Tari Datun Julud, Kesenian Selamat Datang Dari Suku Dayak Kenyah

Posted on
tari-datun-julud
Tari datun julud (sumber gambar: youtube.com)

Tari Datun Julud – Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku, ras, dan budaya tentu memiliki cara-cara tersendiri untuk mengekspresikan suasana hati mereka. Ada banyak cara yang bisa dilakukan sebagai perwujudan atau ekspresi kegembiraan, salah satunya terbentuk dalam tarian daerah. Misalnya saja adalah Tari Kancet Datun yang dianggap sebagai simbol rasa syukur. Meski awalnya tarian ini ditunjukan sebagai tanda syukur atas kesembuhan penyakit istri Anyi Selong salah seorang bangsawan di Suku Dayak Kenyah.

Seiring dengan perkembangan zaman, kini banyak perubahan fungsi dari tarian tradisional. Tarian yang juga dikenal dengan nama Tari Kancet Datun Julud dijadikan sebagai tarian untuk menyambut kedatangan tamu dan acara festival budaya, dengan begitu tanda syukur dan rasa gembira terus lestari dalam tarian ini. Gembira dalam menyambut tamu ataupun sekedar bersua dengan kawan. Kancet Datun Julud berasal dari bahasa Kenyah, dimana kata ‘Kancet’ berarti tari dan kata ‘Datun’ dapat dipahami sebagai perjalanan panjang yang membentuk lingkaran, sementara kata ‘Julud’ berarti berbaris atau berjejer.

Tarian ini merupakan tarian bersama wanita Suku Dayak Kenyah dengan jumlah yang tak pasti bisa diikuti oleh 10 hingga 20 orang. Tarian ini merupakan tarian tradisional wajib bagi Suku Dayak Kenyah. Biasanya suku Dayak Kenyah bisa melakukan tarian ini di berbagai acara seperti upacara adat dan Mecaq Undat atau pesta panen. Bahkan dahulu, tarian ini bisa dipentaskan seharian penuh saat merayakan kemenangan dalam perang. Kala itu tarian ini dibawakan saat uman undrat atau upacara pesta panen di Desa Budaya Lung Anai, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, pada 21 Mei 2016.

Tari Kancet Datun Julud dibawakan oleh para wanita dengan busana adat tradisional wanita Kenyah yakni sapeq dan ta’a. Para penari juga menggunakan penutup kepala berupa topi bulu yang disebut dengan tapung puk serta dilengkapi dengan kirip (bulu burung) di kedua belang tangan yang menjadi ciri khas dari semua tari-tarian yang dilakukan oleh perempuan di Suku Dayak Kenyah. Ciri khas lainnya adalah gerakan yang lemah lembut, semua bergerak mengikuti irama musik. Denting berpadu dengan lambaian lembut tangan para anak penari, lemah lembut gerakan para penari berpadu dengan hiasana bulu burung di tangan membuat Tari Kancet Datun Julud ini terlihat sangat anggun.

Iringan Musik

Kancet Datun Julud dipentaskan dengan iringan musik tradisional dari Suku Dayak Kenyah. Ada dua alat musik yang biasa digunakan yakni sampe’ ikeng dan jateng utang. Sampe’ ikeng berbentuk seperti gitar dan jateng utang terbuat dari batangan kayu yang satu sama lainnya dirangkai dan diikat dengan tali rotan. Tiap lempengan kayu yang tersusun tersebut memiliki nada tersendiri. Jatung utang biasanya dibuat dari batang kayu lempung dengan panjang sekitar 20-50 cm dan lebar 5-10 cm yang dibunyikan dengan cara memukul dengan 2 alat pemukul yang disebut tit atau petit. Biasanya terdapat dua instrumen yang digunakan, satu orang memainkan melodi dan yang lainnya sebagai penyeimbang instrumen. Tetapi bisa juga ada dua orang yang bermain melodi dan iringan bergantian untuk memberikan variasi lagu.

Dahulu alat musik ini tidak dimainkan untuk mengiringi belian atau lagu maupun tarian, tapi sekarang jatung utang juga dimainkan untuk mengiringi lagu dan tarian. Bahkan jatung utang biasanya dimainkan ketika musim tanam tiba sejak ladang dibakar atau tau nugan dan saat panen tiba atau tau majau. Jatung utang bisa juga digunakan untuk mengusir hewan yang biasanya merusak tanaman seperti babi, rusa, monyet, dan burung.

Asal Usul Tarian

Tari Kancet Datun Julud memang kurang populer bagi masyarakat Indonesia secara luas. Pada dasarnya tarian ini berasal dari daerah Kalimantan Timur, namun kepopulerannya tidak seperti Tari Enggang. Bagi para pecinta kesenian tradisional tentu saja tarian ini memiliki daya tarik tersendiri. Tari Datun Julud sebenarnya memiliki dua versi yang berbeda, yang cukup populer di kalangan masyarakat adalah tarian lemah gemulai yang menggunakan properti bulu burung enggang dengan iringan tari berupa alat musik sampe dan jatung utang.

Padahal ada versi lain dari tarian ini yakni menggunakan gerakan yang memiliki beberapa tempo cepat tapi tidak mengubah gerakan indah dari tubuh si penari. Dengan menggunakan properti tongkat dari kayu jati yang panjangnya berkisar antara 90-130 sentimeter. Tari Kancet Datun Julud merupakan kesenian untuk menunjukkan rasa syukur dan gembira khsususnya untuk upacara panen dengan musik iringan sampe dan ketipung, sehingga helatan acara dapat memunculkan suasana semangat dengan bunyi khas hentakan dari tongkat yang dibawa oleh para penari.

Tari Kancet Datun Julud merupakan kesenian yang populer untuk masyarakat sekitar, Suku Dayak Kenyah/ Kayan yang sebagian besar berdiam di pedalaman Kutai, Bulungan, Berau, dan Pasir yang merupakan perpaduan antara Sarawak dan Kalimantan Timur. Asal usul tarian Datun Julud diciptakan oleh seorang raja suku Dayak Kenyah di Apo Kayan bernama Nyik Selong sebagai tanda kegembiraan serta rasa syukurnya kepada Maha Dewa atas kelahiran cucunya. Namun pada sumber lain menyebutkan bahwa tari Kancet Datun Julud tercipta setelah sembuhnya istri Nyik Selong dari sakit yang cukup lama. Usai sembuhnya istri Nyik Selong, tari Kancet Datun Julud banyak dimintai oleh masyarakat dan terus berkembang di daerah luar Suku Dayak Kenyak, Sarawak.

Tarian yang ditarikan secara berkelompok ini biasanya dipentaskan pada hari-hari besar ataupun untuk merayakan kedatangan pelawat ke rumah panjang terutama pelancong luar negeri. Wanita Dayak Kenyah akan berkumpul terlebih dahulu untuk membawakan tarian ini pada waktu petang.

Busana Penari

Karena tarian Datun Julud ini merupakan tarian untuk hiburan di rumah panjang biasanya para penari hanya menggunakan pakaian seadanya. Berbeda dengan kedatangan tamu terhormat atau untuk menyambut hari besar, penari akan menggunakan busana tradisional Dayak Kenyah dengan motif yang bervariasi. Busana sapai dan ta’a bermotif dengan lengan pendek akan digunakan pada perayaan penting, atau bisa juga mengenakan pakaian bawahan sarung yang disebut taah. Tidak lupa dilengkapi pula dengan penutup kepala topi bulu (tapung puk), atau bisa juga mengenakan penutup kepala sederhana. Di bagian tangan dilengkapi dengan rumbai-rumbai sebagai aksesori, atau juga bisa menggunakan bulu burung enggang yang diletakkan di sela-sela jari kedua tangan para penari. Tidak ada maksud tertentu, hiasan pada tangan hanya digunakan untuk pelengkap properti saja.

Tarian ini biasanya dibawakan tanpa menggunakan alas kaki. Dalam kesempatan inilah, penari-penari wanita akan dinilai dari segi kecantikan dan kebolehan menari. Para penari wanita yang menarikan tari Kancet Datun Julud dengan lemah gemulai, lenggokan badan, dan ayunan yang elok menggambarkan sisi kelembutan dan sopan santun para wanita Suku Dayak Kenyah. Saat persembahan dilakukan biasanya mereka akan menari mengelilingi ruai Ketua Kampung atau rumah panjang. Persembahan ini menjadi sangat meriah karena para penonton yang hadir akan berteriak sebagai pertanda mereka memberikan semangat kepada para penari.