Senjata Tradisional Sulawesi Selatan, Alat Pertahanan Diri Pelaut Sulawesi

Posted on
senjata-tradisional-sulawesi-selatan
badik (sumber gambar: liputan6.com)

Senjata Tradisional Badik – Pulau Sulawesi menurut beberapa ahli sejarah telah dihuni manusia sejak 30.000 tahun silam. Penemuan tertua ditemukan di gua-gua dekat bukit kapur di daerah Maros sekitar 30 kilometer timur laut Provinsi Sulawesi Selatan. Selama masa kejayaan perdagangan rempah-rempah pada abad ke-15 sampai ke-19 Sulawesi Selatan berperan sebagai pintu gerbang ke Kepulauan Maluku. Dahulu, Maluku dikenal sebagai salah satu daerah penghasil rempah-rempah. Kerajaan Gowa dan Bone merupakan kekuatan yang paling perkasa dalam memainkan perananan penting di dalam sejarah Kawasan Timur Indonesia pada sama lampau.

Pada abad ke XVI dan XVII ada tiga kerajaan besar yang berpengaruh luas di Sulawesi Selatan yakni Kerajaan Luwu, Gowa, dan Bone. Usai kemerdekaan dikeluarkanlah UU Nomoe 21 Tahun 1950 dyang berisi Sulawesi Selatan menjadi provinsi administratif dan selanjutnya terus disempurnakan dengan ditetapkannya UU Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. Sebagai daerah otonom yang berhak mengatur kinerja pemerintahannya sendiri, tentu saja Sulawesi Selatan memiliki sejumlah peraturan-peraturan khusus.

Meski patuh terhadap ketentuan yang telah ditetapkan oleh Negara karena menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, Sulawesi Selatan masih kaya akan budaya dan kearifan lokal yang dipegang teguh hingga saat ini. Budaya yang ada di daerah Sulawesi Selatan tentu saja tidak terlepas dari keberadaan kerajaan yang pernah eksis pada masa silam. Nilai-nilai budaya ini tercermin dalam beberapa kehidupan seperti busana adat, rumah adat dan senjata tradisional. Sedangkan untuk senjata tradisional yang ada di daerah Sulawesi Selatan memang terbilang cukup asing terlebih bagi yang tidak berasal dari Pulau Sulawesi.

Sulawesi Selatan yang banyak dihuni oleh Suku Bugis sejak zaman dahulu memang dikenal sebagai masyarakat yang hobi merantau. Keberanian dalam mengarungi samudera lewat pelayaran menggunakan kapal-kapal sederhana masih menjadi kenangan manis bagi generasi penerus yang ada di Sulawesi Selatan. Berkat keberanian inilah, masyarakat Sulawesi Selatan berhasil merubah peruntungan dan nasib membuat saat ini banyak ditemui suku-suku ini di pesisir pantai yang ada di Nusantara. Senjata tradisional dari daerah Sulawesi Selatan biasanya digunakan untuk mempertahankan diri serta melakukan kegiatan lain yang berhubungan dengan perekonomian.

Senjata Tradisional Sulawesi Selatan

Badik

senjata-tradisional-sulawesi-selatan
badik (sumber gambar: liputan6.com)

Dalam masyarakat Bugis, badik ini dilafalkan atau disebutkan dengan istilah badek. Budaya khas Sulawesi Selatan ini merupakan senjata yang berupa pisau tajam dan runcing dengan pegangan yang melengkung. Bilah tajam pada senjata ini digunakan untuk menikam, sedangkan ujungnya yang lancing digunakan untuk menusuk. Karena kegunaannya, senjata tradisional Sulawesi Selatan yang bernama badik ini termasuk dalam jenis senjata tikam tusuk.

Badik sebetulnya tidak hanya ditemukan dalam budaya masyarakat Suku Bugis saja. Senjata ini juga bisa ditemui dalam budaya masyarakat Makassar dan Mandar. Bentuknya yang mungil dan ukurannya yang pendek membuat senjata ini sering dibawa oleh pria saat bepergian. Tak hanya sebagai salah satu senjata yang berguna untuk mempertahankan diri, badik juga bisa digunakan untuk memberikan rasa aman kepada yang membawanya. Badik merupakan senjata yang sangat populer di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan dan memiliki macam-macam nama yang berbeda, diantaranya adalah:

  • Badik Raja

Badik raja memiliki ukuran yang lebih besar dan panjang dibandingkan jenis badik lainnya, yaitu memiliki panjang antara 20 hingga 25 sentimeter. Bentuknya seperti badik lampo battang dengan bilah yang membungkuk dan perut bilah yang membesar. Badik ini dibuat dari logam berkualitas tinggi dan kerap dilengkapi dengan pamor keindahan pada bagian hulunya, seperti pamor timpalaja atau pamor mallasoancale. Sesuai dengan namanya, senjata tradisional ini dahulunya kerap digunakan oleh para raja-raja Bone yang berkuasa. Berdasarkan kepercayaan masyarakat Sulawesi Selatan, percaya jika badik raja atau yang dikenal dengan nama lain gencong raja ini dibuat oleh mahkluk halus sehingga tak heran jika benda atau senjata ini memiliki nilai sakral dan terkenal sangat magis.

  • Badik Lagecong

Berdasarkan kepercayaan masyarakat Sulawesi Selatan, dahulunya badik ini sering digunakan untuk berperang atau saat dalam keadaan terdesak. Sekali melukai, lawan tak akan butuh lama untuk menghembuskan napas terakhirnya jika sudah terkena tusukan badik lagecong ini. Karena khasiat dan kegunaan senjata ini, badik lagecong yang sangat ampuh membuatnya memiliki nilai kehormatan tersendiri. Bahkan kini banyak yang mencari senjata tradisional dari Sulawesi Selatan ini sebagai koleksi. Ukuran badik lagecong ini sangat mungil hanya sejengkalan orang dewasa saja, meski bentuknya sangat kecil tapi senjata ini sangat mematikan. Itulah yang menambah nilai keunikan sehingga banyak diburu para kolektor benda-benda kuno.

  • Badik Luwu

Sesuai dengan namanya, badik luwu ini berasal dari budaya masyarakat kabupaten Luwu di masa silam. Senjata ini berbentuk membungkuk seperti bungkuk kerbau (mabbuku tedong). Bilahnya lurus dan meruncing di bagian ujung. Sebagian masyarakat Bugis percaya bila budik ini disepuh dengan bibir kemaluan gadis perawan, maka orang dengan ilmu apapun akan mati bila ditusuk.

  • Badik Lompo Battang

Dalam bahasa masyarakat Bugis, lompo battang berarti perut besar. Maka tak heran jika senjata ini jika dilihat dari bentuk dan bilahnya memang menyerupai perut yang besar. Jenis senjata tradisional Sulawesi Selatan ini juga tak kalah unik dari badik yang lainnya. Tak heran jika badik lompo battang juga banyak diburu oleh para kolektor benda kuno dan memiliki nilai atau harga yang tentunya cukup mahal.

Keris Sulawesi Selatan

senjata-tradisional-sulawesi-selatan
keris Sulawesi Selatan (sumber gambar: sinovnews.com)

Keris ternyata menjadi senjata tradisional yang juga dikenal oleh masyarakat Sulawesi Selatan. Dalam bahasa masyarakat Bugis keris disebut dengan kawali, sedangkan bagi masyarakat Makassar keris dinamakan seleq. Bedanya dengan keris yang ada di Pulau Jawa adalah lekukan pada keris khas daerah Sulawesi Selatan berjumlah ganjil yakni 7,9 atau 13. Bahan untuk pembuatan keris ini juga tidak sembarangan, jika masyarakat Jawa menggunakan logam sebagai material pembuatan keris, di daerah Sulawesi Selatan percaya jika tahap awal pembuatan keris ini bahannya adalah dari batu meteor yang telah mengeras. Oleh sebab itu, kawali tidak terdeteksi oleh alat detektor metal. Setiap kawali memiliki aura yang biasa disebut dengan pamor yang berbeda-beda. Panrita (empu) yang membuat keris atau kawali ini bukan yang menciptakan pamor pada keris tersebut. Namun pamor itu tercipta sendiri setelah keris selesai ditempa.

Bagi yang percaya dengan nilai-nilai magis yang ada pada senjata tradisional daerah Sulawesi Selatan ini tentu akan menjadikan senjata tidak hanya sebagai alat untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Penduduk Sulawesi Selatan juga menjadikan senjata tradisional sebagai aji-aji yang dipercaya bisa membawa keberuntungan atau menambah aura positif pada pemiliknya. Meski kini telah banyak senjata modern yang hadir, generasi muda tidak boleh mengabaikan keberadaan senjata tradisional yang ada di setiap daerah. Alasannya karena senjata-senjata ini merupakan salah satu bentuk dari warisan para leluhur yang harus terus dilestarikan dan dijaga keberadannya.