 30 sampai 50 sentimeter. Bagian luar atau bagian depan dari senjata ini terdapat sebuah ukiran atau lukisan yang memiliki makna tertentu, sedangkan pada bagian dalam atau belakang terdapat sebuah tempat pegangan. Perisai berfungsi sebagai penahan diri dari segala kerusakan dan serangan lawan, misalnya saja dari serangan anak panah dan pedang. Keberadaan perisai biasanya juga didampingi dengan senjata lain yang berguna untuk menyerang lawan. Sebut saja seperti pedang, tombak, dan gada.

Mandau

senjata-tradisional-kalimantan-barat
mandau (sumber gambar: merahputih.com)

Senjata ini mempunyai nama asli Mandau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau. Senjata tradisional dari Kalimantan Barat ini bahkan selalu dirawat dengan baik oleh para pemiliknya karena dianggap keramat. Mandau biasanya terbuat dari bahan dasar seperti batu mujat, batu sanaman mantikei, dan batu montalat. Sama dengan senjata lainnya, mandau juga menjadi senjata turun temurun yang dianggap sebagai senjata keramat dan mempunyai nilai religius. Bentuknya yang panjang dan terdapat sebuah ukiran dari emas, perak, dan tembaga seakan menjadi ciri khas tersendiri. Senjata ini juga dihiasi dengan bulu burung bahkan rambut manusia.

Dohong Atau Duhung

senjata-tradisional-kalimantan-barat
dohong (sumber gambar: cintaindonesia.web.id)

Dohong merupakan senjata tradisional yang mirip dengan keris, namun memiliki ukuran yang lebih besar dan tajam pada kedua sisinya. Bagian atas senjata ini terbuat dari tanduk dan sarungnya terbuat dari kayu. Dohong sebagai senjata tradisional masyarakat Kalimantan Barat biasa digunakan untuk berburu dan bercocok tanam. Namun berdasarkan sejarah, kabarnya senjata ini hanya boleh digunakan oleh raja-raja atau kepala suku dari daerah tersebut. Dohong atau duhung ini kabarnya merupakan senjata tertua dari Suku Dayak.

Pada dasarnya dohong merupakan sebuah mata tombak yang dapat pula digunakan sebagai pisau. Senjata ini dilengkapi dengan sebuah kerangka yang terbuat dari kayu. Di masa lampau, dohong dipergunakan untuk alat perang suku setempat melawan para penjajah. Namun saat ini banyak yang menggunakan senjata tradisional Kalimantan Barat ini untuk memotong pusar bayi yang baru lahir dan sebagai penyembelih hewan kurban.

Meskipun demikian, tentu saja keberadaan senjata tradisional tersebut bisa jadi hanya sekedar sejarah semata. Pasalnya kini semakin modern zaman dan perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat keberadaan benda-benda sejarah semakin tersisih. Termasuk keberadaan senjata, dimana kini sudah banyak alat-alat modern yang digunakan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Namun bagi masyarakat pedalaman atau suku-suku tertentu tak jarang masih ditemui senjata tradisional tersebut. Terlebih keberadaan Suku Dayak di pedalaman Kalimantan Barat tentu saja membuat mereka masih tetap memperhatikan keberadaan senjata tradisional sebagai warisan leluhur.

Meskipun tentu ada beberapa senjata tradisional yang kini mulai ditinggalkan dan menggantinya dengan sejumlah peralatan modern, namun untuk mengenang sejarah sudah seharusnya generasi tua mewariskan pengetahuan dan keberadaan benda-benda sejarah agar generasi penerus tidak lupa dengan budaya leluhur mereka.