Tarian Kalimantan Selatan, Keudayaan Khas Leluhur Suku Banjar

Posted on
tarian-kalimantan-selatan
tari kanjar (sumber gambar: kamerabudaya.com)

Tari Kuda Kepang – Suku Banjar menjadi salah satu suku terbanyak yang mendiami provinsi Kalimantan Selatan. Tak heran jika beberapa kebudayaan atau norma yang berlaku di sana masih kental dengan kepercayaan masyarakat suku Banjar. Hal ini juga membuat kebudayaan suku Banjar menjadi ikon utama dari provinsi ini. Salah satu peninggalan atau warisan nenek moyang yang ada di Kalimantan Selatan bisa dilihat dari berbagai aspek kehidupan, misalnya saja adalah kesenian tradisional berupa tarian daerah yang masih bisa dinikmati sampai sekarang.

Ada beragam jenis tarian daerah dari Kalimantan Selatan yang menjadi kebudayaan khas sekaligus ikon dari provinsi tersebut, yang mana kebanyakan tarian daerah ini mendapatkan pengaruh dari suku Banjar. Berikut adalah daftar tarian khas dari Kalimantan Selatan:

Tarian Kalimantan Selatan

Tari Kanjar atau Kakanjaran

tarian-kalimantan-selatan
tari kanjar (sumber gambar: kamerabudaya.com)

Tarian yang satu ini merupakan tarian tradisional Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Tarian daerah ini merupakan tarian hiburan adat suku Dayak yang memiliki kepercayaan terhadap Kaharingan peninggalan leluhur. Suku Dayak percaya jika setiap orang di Balai sudah sejak kecil memiliki keahlian tari kanjar ini. Tari kanjar pada umumnya akan dipentaskan pada selamatan banih ringan dan juga banih barat. Banih ringan merupakan padi yang baru saja dipanen di kelompok sawah dengan curah hujan sedikit. Banih ringan ini adalah jenis padi yang bisa dipanen dengan cepat di area ladang yang tidak terlalu jauh dari Blai. Sedangkan banuh barat merupakan padi tunggan di tanah pegunungan yang biasanya butuh antara 7 sampai 10 tahun sekali digarap untuk ditanami padi.

Tarian adat Kalimantan Selatan ini memiliki arti menahan kejahatan sekaligus membuka pintu kebahagiaan supaya warga Balai selali gagah, kuat dalam bekerja, sehat, dan mendapatkan hasil berlimpah. Tarian ini akan dilakukan oleh banyak orang dari tua hingga muda. Sampai saat ini, tarian ini bisa disaksikan di Balai Kecamatan Loksado seperti Balai Kukunda di Desa Urui, Balai Papangkaan di Desa Muara Ulang dan masih daerah lainnya di Kalimantan Selatan.

Tari Radap Rahayu

tarian-kalimantan-selatan
tari radap rahayu (sumber gambar: youtube.com)

Tarian ini merupakan tarian adat Kalimantan Selatan khususnya daerah Banjarmasin. Tari radap rahayu memiliki artian yang sakral berdasarkan kepercayaan masyarakat sekitar. Tari tradisional ini biasanya digunakan untuk menyambut tamu sebagai bentuk penghormatan. Kata ‘radap’ berasarl dari kata ‘beradap-adap’ yang berarti bersama-sama atau lebih dari satu. Sedangkan kata ‘rahayu’ bermakna galuh wan bungas atau perempuan yang berparas cantik, kemakmuran dan kebahagiaan.

Pada awalnya, tarian khas Kalimantan Selatan ini merupakan tarian sebagai penolak bala yang bersifat ritual untuk masyarakat Banjarmasin. Tarian ini dilakukan dalam upacara seperti perkawinan, kehamilan, dan kematian. Tujuannya adalah untuk meminta keselamatan dari peristiwa ketika kapal Perahu Yaksa yang berisi Patih Lambung Mangkurat yang sedang pulang berkunjung dari Kerajaan Majapahit ketika sampai di Muara Mnantuil dan akan masuk ke Sungai Barito kapal tersebut kandas dan hampir terbalik. Ada beberapa teknik dalam tarian ini seperti terbang layang mambunga, limbai kipas, alang manari, mendoa, mangapak, lontang penuh, lontang setengah, tarbang layang, membunga, mendoa, gagoreh srikandi, tapung tawar, mantang, angin tutus, dan juga tarbang layang.

Tari Baksa Kembang

tarian-kalimantan-selatan
tari baksa kembang (sumber gambar: wisatakalimantan.com)

Tarian tradisional ini berasal dari daerah Banjar yang merupakan tarian untuk menyambut tamu. Tarian ini pada umumnya dilakukan oleh wanita secara tunggal atau beberapa penari wanita. Pada abak ke-15 SM, seorang pangeran bernama Suria Wangsa Gangga di Kerajaan Dipa serta Daha memiliki kekasih bernama Putri Khuripan. Putri tersebut kemudian memberikan bunga teratai merah pada pangeran dan menjadi inspirasi dari tarian Kalimantan Selatan ini. Kata ‘baksa’ sendiri berarti kelembutan yang dimaknai sebagai bentuk kelembutan tuan tumah ketika menyambut tamu yang dihormati. Para penari nantinya akan memberikan rangkaian bunga pada tamu yang dihormati.

Tari Kuda Gepang

tarian-kalimantan-selatan
tari kuda gepang (sumber gambar: kalsel.kemenag.go.id)

Berdasarkan catatan sejarah, tarian ini muncul dari kisah rakyat Kalimantan Selatan. Dimana dulu terdapat Raja Banjar yakni Lambung Mangkurat yang sangat terkenal sekaligus sakti. Ia berlayar ke Jawa dan bertemu dengan raja di Kerajaan Majapahit. Ketika akan berpamitan, Lambung Mangkurat diberi hadiah seekor kuda besar dan paling baik dari Kerajaan Majapahit yang berwarna putih. Sesudah 3 kali mencoba menunggangi kuda tersebut sebelum masuk ke kapal, kuda tersebut lumpuh. Dengan ilmu yang dimiliki oleh Lambung Mangkurat, sang kuda dirubah menjadi kecil, dipeluk, dan kemudian dikapit di ketiak. Kuda yang sudah berubah menjadi kecil kemudian dibawa ke kapal sampai ke daerah Banjar sehingga akhirnya tercipta tari kuda gepang tersebut. Cerita tersbeut merupakan asal-muasal kenapa tari kuda gepang di Kalimantan Selatan mengharuskan kuda-kudaan dikapit pada bagian ketiak.

Tari Bagandut

tarian-kalimantan-selatan
tari bagandut (sumber gambar: tribunnews.com)

Tarian tradisional ini diperagakan berpasang-pasangan. Di masa lalu, tarian ini memperlihatkan erotisme para penari sama seperti tari ronggeng atau tari tayub. Tari bagandut awalnya dipentaskan di lingkungan kerajaan dan barulah pada tahun 1860-an berkembang pesat menjadi jenis kesenian yang diminati oleh rakyat biasa. Saat ini, tari bagandut biasa dipertunjukkan pada acara penggalangan dana kampung, acara malam perkimpoian, hajatan, dan lainnya. Kini tari bagandut juga telah mengalami banyak perubahan gerakan seiring dengan gempuran agama Islam yang masuk ke tanah Banjar.

Tari Mayam Tikar

tarian-kalimantan-selatan
tari mayam tikar (sumber gambar: jsonmodel.com)

Tarian ini lebih tepatnya berasal dari Kabupaten Tapin. Tari mayam tikar menceritakan remaja putri di daerah Magasari yang sedang menganyam tikar dan juga anyaman. Tarian ini dilakukan sekitar 6 menit dan biasanya dilakukan 10 orang wanita. Tarian ini diciptakan oleh Muhammad Yusuf yakni ketua di Sanggar Tari Buana Buluh Merindu.

Tari Tantayungan

tarian-kalimantan-selatan
tari tatayungan (sumber gambar: hasanzainuddin.wordpress.com)

Tari tradisional daerah Kalimantan Selatan ini berasal dari masyarakat Banjar yang menceritakan kisah dalam tokoh pewayangan. Kesenian ini terlihat hidup sebab diselingi dengan beberapa dialog dari para penarinya. Saat dipentaskan, tarian tantayungan diiringi musik karawitan dari alat musik sarunai, gong, kurung-kurung, dan babun. Pada awalnya, tarian ini hanya dilakukan di Desa Ayuang, Barabai, namun kemudian mulai berkembang di beberapa desa lainnya.

Tari Tandik Balian

tarian-kalimantan-selatan
tari tandik balian (sumber gambar: youtube.com)

Ini merupakan tarian tradisional Kalimantan Selatan yang berasal dari budaya suku Dayak Warukin. Etnis ini memiliki upacara yang dinamakan dengan Balian Bulat dimana dalam tradisi tersebut dibuat menjadi kesenian tradisional yang disebut dengan tari tandik balian.

Tari Babangsai

tarian-kalimantan-selatan
tari babangsai (sumber gambar: cintaindonesia.web.id)

Tari babangsai merupakan ritual khusus suku Dayak Bukit yang kemudian dikenal menjadi salah satu tarian tradisional daerah Kalimantan Selatan. Suku Dayak Bukit biasnaya melakukan ritual ini di balai adat Pegunungan Meratus. Tarian ini terlihat serupa dengan tari tradisional Kalimantan Selatan lain seperti tari kanjar namun tari babangsai biasanya hanya dilakukan para wanita. Untuk gerakan tarian ini adalah gerakan berputar mengitari poros berupa altar tempat sesaji diletakkan.

Ragam tarian dari daerah Kalimantan Selatan ini tentu saja menambah khazanah wawasan tentang kebudayaan Tanah Air yang sangat beragam. Sebagai generasi penerus, tentu sudah seharusnya melestarikan tarian tradisional ini agar tidak punah dengan perkembangan zaman.