Tarian Adat Gorontalo, Kesenian Tradisional Bumi Serambi Madinah

Posted on
tarian-gorontalo
tari palopalo (sumber gambar: tribunnews.com)

Tari Palopalo – Kebudayaan yang ada di Indonesia memang sangat beragam. Selain daerah atau wilayah yang ada di Tanah Air sangat banyak dan tersusun rapi dari Sabang hingga Merauke, banyaknya suku yang berdiam di suatu wilayah atau provinsi juga menambah kekayaan budaya yang ada di Indonesia. Bentuk kebudayaan daerah bisa dilihat dari berbagai aspek seperti busana adat, rumah adat, bahasa adat, dan kesenian tradisional. Salah satu kesenian tradisional dari suatu daerah yang cukup populer adalah tari tradisional yang mana setiap daerah di Indonesia memiliki ragam tari tradisional yang berbeda-beda.

Misalnya saja di provinsi Gorontalo yang menjadi salah satu daerah paling muda di Pulau Sulawesi. Provinsi ini berdiri sejak tahun 2000 lalu dan daerah ini terkenal memiliki banyak kebudayaan unik. Bahkan disebutkan kebudayaan yang ada di Gorontalo sudah cukup maju mengikuti perkembangan zaman. Contohnya tercermin dari seni tari tradisional yang ada di sana. Sebagai kesenian daerah, biasanya tari tradisional difungsikan sebagai acara penyambutan dan media hiburan yang kerap diselenggarakan pada acara-acara besar.

Tarian Adat Gorontalo

  1. Tari Saronde

tarian-gorontalo
tari saronde (sumber gambar: budayanusantara.web.id)

Masyarakat Gorontalo merupakan salah satu masyarakat yang sampai saat ini masih memegang teguh kebudayaan para leluhur mereka. Oleh sebab itu, masih dijumpai berbagai acara yang diselenggarakan berdasarkan adat istiadat setempat. Termasuk saat melangsungkan acara pernikahan. Masyarakat Gorontalo masih mempertahankan adanya kesenian daerah sata upacara pernikahan, salah satunya adalah tari saronde yang selalu ada di setiap gelaran pernikahan warga Gorontalo.

Tujuan dari tarian ini adalah untuk memperlihatkan calon mempelai wanita kepada pasangannya. Tarian tersebut dilakukan oleh mempelai pria dan keluarganya. Pakaian yang digunakan oleh para penari juga sangat khas dengan aksesoris berupa selendang. Dalam gerakan pada tarian ini sang pria sesekali melirik ke arah mempelai wanita. Kebudayaan ini memperlihatkan bahwa warga turut berbahagia dengan pernikahan yang diselenggarakan sembari memberikan doa agar pasangan yang menikah bisa mengarungi bahtera rumah tangga hingga kakek nenek.

  1. Tari Dana Dana

tarian-gorontalo
tari dana dana (sumber gambar: budaya-indonesia.org)

Tarian ini merupakan kesenian tradisional Gorontalo yang sering dipentaskan di acara-acara besar. Pasalnya tari dana dana memiliki banyak keunikan baik dari segi gerakan maupun busana yang digunakan oleh para penarinya. Pada dasarnya tarian ini masih mendapatkan pengaruh dari budaya Melayu yang sangat khas. Adapun ciri-ciri dari tarian yang satu ini adalah:

  • Gerakan berjalan: Nama tari ‘Dana Dana’ ini berasal dari kata ‘Daya-dayango’ yang artinya menggerakkan seluruh badan. Jadi dalam kesenian daerah tersebut penari akan menggerakkan semua badan dipadukan dengan gerakan berjalan yang lincah. Tarian ini menunjukkan corak pergaulan warga setempat.
  • Dipentaskan oleh laki-laki: Penari yang akan berlakon pada pagelaran ini adalah laki-laki yang semuanya berjumlah 4 orang. Namun saat ini ada juga yang melakukan modifikasi dengan menambahkan penari wanita sebagai pasangannya.
  • Iringan alat musik: Musik pengiringnya berasal dari gambus dan rebana yang diselingi dengan lantunan lagu yang berisi nasihat dan juga tema percintaan. Pesan yang hendak disampaikan pada tarian tersebut adalah agar anak muda hidup dengan semangat dan tidak mudah putus asa.
  • Sebagai tari penyambutan: Tarian ini juga biasa digelar sebagai kesenian untuk menyambut tamu besar serta perayaan menjelang hari-hari besar. Tradisi ini sudah cukup populer di kalangan wisatawan bahkan sering dipentaskan di event Nasional dan internasional.

Dalam sejarahnya, tarian dana dana hadir sekitar tahun 1525 Masehi atau seiring dengan masuknya agam Islam ke Gorontalo. Kesenian ini awalnya ditampilkan pada acara pernikahan Raja Sultan Amay dengan Putri Owotango. Di masa awal tarian ini hanya bisa dibawakan oleh kaum laki-laki saja karena ketatnya ajaran Islam dan adat istiadat setempat, namun seiring dengan perkembangan zaman, kini sudah banyak kaum wanita yang menarikan tari dana-dana ini bahkan bisa juga ditarikan secara berpasangan.

  1. Tari Palopalo

tarian-gorontalo
tari palopalo (sumber gambar: tribunnews.com)

Nama tarian tradisional Gonrontalo yang satu ini diambil dari alat musik yang mengiringinya yakni palopalo. Kesenian ini sering ditampilkan di berbagai acara penting, misalnya saja acara penyambutan dan perayaan ulang tahun provinsi Gorontalo. Ada beberapa hal yang menjadi karakter dan sudah melekat pada tari palo-palo ini, diantaranya adalah:

  • Dimainkan oleh para remaja yang mengenakan busana khas Gorontalo
  • Diiringi dengan alat musik yang bernama palopalo
  • Tarian tradisional ini biasanya hanya dimainkan oleh satu orang penari saja
  • Tarian palopalo masa kini dipertontonkan dengan penari yang diiringi musik instrumen

Pertunjukan tarian palopalo saat ini terkadang juga sudah melibatkan banyak penari, terlebih jika diadakan di lapangan. Banyak pemuda-pemudi Gorontalo yang mempelajari tarian ini sebagai salah satu bentuk semangat pelestarian budaya.

  1. Tari Biteya

tarian-gorontalo
tari biteya (sumber gambar: youtube.com)

Tarian tradisional yang satu ini bisa dibilang sebagai salah satu seni tari yang fantastis. Pasalnya tari biteya bisa dipentaskan oleh lebih dari 400 penari yang memakai pakaian adat Gorontalo. Gerakan dari kesenian ini juga menunjukkan budaya masyarakat setempat yang bekerja keras saat mencari ikan di laut. Selain itu, tari biteya juga dijadikan sebagai rasa terima kasih kepada Tuhan atas karunia yang telah diberikan. Tari biteya dijadikan sebagai hiburan dan tak jarang dipertunjukkan saat pagelaran penyambutan tamu besar yang datang ke provinsi Gorontalo.

  1. Tari Elengge

tarian-gorontalo
tari elengge (sumber gambar: youtube.com)

Tarian tradisional asal Gorontalo ini terbilang cukup unik. Nama ‘elengge’ diambil dari bunyi alu atau alat penumbuk padi. Di ujung alat penumbuk padi tersebut disisipkan sepotong kayu pada lubang yang dientuk segi empat, ketika digerakkan akan mengeluarkan bunyi yang disebu dengan ele-elenggengiyo atau mo’elengge. Tarian ini menggambarkan nuansa kegotong-royongan muda-mudi ketika bersama-sama menumbuk padi menggunakan lesung atau dalam bahasa Gorontalo disebut dengan didinga. Busana para penari elengge ini adalah busana rakyat. Tarian ini biasanya dipentaskan oleh 3 pasangan putra-putri atau lebih. Pementasan tarian ini juga diiringi dengan musi tradisional Gorontalo, ada juga syair pengiring yang berjudul ‘Elengge’.

  1. Tari Tidi

tarian-gorontalo
tari tidi (sumber gambar: infopublik.id)

Ini merupakan tarian klasik dalam budaya Gorontalo. Pasalnya baik dari sego gerak, formasi, busana, dan properti yang digunakan dalam tarian ini sarat akan nilai dan tidak boleh diubah. Jenis tarian tidi ini sudah ada sejak masa pemerintahan Raya Eyato atau ketika agama Islam mulai menguat di Gorontalo. Setiap bagian dari tarian ini disesuaikan dengan nilai-nilai agama yang berpedoman pada Al-Quran. Selain itu ada nilai moral dan nilai pendidikan yang diselipkan dalam setiap pementasan tari tidi. Berdasarkan perkembangannya ada 7 macam Tidi yang berkembang di Gorontalo, diantaranya adalah Tidi Da’a, Tidi Lo Tabongo, Tidi Lo Tihu’o, Tidi Lo Polopalo, Tidi Lo O’ayabu, Tidi Malu’o, dan Tidi Tonggalo.

  1. Tari Langga Buwa

tarian-gorontalo
TARI LANGGA BUWA (SUMBER GAMBAR: LANGGAGORONTALOBLOGSPOT.COM)

Tarian ini merupakan kesenian tradisional yang gerakannya diambil dari seni bela diri tradisional yakni Langga (tanpa senjata) dan Longgo (dengan senjata). Kedua jenis seni bela diri ini dilakukan oleh kaum laki-laki, sedangkan tarian ini menggambarkan aktivitas seni beladiri yang dilakukan oleh kalangan wanita.

Gorontalo memang dijuluki sebagai ‘Bumi Serambi Madinah’, tak heran jika banyak tarian tradisional dari provinsi ini yang sarat akan ajaran agama Islam. Sebagai generasi muda tentu sudah menjadi kewajiban kita untuk terus melestarikan budaya-budaya daerah seperti ini.