Tarian Jawa Tengah, Cerminan Budaya Tiap Bagian Daerah

Posted on
tarian-jawa-tengah
tari gambyong Jawa Tengah (sumber gambar: indonesia-heritage.net)

Tari Gambyong – Di balik sejarah Pulau Jawa yang terbagi menjadi 3 bagian ini ternyata memiliki kisah tersendiri. Jawa juga dikenal menjadi salah satu daerah yang berhasil menghasilkan beragam karya seni. Sampai sekarang kebudayaan dan kesenian tradisional Jawa masih terus dilestarikan sebagai salah satu warisan para leluhur. Kesenian tradisional khas Pulau Jawa seperti tercermin dari kebudayaan yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Salah satu provinsi yang ada di Pulau Jawa ini memang masih sangat lekat dengan kearifan lokal hingga saat ini.

Tarian tradisional dari Jawa Tengah sangat beragam, meski secara garis besar memiliki beberapa tarian yang mirip dengan tarian asal Jawa Timur dan Jawa Barat. Kebanyakan tari asal Jawa Tengah mempertontonkan betapa ayunya para wanita asal Jawa Tengah. Berikut merupakan jenis tari tradisional Jawa Tengah:

Tari Tradisional Jawa Tengah

  1. Tari Bedhaya Ketawang

tarian-jawa-tengah
tari bedhaya ketawang (sumber gambar: pesona.travel)

Tarian tradisional ini mengandung arti di setiap kata, ‘bedhaya’ berarti penari wanita dan ‘ketawang’ berarti langit. Jika diartikan secara harafiah, bedhaya ketawang adalah penari wanita dari atas langit. Tarian ini dipertunjukkan untuk acara-acara resmi saja dengan tujuan untuk menghibir. Sejarahnya, tarian ini menceritakan tentang hubunbgan Ratu Kidul. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat bila ada yang menarikan tarian ini maka Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul akan menghadiri tarian dan ikut menari.

Tari bedhaya ketawang biasa ditarikan oleh 9 orang wanita yang melambangkan Wali Songo ada juga yang menganggap jika angka 9 sebagai perlambang arah mata angin. Penari bedhaya ketawang menggunakan pakaian pengantin adat Jawa. Dimana para penari menggunakan gelung besar dan aksesoris Jawa berupa cethung, sisir jeram saajar, tiba dhadha, garudha mungkur, dan cunduk mentul. Bahkan para penari wanita juga tidak boleh melakukan tarian ini jika dalam keadaan haid. Tarian tradisional ini diiringi dengan Gending Ketawang Gede dan bisa juga diiringi dengan gamelan.

  1. Tari Gambyong

tarian-jawa-tengah
tari gambyong Jawa Tengah (sumber gambar: indonesia-heritage.net)

Tari gambyong merupakan tari tradisional Jawa Tengah yang berasal dari daerah Surakarta. Tarian ini awalnya hanya sebuah tarian rakyat dan diadakan ketika memasuki musim panen padi. Kendati demikian, sekarang tari gambyong bisa dihelat sebagai penghormatan untuk tamu yang sedang berkunjung. Nama ‘gambyong’ pada tarian ini diambil dari salah satu penari tempo dulu, penari tersebut memiliki suara merdu dan tubuh yang lentur. Kedua bakat penari bernama Sri Gambyong tersebut memikat banyak orang, hingga akhirnya nama penari itu terdengar oleh Sunan Paku Buwono IV. Akhirnya, Sri Gambyong diundnag ke istana untuk menari dan berhasil memikat hati para punggawa yang ada di istana.

Dalam perkembangannya, tarian ini dipelajari dan dinobatkan sebagai tarian khas istana. Jumlah penari dalam tari gambyong sendiri tidak pernah disyaratkan, namun untuk konstum biasanya penari menggunakan kemben sebahu dan dilengkapi dengan selendang. Tari gambyong bisa dibilang identik dengan dua warna yaitu warna kuning dan hijau, sayangnya warna tersebut kini tidak menjadi patokan. Musik pengiring pada tari gambyong biasanya adalah gamelan seperti gong, gambang, kendang, dan kenong.

  1. Tari Bondan Payung

tarian-jawa-tengah
tari bondan payung (sumber gambar: bobo.grid.id)

Tarian tradisional berikutnya yang berasal dari Jawa Tengah adalah tari bondan. Tarian ini juga berasal dari daerah Surakarta yang menceritakan tentang kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Gerakan pada tari bondan payung terbilang sangat sederhana dengan ciri khas para penari yang selalu membawa payung, boneka bayi, dan kendi. Hal ini sebagai penanda kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang ingin selalu memberikan perlindungan dan segala kebutuhannya hingga sang anak tumbuh dewasa.

Dahulu tarian ini harus diperagakan oleh para kembang desa agar menunjukkan jati diri masing-masing. Ada satu gerakan yang dilakukan oleh penari dan cukup menyita perhatian bagi siapapun yang melihatnya, yaitu para penari harus menaiki kendi namun kendi tersebut tidak boleh sampai pecah. Kostum yang digunakan para penari bondan payung adalah pakaian adat Jawa. Seiring dengan perkembangan zaman tarian yang biasa diiringi dengan musik gending ini dibagi menjadi beberapa bagian yakni tari bondan mardisiwi, bondan tani, dan bondan cindogo.

  1. Tari Serimpi

tarian-jawa-tengah
tari serimpi (sumber gambar: catatanjulfita.blogspot.com)

Tarian yang satu ini berasal dari daerah Yogyakarta. Berdasarkan cerita menyebutkan jiak tarian ini sedikit bernuansa mistis. Awalnya tarian ini ditunjukkan saat pengantin Raja di beberapa istana Jawa Tengah, masyarakat sekitar percaya jika tarian ini mampu menghipnotis para penonton menuju ke alam lain. Di samping mitos-mitos yang beredar tersebut, tari serimpi pada dasarnya bertujuan untuk menunjukkan wanita yang sopan santun dan sangat lemah gemulai. Seiring dengan perkembangan zaman, tari serimpi juga mengalami beberapa perubahan dalam segi durasi dan kostum yang digunakan.

Tari serimpi ada beberapa jenis yani serimpi genjung, serimpi babul layar, serimpi bondan, serimping anglir mendung dan serimpi dhempel. Biasanya tari serimpi ditarikan oleh 4 penari wanit, jumlah penari ini menandakan beberapa unsur yang ada di kehidupan yakni api, air, angin dan bumi. Namun terkadang jumlah penarinya bisa sampai 5 penari. Pakaian yang digunakan adalah busana pengantin putri keraton dengan gamelan sebagai musik pengiringnya.

  1. Tari Beksan Wireng

tarian-jawa-tengah
tari beksan wireng (sumber gambar: myimage.id)

Tari tradisional Jawa Tengah ini diciptakan oleh Prabu Amiluhur dengan tujuan untuk menyemangati para prajurit yang sedang berlatih. Prajurit-prajurit ini nantinya akan turun saat ada peperangan sehingga mereka harus giat berlatih agar menjadi prajurit yang tangguh dan perkasa. Gerakan yang ada pada tari beksan wireng ini juga menandakan seorang prajurit yang tengah berlatih, para penari sangat gagah perkasa dengan membawa tameng dan tombak. Hal inilah yang membuat tari beksan wireng termasuk dalam jenis tarian perang. Biasanya, tarian ini ditarikan oleh oleh laki-laki dengan menggunakan kostum bak seorang prajurit. Dalam perkembangannya kini ada 6 jenis tari beksan wireng diantaranya yakni panji sepuh, panju anem, dhadhap kanoman, jemparing ageng, lhawung ageng, dan dhadhap kreta.

  1. Tari Ebeg atau Kuda Lumping

tarian-jawa-tengah
tari kuda lumping (sumber gambar: youtube.com)

Tarian tradisional ini bisa jadi yang paling populer di Pulau Jawa. Kuda lumping merupakan sebuah tarian yang menggunakan boneka kuda sebagai sarana untuk menari. Tarian ini juga unik karena tidak menunjukkan gerakan lemah gemulai seperti pada tarian umumnya, bahkan para penari kuda lumping bisa dengan mudah menciptakan gerakan tersendiri karena para penari hanya perlu melenggak lenggok mengikuti alur musik. Ada beberapa syarat yang harus disediakan selama pertunjukkan yakni sesajen dan menyan. Ini menjadi suatu keharusan karena para penari kemungkina akan kerasukan mahkluk halus dan memakan barang-barang yang ada di sekitarnya. Musik yang melatar belakangi tarian ini adalah gamelan banyumasan, bendhe, dan gendhing.

  1. Kethek Ogleng

tarian-jawa-tengah
kethek ogleng (sumber gambar: ambau.id)

Tarian tradisional ini dalam bahasa Jawa bila diartikan ‘kethek’ adalah kera, sedangkan kata ‘ogleng’ diambil dari suara bunyi yang melatar belakangi tarian ini. Tarian tradisional ini berasal dari Wonogiri. Asal usul tari kethek ogleng adalah untuk menceritakan Raden Gunung Sari yang menjelma menjadi seekor kera dan berusaha mengelabui musuh. Maka dari itu, para penari juga selalu menggunakan topeng kera dan menirukan gerakan-gerakan kera. Tidak ada gerakan khusus dalam tarian ini, para penari hanya perlu menikmati alur musik dan menari layaknya seekor kera.

Selain itu, ada juga beberapa tarian tradisional Jawa Tengah yang cukup populer lainnya yakni tari ronggeng. Bahkan sampai saat ini tarian ini masih dibudayakan secara turun termurun. Tujuannya tentu saja agar tarian yang dianggap memiliki nilai sejarah ini tidak dilupakan oleh generasi muda.