Tari Tradisional Kalimantan Utara, Kekayaan Provinsi Muda Indonesia

Posted on
tarian-kalimantan-utara
tari lalatip (sumber gambar: tradisikita.my.id)

Tari Lalatip – Bicara soal provinsi Kalimantan Utara tentu saja cukuplah menarik. Pasalnya, daerah ini merupakan salah satu provinsi termuda yang ada di Indonesia. Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) merupakan provinsi yang resmi disahkan dalam rapat paripurna DPR pada tanggal 25 Oktober 2012 lalu. Adapun penduduk provinsi Kaltara 40 persen lebih dihuni oleh Suku Jawa yang merupakan pendatang pada program transmigrasi, sedangkan selebihnya dihuni oleh masyarakat asal Sulawesi Selatan dan sisanya merupakan penduduk asli Kalimantan Utara. Penduduk asli daerah ini merupakan berasal dari Suku Dayak (Lun Bawang atau Lun Dayeh, Kenyah, Murut), Suku Banjar, Suku Bulungan, Suku Kutai, dan Suku Tidung. Masing-masing dari setiap suku yang ada di daerah Kalimantan Utara ini juga membawa kebudayaan atau kebiasaan-kebiasaan tersendiri.

Keberagaman suku yang ada di Kaltara menjadikan provinsi yang masih baru ini memiliki tradisi yang tak kalah unik dan beragam dari provinsi lainnya. Tradisi atau kebudayaan dari provinsi Kalimantan Utara memiliki ciri khas tersendiri, salah satunya yang dapat terlihat dari ragam tarian daerah yang ada di sana. Tari tradisional dari Kalimantan Utara didominasi oleh tarian adat dari suku dayak yang ada di daerah tersebut. Berikut merupakan tarian tradisional dari daerah Kalimantan Utara.

Ragam Tari Tradisional Kaltara

  1. Tari Magunatip atau Lalatip

tarian-kalimantan-utara
tari lalatip (sumber gambar: tradisikita.my.id)

Kesenian tradisional ini berasal dari daerah Tarakan dan Malinau, Kalimantan Utara. Dahulu, tari lalatip digunakan sebagai sebagai latihan ketangkasan kaki dalam melompat dan menghindari rintangan. Hal ini dilakukan karena adanya perang antar suku yang kerap terjadi di sana, hingga pada akhirnya gerakan yang ada pada latihan ini dikembangkan menjadi sebuah seni tari tradisional. Saat pertunjukan tari lalatip, akan ada tiga kelompok penari yang mana penari dalam tarian ini adalah laki-laki dan wanita. Kelompok pertama adalah penjepit kaki dengan menggunakan batang kayu, kelompok kedua merupakan kelompok penari yang akan menari sambil menghindari jepitan kayu, sedangkan kelompok terakhir merupakan mereka yang memainkan musik.

Tari magunatip atau lalatip ini diiringi dengan alat musik tradisional Kalimantan Utara berupa gong dan kendang. Tarian ini terbilang cukup mendebarkan karena para penari dapat terjepit atau terapit kakinya oleh batang kayu jika terlambat menghindar. Terlebih saat penari menari dengan bagian mata yang ditutup tentu ini menjadi sebuah kesenian sekaligus pertunjukan yang cukup mendebarkan dan memiliki nilai seni yang tinggi.

  1. Tari Jugit

tarian-kalimantan-utara
tari jugit (sumber gambar: sumber.com)

Tari jugit merupakan tarian tradisional dari Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, yang hanya ditampilkan di kalangan istana saja. Pada dasarnya tarian ini dibagi menjadi dua jenis yakni Tari Jugit Paman dan Tari Jugit Demaring, keduanya merupakan tarian istana yang sakral walaupun sekilas nampaknya memiliki kesamaan. Sebenarnya kedua tarian ini memiliki perbedaan yang amat kompleks dari segi alat musik dan syair lagu, warna baju dan kain yang digunakan. Selain itu perbedaan lain juga nampak pada gerak tangan saat memegang kipas dan selendang, bergantung untuk apa dan siapa tari itu disuguhkan. Dimasa lampau, saking sakralnya tarian jugit paman hanya boleh disuguhkan kepada Sultan dan di dalam keraton. Sedangkan tari Jugit Demaring dapat disaksikan oleh rakyat biasa dan boleh disuguhkan di luar keraton.

Menurut legenda, tari jugit diciptakan oleh dua orang seniman sekaligus laksamana kesultanan Bulungan yakni Datuk Maulana dan Datuk Mahubut. Diperkirakan tarian ini menemukan bentuknya seperti yang dikenal saat ini pada paruh kedua abad ke-18 Masehi. Antara Tari Jugit Paman dan Jugit Demaring juga memiliki perbedaan tersendiri, berikut adalah perbedaan keduanya:

Perbedaan Jugit Paman Jugit Demaring
Warna baju Penari menggunakan kombinasi warna merah di atas dan kuning di bawah. Penari menggunakan busana kombinasi baju kuning di atas dan warna merah di bawah
Gerak tangan Tempo atau gerakan cenderung lebih cepat Tempo atau gerakan cenderung lebih lambat
Bentuk gerakan Gerakan tangan sebatas bahu, tangan kiri tidak bergerak apabila jatuh ke belakang Gerakan tangan sebatas dada dan tangan kiri memegang selendang, tangan kiri tetap bergerak apabila jatuh ke samping
Syair lagu Menggunakan syair lagu Gandang Lais dengan alat musik berupa kolintang yang terdiri dari 3 pemain. Satu untuk bagian bas dan dua lainnya memainkan anak kolintang yang lain. Menggunakan dua syair lagu yakni Kalau yang artinya sore dan Jumalom atau jauh malam. Alat musik yang digunakan tidak hanya sekedar kolintang, namun bisa juga menggunakan rebana dan biola.
  1. Tari Blunde Atau Blundik

tarian-kalimantan-utara
tari blunde (sumber gambar: berita.baca.co.id)

Konon tarian blunde hampir sama dengan tari enggang dari Suku Dayak. Namun tari blunde atau blundik tidak menggunakan bulu burung enggang seperti biasanya, namun hanya menggunakan tangan biasa. Tarian ini berasal dari daerah Bulungan, Kalimantan Utara. Para penari blunde menggunakan busana khas yakni ikat kepala, baju kebaya, dan tapih berupa kain. Menurut beberapa sumber menyebutkan jika tarian ini diciptakan oleh Datuk Perdana dan syairnya menggunakan bahasa Kayan Pimping. Barulah kemudian syair lagu ini diciptakan ulang oleh Datuk Abdul Aziz dalam bahasa melayu yang berjudul ‘Pinang Sendawar’

  1. Tari Mance atau Bemance

tarian-kalimantan-utara
tari mance (sumber gambar: sumber.com)

Tari mance atau bemance ini disebut juga dengan nama tari silat. Gerakannya hampir sama dengan bentuk silat pada umumnya, namun lebih luwes dan lebih berupa tarian yang disuguhkan sebagai bentuk hiburan. Di masa lalu, tarian ini merupakan kegemaran sebagian besar pemuda di daerah Bulungan.

  1. Tari Bangun

tarian-kalimantan-utara
tari bangun kaltara (sumber gambar: kenalibudaya.info)

Tarian ini disebut-sebut sebagai salah satu kesenian tradisional yang dianggap sakral. Tari bangun dianggap memiliki nilai magis karena bertujuan untuk memanggil kekuatan alam gaib sebagai media penyembuhan. Biasanya tari bangun diperuntukkan untuk mengobati orang sakit di masa lampau, namun hingga saat ini masih sering dijumpai beberapa kalangan yang melakukan tarian sekaligus ritual sakral ini. Kini tari bangun telah bergeser menjadi bagian dari seni murni meski nuansa magis dan sakral masih bisa dirasakan. Ada tiga bentuk dari tari bangun ini diantaranya adalah Ngala Bedua (dimaksudkan untuk mengambil semangat si sakit), Betujul (memberi makan sesuatu yang gaib), dan Persembahan sebagai bagian terakhir.

  1. Tari Jepen

tarian-kalimantan-utara
tari jepen (sumber gambar: budayaindonesiaaa.wordpress.com)

Tari jepen merupakan tarian tradisional dari Suku Dayak pada umumnya. Tarian ini bernuansa Islami diringi dengan musik seperti musik rebana. Baju yang digunakan oleh para penari jepen adalah baju berwarna hijau dan kuning. Jumlah penari dalam tari ini ada dua orang atau lebih berpasangan (perempuan dan laki-laki), gerakan para penari didominasi dengan gerakan kaki. Tarian yang memiliki gerakan hampir sama dengan tari zapin asal Riau ini juga sangat terkenal di Negara lain seperti Malaysia, Filipina, dan Brunei Darussalam.

  1. Tari Kancet Ledo

tarian-kalimantan-utara
tari kancet ledo (sumber gambar: thegorbaisla.com)

Tarian ini berasal dari daerah Baram-Sarawak, Kalimantan Utara. Gerakan tari kancet ledo menggambarkan kelembutan seorang gadis dimana gerakannya seperti ketika angin berhembus yang mengayunkan padi. Pakaian yang digunakan dalam tari ini menggunakan busana adat Suku Dayak Kenyah dengan rangkaian buket sejumlah ekor burung enggang.