Tarian Nusa Tenggara Barat, Kesenian Masyarakat Sumbawa dan Lombok

Posted on
tarian-nusa-tenggara-barat
tari lenggo (sumber gambar: arifrahmatullah.student.um.ac.id)

Tari Lenggo – Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu provinsi yang berada di gugusan Kepulauan Nusa Tenggara dan terdiri dari beberapa pulau kecil. Diantara pulau-pulau tersebut ada dua pulau besar yang ada di NTB yakni Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok. Pulau Lombok mayoritas penduduknya adalah Suku Sasak, sedangkan Pulau Sumbawa mayoritas dihuni oleh Suku Bima. Membahas tentang kebudayaan yang ada di NTB tentu saja tidak lepas dari kebiasaan serta nilai-nilai yang dianggap luhur oleh kedua suku tersebut.

Begitu juga dengan kesenian tradisional yang ada di provinsi ini. Pada dasarnya Suku Sasak merupakan kebudayaan yang sering dikedepankan karena suku ini menjadi mayoritas penduduk yang paling dominan di NTB. Hampir 68 persen penduduk di sana adalah masyarakat Suku Sasak, sehingga tak heran jika soal tarian tradisional dari daerah NTB juga menjadi ciri khas tersendiri yang lekat dengan kebudayaan Suku Sasak. Berikut merupakan tari tradisional dari provinsi Nusa Tenggara Barat:

Tari Buja Kakanda

tarian-nusa-tenggara-barat
tari buja kakanda (sumber gambar: suarantb.com)

Tarian ini berasal dari daerah Bima, NTB. Tari buja kakanda menggambarkan dua prajurit yang sedang berperang. Tarian ini biasanya akan dibawakan oleh dua orang penari pria yang berpakaian prajurit bersenjatakan tombak dan perisai. Berdasarkan sejarah, tari buja kakanda awalnya merupakan tarian yang tumbuh serta berkembang di luar istana kerajaan. Sehingga bisa diartikan, jika tarian ini murni diciptakan oleh rakyat berkat dukungan pada seniman Kerajaan Bima di masa lampau. Sampai saat ini tari buja kakanda masih dikenal luas di kalangan masyarakat modern. Buja kakanda sendiri merupakan sebuah tombak berumbai bulu ekor kuda yang digunakan para penari sebagai atribut dalam pertunjukan. Tarian ini dikenal dengan nama Mpa’a Buja Kakanda yang diciptakan untuk mengenang dan mengapresiasi perjuangan para prajurit dalam mempertahankan daerah mereka.

Tari Gandrung Lombok

tarian-nusa-tenggara-barat
tari gandrung lombok (sumber gambar: sumber.com)

Tarian gandrung lombok merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Lombok. Saat pertunjukan, tarian ini dilakukan secara berpasangan. Pada dasarnya tarian ini hampir mirip dengan tari gandrung yang terdapat di Pulau Jawa maupun Bali, hanya saja memiliki perbedaan dari segi gerakan, kostum maupun penyajian sebaga ciri khas tersendiri. Pada awalnya tarian gandrung lombok hanya dipertunjukkan sebagai bagian dari hiburan untuk para prajurit pada saat pulang dari medan perang, namun kini banyak yang menjadikan Tari Gandrung Lombok sebagai hiburan yang memiliki nilai seni dan historis di dalamnya.

Tari Lenggo

tarian-nusa-tenggara-barat
tari lenggo (sumber gambar: arifrahmatullah.student.um.ac.id)

Berdasarkan sumber sejarah, tari lenggo yang pertama kali diciptakan bernama tari Lenggo Melayu. Dimana tarian tersebut diciptakan oleh seorang mubalig yang berasal dari Sumatera Barat bernama Datuk Raja Lelo. Tari lenggo pada awalnya diciptakan secara khusus untuk upacara adat Hanta Ua Pua (upacara pringatan masuknya agama Islam di Bima) yang diselenggarakan di daerah Bima. Tari adat ini dibawakan oleh penari pria sehingga masyarakat Bima sering menyebutnya dengan nama Tari Lenggo Mone, sedangkan tarian yang dimainkan oleh para wanita disebut dengan nama Tari Lenggo Mbojo. Gerakan dalam tari lenggo yang dimainkan oleh para wanita merupakan hasil kreasi serta pengembangan dari Tari Lenggo Melayu.

Tari Nguri

tarian-nusa-tenggara-barat
tari nguri (sumber gambar: negerikuindonesia.com)

Tari nguri merupakan kesenian tradisional yang berasal dari daerah Sumbawa, NTB. Biasanya tari nguri ditarikan oleh para wanita secara berkelompok. Tarian ini menggambarkan keterbukaan dan keramah-tamahan dari masyarakat Sumbawa yang dicurahkan dalam bentuk gerakan tari. Tari nguri berasal dari tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat Sumbawa di masa lampau, yang mana mereka sering memberikan semangat kepada raja yang sedang mengalami berbagai macam masalah atau bencana. Tradisi ini sekaligus menjadi bentuk dukungan, penghormatan dan pengabdian masyarakat terhadap raja yang memimpin dan juga menciptakan kemakmuran untuk masyarakat itu sendiri. Terinspirasi dari tradisi tersebut, seorang seniman Sumbawa bernama H. Mahmud Dea Batekal menciptakan tarian bernama Tari Nguri. Gerakan yang ada pada tarian ini dikemas dengan penuh makna serta gaya khas masyarakat Sumbawa. Hingga saat ini tarian ini menjadi salah satu pertunjukan yang banyak dipentaskan dalam acara budaya.

Tari Rudat

tarian-nusa-tenggara-barat
tari rudat (sumber gambar: kamerabudaya.com)

Tari tradisional ini sering ditampilkan di Pulau Lombok, NTB. Pertunjukan tari rudat sangat kental akan nuansa Islami baik itu dari segi kostum, lagu ataupun pengiring pertunjukan. Biasanya tarian ini dipertunjukkan di berbagai acara seperti khitanan, maulid nabi, khatam Al-Quran, peringatan Isra Mi’raj, dan acara peringatan hari besar Islam lainnya. Berdasarkan sumber sejarah menyebutkan jika tarian ini digunakan oleh ulama terdahulu sebagai media dalam penyebaran agama Islam. Banyak juga yang mengatakan jika tari rudat merupakan perkembangan dari Dzikir Saman dan Budrah. Dzikir Saman sendiri merupakan kesenian tari dengan gerakan pencak silat yang disertai dengan dzikir, sedangkan Budrah merupakan nyanyian yang diiringi dengan iringan dari seperangkat musik rebana yang berukuran besar.

Tari Wura Bongi Monca

tarian-nusa-tenggara-barat
tari wura bongi monca (sumber gambar: gotripina.com)

Kesenian ini adalah seni tari tradisional dari daerah Bima yang merupakan tarian selamat datang atau penyambutan tamu. Para penari wura bongi monca adalah para perempuan yang membentuk kelompok dengan gerakan yang lemah lembut sembari menaburkan beras kuning sebagai simbol harapan dan penghormatan. Tari wura bongi monca merupakan kesenian yang telah ada dan berkembang di masa Kesultanan Abdul Kahir Sirajuddin tahun 1640 sampai 1682. Nama ‘Turi Wura Bongi Monca’ sendiri bisa diartikan sebagai tarian penabur beras kuning.

Tari Oncer

tarian-nusa-tenggara-barat
tari oncer (sumber gambar: sasakadie.blogspot.com)

Tari oncer adalah kesenian tradisional dari masyarakat Suku Sasak yang ada di daerah Lombok yang diciptakan oleh Muhammad Tahir pada tahun 1960. Dalam pertunjukannya, tari oncer biasanya akan dimainkan oleh 3 kelompok yang masing-masing merupakan kelompok penari kenceng. Pada umumnya terdiri dari 6 sampai 8 orang penari dengan membaca kenceng, 1 orang pembawa petuk yang disebut penari petuk dan 2 orang pembawa gendang yang disebut dengan penari gendang.

Tari Sere

tarian-nusa-tenggara-barat
tari sere (sumber gambar: tarisere.blogspot.com)

Tarian ini adalah tari klasik Istana Bima yang diciptakan oleh Abdul Khair Sirajuddin. Umumnya tari sere dimainkan oleh dua orang perwira kesultanan yang bersenjatakan perisai dan tombak. Dengan wajah yang perkasa dan juga keberaniannya yang membawa, dua perwira tersebut kemudian melompat dan berlari ke segala penjuru dengan membawa senjata tombak untuk menyerang dan menangkis serangan para musuh sebagai pancaran dalam menghadapi para musuh-musuh Dou Labo Dana (Rakyat dan Negeri). Tarian ini umumnya diiringi dengan musik tambur (tambur). Hingga saat ini tari sere masih kerap dihelat sebagai pertunjukan untuk menyambut para tamu penting, atau juga bisa ditampilkan saat ada acara Pemerintah Nusa Tenggara Barat.

Tari Gendang Beleq

tarian-nusa-tenggara-barat
tari gendang beleq (sumber gambar: kangapip.com)

Kesenian ini diberi nama Tari Gendang Beleq karena menggunakan gendang yang sangat besar. Seni tari tradisional ini telah menjadi tradisi yang wajib dilakukan oleh masyarakat Suku Sasak sejak lama dan merupakan kesenian peninggalan dari Kerajaan Selaparang Lombok. Konon, tarian ini dulunya dijadikan sebagai salah satu sarana penyebaran agama Islam di daerah ini. Saat pertunjukan, akan diselipkan ceramah agama ataupun kegiatan agama lainnya. Musik yang dimainkan pada tarian ini menggambarkan jiwa kesatria dari masyarakat Suku Sasak dalam mempertahankan daerahnya.

Hampir semua kesenian tradisional dari setiap daerah seakan menjadi simbol kejayaan dan jati diri masyarakat yang menetap di daerah tersebut. Tak jarang kesenian ini merupakan warisan para leluhur yang memiliki nilai historis tinggi dan harus tetap dilestarikan oleh generasi penerus.