Tari Kecak, Kesenian Bali Daya Tarik Wisatawan Asing

Posted on
tari-bali
tari kecak (sumber gambar: pegipegi.com)

Tari Kecak – Bali merupakan salah satu pulau di Indonesia yang namanya sangatlah populer di kalangan wisatawan. Tidak hanya wisatawan domestik, keindahan dan eksotisme Pulau Bali juga menjadi daya tarik wisatawan asing untuk berkunjung ke sana. Selain itu daya tarik lain yang ada di Pulau Bali budaya asli nenek moyang yang masih dilestarikan hingga saat ini. Kebudayaan yang ada di Bali memang terbilang unik karena memiliki ciri khas tersendiri, salah satunya adalah kesenian daerah yang masih ada sampai sekarang.

Misalnya saja adalah tari tradisional yang dilestarikan sampai sekarang bahkan menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke Pulau Bali. Tari Kecak menjadi kesenian tradisional di daerah Bali yang memiliki keunikan tersendiri. Selain itu tarian ini juga memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Bali. Tari Kecak atau biasa disebut Tari Cak atau Tari Api. Tarian ini merupakan tarian pertunjukan hiburan masal yang menggambarkan seni peran dan tidak diiringi oleh alat musik atau gamelan. Tarian ini hanya diiringi dengan paduan suara kelompok penari laki-laki berjumlah sekitar 70 orang yang berbaris melingkar memakai kain penutup kotak-kotak berbentuk papan catur.

Tari Kecak sangat sakral jika dilihat penarinya yang terbakar api. Namun pada dasarnya sang penari tidak terbakar oleh serangan api karena memiliki kekebalan atau ilmu yang di luar nalar. Tari Kecak juga sering disebut Tari Sanghyang yang dipertunjukkan sewaktu-waktu untuk upacara keagamaan. Penari biasanya kemasukan roh dan bisa berkomunikasi dengan para dewa atau para leluhr yang telah disucikan. Penari tersebut dijadikan sebagai media untuk menyatakan sabda-Nya. Saat kerasukan, penari juga akan melakukan tindakan yang di luar dugaan, misalnya saja dengan melakukan gerakan berbahaya atau mengeluarkan suara yang mereka tidak pernah keluarkan sebelumnya.

Asal Mula Tari Kecak

Sosok yang mencipatakan Tari Kecak adalah Wayan Limbak. Pada tahun 1930, Limbak sudah mempopulerkan tarian ini ke mancanegara dan dibantu oleh Walter Spies pelukis asal Jerman. Penari yang semuanya berjenis kelamin laki-laki menari kecak akan meneriakkan kata ‘cak cak cak’, dari situlah nama Kecak tercipta. Selain teriakan tersebut, alunan musik Tari Kecak juga berasal dari suara kincringan yang diikatkan pada kaki penari pemeran tokoh-tokoh Ramayana. Di dalam lingkaran para penari lainnya beraksi, mereka memainkan tarian yang diambil dari episode cerita Ramayana yang berusaha menyelamatkan Shinda dari tangan jahat Rahwana. Tak jarang, Tari Kecak juga melibatkan pengunjung yang tengah menonton aksi tarian tersebut.

Fungsi Tari Kecak

Meski tidak diiringi dengan musik atau gamelan tapi Tari Kecak tetap terlihat indah dan kompak, gerakan yang dibuat para penarinya bisa tetap seirama. Itulah yang membuat tarian ini bernilai seni tinggi dan dicintai oleh para penonton Tari Kecak. Rasanya memang seperti ada yang kurang jika ke Bali namun tidak menonton atraksi Tari Kecak. Pada Tari Kecak ada sebuah adegan dimana Rama meminta pertolongan pada Dewata, hal itu membuktikan bahwa Rama mempercayai kekuatan Tuhan untuk menolong dirinya.

Tari Kecak juga dipercaya sebagai salah satu ritual untuk memanggil dewi yang bisa mengusir penyakit dan melindungi warga dari kekuatan roh jahat. Dewi yang biasa dipanggil dalam ritual ini adalah Dewi Suprabha atau Tilotama. Tari Kecak juga memiliki banyak pesan moral yang ingin disampaikan pada setiap gerakannya. Selain itu, kisah Rama dan Shinta yang diambil sebagai salah satu kisah wewayangan yang dijadikan cerita dalam tarian ini juga dapat diambil pesan moral di dalamnya. Salah satunya adalah kesetiaan Shinta pada suaminya Rama. Ada juga kisah tentang Burung Garuda yang rela mengorbankan sayapnya demi menyelmatkan Shinta dari cengkeraman Rahwana. Dari cerita itu, juga diajarkan agar tidak memiliki sifat buruk seperti Rahwana yang serakah dan suka mengambil milik orang lain secara paksa.

Gerakan Tari Kecak

Tari Kecak selalu membawa cerita dan atraksi yang menarik sehingga membuat para penontonnya terkagum-kagum. Adegan yang ada pada tarian ini juga membuat cerita yang disajikan semakin menarik, dari mulai awal tarian hingga akhir menyiratkan sebuah cerita yang diambil dari tokoh pewayangan. Cerita pewayangan yang diangkat dalam gerakan Tari Kecak juga merupakan salah satu usaha untuk melestarikan kebudayaan masyarakat Hindu yakni khususnya dalam sebuah cerita Ramayana yang menjadi salah satu sejarah masyarakat Bali. Sementara itu, gerakan yang ada dalam Tari Kecak ini dibagi menjadi empat bagian adegan. Berikut merupakan adegan yang ada pada Tari Kecak:

  • Adegan pertama mengisahkan saat Shinta diculik oleh Rahwana. Kala itu, sang suami yakni Rama tengah berburu di hutan.
  • Adegan yang kedua yakni mengisahkan seekor burung garuda yang berusaha menolong Shinta namun gagal karena sayapnya yang putus ditembak oleh Rahwana.
  • Adegan ketiga yakni mengisahkan tentang Rama dan Laksmana yang tersesat di hutan. Lantas Rama meminta Hanoman untuk menyelamatkan Shinta dari Rahwana.
  • Adegan terakhir yakni Hanoman yang membakar kerajaan Alengka Pura dan memberitahu Shinta untuk tetap tenang menunggu pertolongan dari Rama.

Secara keseluruhan adegan-adegan tersebut dirangkai menjadi sebuah gerakan Tari Kecak yang padu dan membuat para penontonnya terkagum-kagum.

Iringan Tari Kecak

Jika tari tradisional lainnya identik dengan iringan musik yang berbeda halnya dengan Tari Kecak. Tarian ini tidak menggunakan iringan ataupun tabuhan alat musik tertentu, namun diiringi oleh teriakan ‘cak cak cak’ yang disuarakan oleh para penari secara bersama-sama. Dengan beranggotakan puluhan orang suara yang dihasilkan sangat terdengar keras dan lantang. Selain itu, iringan suara dan tarian ini juga menggunakan suara gemericik ornamen khas yang dipakai oleh para penarinya yang berada di pergelangan kaki mereka. Sembari mengangkat kedua tangannya dan menyuarakan alunan ‘cak’, suara kerincing ornamen itu semakin menambah suasana khas dari tarian yang satu ini.

Busana dan Tata Rias Tari Kecak

Pada dasarnya para penari yang diperankan oleh laki-laki menggunakan pakaian adat khas Bali, dimana para penari yang merupakan para laki-laki yakni bertelanjang dada dan menggunakan kain sarung yang bermotif kotak-kotak hitam putih lengkap dengan gelang kerincing dipakai pada pergelangan kaki. Untuk para pemain yang memerankan adegan tokoh-tokoh Ramayana didandani sedemikian rupa sehingga menyerupai lakon-lakon yang diperankan. Sedangkan kostum dan riasan yang dipakai tak kalah mendukung berbagai adegan dalam pertunjukan yang diadakan.

Umumnya Tari Kecak dipenuhi dengan atraksi yang bersifat sakral sehingga muncul kesan mistis kesenian ini. Sesuai namanya yang berarti Tarian Api, tari ini menggunakan properti bara api untuk melengkapi pertunjukannya. Setiap kali Tari Kecak dihelat, pasti keseruan juga muncul dan mengundang suasana yang begitu sangat mistis dari bara api yang berada di tengah oara oenari. Selain untuk menambah suasana mistis dan sakral, bara api nanti akan diinjak-injak dengan kaki telanjang oleh para penarinya.

Tarian ini biasanya dipertunjukan di daerah Pura Uluwatu, Garuda Wisnu Kencana, dan wisata lainnya di Pulau Dewata. Tak hanya itu, Tari Kecak juga pernah mendapatkan penghargaan dari MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) karena berhasil membuat pertunjukan Tari Kecak di Pantai Berawa dengan penari sebanyak 5555 orang melibatkan siswa Kabupaten Badung, Bali.