Tari Adat Banten, Daya Tarik Pariwisata Warisan Nenek Moyang

Posted on
tari-adat-banten
tari topeng tani (sumber gambar: fokusjabar.co.id)

Tari Topeng TaniBanten merupakan salah satu provinsi yang bisa dibilang masih sangat muda di Indonesia. Meski demikian Banten tetap memiliki banyak ciri khas dan keunikan tersendiri, mulai dari kuliner, seni budaya, wisata belanja, tingkat kereligiusan, dan masih banyak lagi. Diantara banyak keunikan banten, salah satu yang paling populer adalah keberadaan suku Badui yang bermukin di daerah ini. Kesenian masyarakat suku Badui bahkan masih dilestarikan turun temurun dari nenek moyang hingga saat ini, sebut saja seperti kesenian debus yang masih terus dikembangkan oleh para generasi milenial.

Bukan hanya kesenian debus, ada juga beberapa kesenian lain dari daerah Banten yang masih dilestarikan sampai sekarang. Tari tradisional Banten terus dilestarikan sebagai salah satu daya tarik pariwisata bagi provinsi ini. Hampir sama dengan beberapa daerah lainnya, kesenian tari tradisional dari Banten juga cukup unik untuk diulas.

Macam Macam Tarian Banten

  1. Tari Maler Bedug

tari-adat-banten
tari rapak bedug Banten (sumber gambar: banten.travel)

Tarian Banten bernama tari maler bedug ini merupakan pembaharuan dari tari rampak bedug yang terinovasi dari berbagai musik tradisi Banten serta gerakan dari sifat terumbu dan bedug pamarayan. Tarian ini biasanya digunakan sebagai tari pembuka dalam sebuah acara penyambutan tamu. Tarian ini merupakan perpaduan dalam tari maler bedug yang diartikan sebagai tarian tradisional dengan menggunakan alat musik bedug yang dilakukan secara serentak.

  1. Tari Ngebaksakeun

tari-adat-banten
tari ngebaksakeun (sumber gambar: youtube.com)

Jenis tarian ini adalah kesenian daerah Banten yang diadopsi dari pijakan silat terumbu dengan gaya silat Kabupaten Pandeglang, biasanya pertunjukan ini dihelat untuk menyambut tamu yang datang. Durasi tarian ngebaksakeun pada umumnya hanya sebentar saja yakni 5 menit dengan menggunakan kostum yang didominasi warna biru.

  1. Tari Grebeg Terbang Gede

tari-adat-banten-
tari grebeg terbang gede (sumber gambar: senibudayaasia.blogspot.com)

Tarian daerah Banten ini merupakan tarian kreasi yang diambil dari kesenian terbang gede yang berasal dari Kota Serang, namun tarian ini sudah dikombinasi dengan gerakan pencak silat khas Banten. Kini tari grebeg terbang gede ini biasa dijadikan sebagai tarian selamat datang untuk mneyambut tamu agung. Tari grebeg terbang gede dipertunjukkan dengan diiringi alat musik utama yaitu terbang besar (gede). Alat ini pada mulanya digunakan sebagai alat penyebaran agama Islam, kemudian berkembang menjadi beberapa upacara ritual misalnya ruwatan rumah, ngarak penganten, hajat bumi, syukuran bayi, dan juga untuk hiburan. Tari grebeg terbang gede biasanya dilakukan oleh beberapa pria yang sudah lanjut usia dan terdiri dari penabuh terbang gede, penabuh pengarak, penabuh sela, penabuh kempul, dan penabuh koneng yang akan diiringi dengan shalawatan Nabi berbahasa Jawa atau Arab. Sedangkan grebeg sendiri diambil dari bahasa Jawa Banten yang berarti dirempung sebagai simbol masyarakat Banten yang religius, terbuka dan ramah.

  1. Tari Topeng Tani Banten

tari-adat-banten
tari topeng tani (sumber gambar: fokusjabar.co.id)

Tarian khas Banten ini dilatarbelakangi dengan kondisi masyarakat Indonesia khususnya kaum muda yang sudah malu dan tidak mau menjadi petani. Dalam tarian topeng tani, para penari akan menggunakan topeng yang terbuat dari anyaman bambu. Pesan yang ingin disampaikan dari tarian ini adalah menjadi seorang petani merupakan pekerjaan yang membanggakan, bahkan nenek moyang di Indonesia juga dikenal sebagai petani yang ulung. Oleh sebab itulah, Indonesia dijuluki sebagai Negeri pertanian yang makmur. Pertunjukkan tari topeng tani Banten biasanya dilakukan oleh satu orang pria, namun bisa juga lebih sesuai dengan kebutuhan acara. Meski ditarikan oleh seorang pria, namun gerakan tarian Banten ini terlihat sangat gemulai.

  1. Tari Cokek Banten

tarian-betawi
tari cokek (sumber gambar: adat-tradisional.blogspot.com)

Awalnya tarian tradisional Banten ini dilakukan oleh tiga orang penari wanita, namun saat ini jumlah penarinya bisa lebih dan terkadang ada juga beberapa pria saat pertunjukkan dengan memegang peran memainkan alat  musik. Saat pertunjukkan, busana para penari pria ada disesuaikan dengan ciri khas busana penari wanita yang menggunakan kebaya serta kain panjang untuk bawahan. Kebaya yang digunakan pada tarian Banten pada umumnya berwarna terang dan berkilau saat terkena lampu. Warna-warna yang digunakan biasanya adalah hijau, kuning, merah, dan ungu lengkap dengan selendang. Tarian ini biasanya dipertunjukkan sebagai penyambutan tamu kehormatan dan juga pada saat acara pernikahan. Dalam tarian cokek, para penari wanita biasanya akan mengajak tamu pria yang menjadi undangan untuk menari bersama-sama. Penari wanita akan mengalungkan selendang di leher tamu pria yang akan diajak menari di panggung. Masyarakat setempat juga menganggap jika ketika selendang tersebut dikalungkan maka pantang untuk ditolak.

  1. Tari Dzikir Saman

tari-adat-banten
tari dzikir saman (sumber gambar: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Meski dari namanya tarian ini mirip dengan tari saman yang berasal dari daerah Aceh, namun pada dasarnya keduanya sangatlah berbeda. Penari tari saman Banten ini biasanya adalah pria, nantinya mereka akan membentuk lingkaran sambil berputar dan menyebut shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Seni dzikir saman ini tidak diiringi dengan alat musik, melainkan hanya diisi dengan nyanyian yang mengagungkan asma Allah dengan gerakan tubuh yang berputar. Tari dzikir saman ini sudah ada sejak jaman dahulu, biasanya kesenian ini dihelat dalam beberapa acara seperti Khol Syeh Abdul Khodir, Rassulan, Jailani, dan beberapa acara berbau keagamaan lain. Kesenian dzikir saman ini bertujuan untuk kegiaan sosial, hiburan, sekaligus pendidikan. Bagian hiburan terletak pada babak ketiga, yaitu saat para penonton mengikuti para penari menarikan setiap gerakan mengikuti alunan beluk atau lengkingan. Para penari dzikir saman dibagi atas dua kelompok besar. Kelompok pertama berjumlah 2 sampai 4 orang sebagai vokalis untuk membacakan syair Barjanji, sedangkan kelompok kedua berisi 20 sampai 40 orang pria yang bertugas sebagai pengiring suara lengkingan.

  1. Tari Katuran

tari-adat-banten
tari katuran (sumber gambar: youtube.com)

Kesenian asal Banten ini bernama tari katuran yang pada dasarnya merupakan sebuah tarian yang bertujuan untuk menyambut tamu. Artinya, tarian ini memiliki arti penghormatan dan juga ajakan agar banyak orang yang mau berkunjung ke Banten. Tarian ini biasanya dilakukan oleh wanita dengan busana dasar putih yang dibalut dengan kain mencolok. Seperti tarian Banten lainnya, tari katuran juga memperlihatkan gerakan yang sangat indah.

  1. Tari Gitik Cokek

tari-adat-banten
tari gitik cokek (sumber gambar: gpswisataindonesia.wordpress.com)

Tarian ini sudah berkembang di daerah Kabupaten Tangerang, Banten, sejak abad ke-19. Para penari saat pementasan memakai kebaya yang disebut dengan cokek. Tarian gitik cokek pada dasarnya memiliki kemiripan dengan tari ronggeng Jawa Tengah dan juga tari sintren Cirebon. Pada awalnya, tari gitik cokek ini diadakan oleh tuan tanah yang berkebangsaan Tionghoa. Masyarakat setempat pada waktu itu mempersembahkan tiga orang penari sebagai bentuk partisipasi dalam pesta hiburan rakyat. Hal menarik dalam tarian ini adalah gerak tubuh para penari yang sangat pelan sehingga mudah untuk diikuti. Tari gitik cokek diawali dengan formasi memanjang dan menggerakan kaki secara maju mundur serta tangan yang direntangkan setinggi bahu. Tarian ini sering dianggap dengan erotis dan dianggap tabu pada sebagian orang karena pria dan wanita menari secara berpasangan bahkan saling berdempetan. Busana yang digunakan para penari adalah kebaya dari kain sutra berwarna cerah yakni hijau, merah, kuning dan ungu. Rambut penari wanita dibentuk kepang atau disanggul untuk menambah kecantikan para penarinya.

Tarian Banten kini tak hanya dijadikan sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan oleh generasi muda, namun juga dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai promosi daerah. Tak heran jika masih ada kalangan yang menjaga keaslian dari gerakan hingga alat musik pengiring dari tarian tradisional di daerah Banten ini.