Tari Cendrawasih, Sendratari Asal Bali Penuh Makna Cinta

Posted on
tari-cendrawasih
Tari Cendrawasih (sumber gambar: id.wikipedia.org)

Tari Cendrawasih – Suasana sakral dan khusuk dalam sebuah ritual upacara keagamaan Hindu, Tawur Agung Lebuh Gentuh, di pelataran Candi Satu Gedong Songo terasa lebih hidup dengan menampilkan sebuah sajian seni tari yang berasal dari Bali. Tarian tersebut mempunyai makna atau simbol dari cinta kasih abadi. Ya, sebuah tari bernama Tari Cendrawasih yang merupakan tari kreasi baru yang menceritakan tentang sepasang burung Cendrawasih yang sedang memadu kasih di sebuah hutan yang jauh dari tangan manusia.

Tari Cendrawasih merupkan kultur tarian yang diaransemen oleh Swasthi Wijaya Bandem yang banyak sekali ditarikan. Tari gubahan Swasti Wijaya lebih populer dibanding kareografer aslinya yang merupakan seorang seniman dari Bali bernama I Gede Manik yang pertama kali menampilkan tarian ini pada tahun 1920 di subditrik Sawan, Kabupaten Buleleng. Tari Cendrawasih diciptakan karena terinspirasi dari kehidupan burung cendrawasih yang menggambarkan keabadian cinta. Burung ini bagi masyarakat Bali dianggap sebagai simbol perjalanan cinta kasih yang abadi di dunia.

Saat akan melakukan pertunjukan tarian ini diperlukan persiapan yang cukup lama. Mulai dari persiapan persembahan yang beraneka ragam mulai dari persembahan hewan, buah-buahan dan makanan sampai pertunjukan seni budaya Bali tari-tarian hingga pertunjukan wayang kulit. Tari Cendrawasih termasuk dalam tarian berpasangan yang ditarikan oleh dua remaja putri Bali. Komposisinya dapat dibuat variatif, artinya walaupun tarian ini bisa dilakukan secara berpasangan dengan jumlah yang bisa lebih dari satu pasang penari.

Biasanya gerakan dalam tarian ini pada awalnya menampilkan pasangan penari yang berpedan sebagai burung Cendrawasih betina dan kemudian disusul dengan satu penari lainnya yang berperan sebagai burung Cendrawasih jantan. Tari Cendrawasih mengacu pada gerak dasar tari klasik Bali yang mempunyai ciri khas seperti agem burung dengan gerak tangan yang membentang serta dengan gerak kaki yang lincah. Gerakan yang dianggap cukup penting lainnya adalah gerak agem mata yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Agem sendiri merupakan sifat pokok dalam tari Bali.

Busana Penari

Busana yang digunakan dalam tarian ini yakni menggunakan gelungan pada bagian rambut yang ditambah dengan mahkota dari kulit binatang berwarna emas. Pada bagian badan menggunakan angkin yang menutup dada sampai perut bawah. Kemudian pada bagian bawah menggunakan rok berwarna merah dengan motif prade. Sayapnya berupa kain warna merah dengan hiasan warna oranye di bagian pinggir. Selain itu, para penarinya juga menggunakan cukup banyak aksesori lainnya diantaranya adalah gelang tangan, kalung leher, hiasan bunga mawar di bagian kepala, dan rumbing atau subang yang merupakan hiasan telinga. Riasannya termasuk riasan putri halus yang candik namun ada satu elemen yang penting dalam tata rias para penari Cendrawasih yang terletak pada kelopak mata yang menggunakan gradasi eyeshadow warna kuning, merah dan biru menyatu.

Iringan Musik

Iringan musik yang mengiringi tarian ini menggunakan paduan musik gamelan klasik Bali dengan beberapa alat musik Bali lainnya seperti Pereret, Cingcang, dan Genggong. Setiap tabuhan musik yang rancak ini diselaraskan dengan gerak penarinya yang menjadi satu kesatuan. Tari Cendrawasih juga menjadi tarian dalam sebuah ritual keagamaan dengan simbol cinta abadi dalam bentuk burung surgawi atau Cendrawasih. Burung ini dianggap sangat menginspirasi untuk dilakukan dalam kehidupan manusia di dunia yang bersandar kepada Yang Maha Kuasa.