Tarian Tradisional Aceh, Perpaduan Budaya Leluhur Dengan Kultur Islami

Posted on
tarian-tradisional-aceh
Tari saman (sumber gambar: romadecade.org)

Tari Saman – Berbicara tentang kebudayaan dari daerah Aceh rasanya tidak lengkap jika membahas tentang tarian tradisional yang berasal dari daerah ini. Pasalnya ada salah satu tarian adat Aceh yang sangat terkenal, bahkan sering dipentaskan untuk acara-acara penting kenegaraan. Terlebih salah satu tarian dari daerah berjuluk ‘Serambi Makkah’ ini sudah diakui oleh organisasi kebudayaan internasional UNESCO. Berdasarkan beberapa sumber menyebutkan, ada tiga kelebihan yang bisa dibanggakan dari provinsi Banda Aceh. Salah satunya adalah konsistensi masyarakat Aceh untuk tetap menjaga budaya yang diwariskan oleh para leluhurnya.

Salah satu budaya yang dilestarikan adalah tarian tradisional yang juga menjadi budaya lokal warisan para leluhur setempat. Ada beberapa tarian dari Aceh yang sangat terkenal, sebut saja tari saman dan tari ratoh jaroe. Namun siapa sangka, Aceh ternyata mempunyai beberapa tarian lagi yang mungkin belum familiar di telinga orang awam. Berikut gambar dan penjelasannya!

Tarian Tradisional Aceh

Tari Saman

tarian-tradisional-aceh
Tari saman (sumber gambar: romadecade.org)

Tari tradisional yang satu ini tentu saja sudah sangat terkenal sebagai salah satu budaya dari masyarakat Aceh. Tari saman merupakan tarian dari suku Gayo, yaitu ras tertua di pesisir Aceh pada masa itu. Dahulu tarian ini dipertunjukkan sebagai media untuk menyebarkan agama Islam, namun seiring dengan berjalannya waktu kini tarian ini banyak disuguhkan sebagai hiburan dan sering dilakukan untuk mengisi festival kesenian di mancanegara. Salah satu ciri khas dari tarian ini adalah jumlah penarinya yang harus ganjil. Dalam tari tradisional saman ini, semua penari bergerak dengan sangat kompak meski dalam ritme yang sangat cepat. Gerakan yang paling terkenal adalah ketika penari-penari itu mengangkat tangannya ke langit dan memegang tangan temannya, sebagian penari menunduk dan sebagian lainnya seolah menengadah ke belakang.

Busana yang digunakan oleh penari dalam tarian saman ini adalah busana khas suku Gayo. Tari saman tidak menggunakan iringan dari alat musik lainnya dan hanya memanfaatkan bunyi suara yang dihasilkan dari tepukan tangan dari para penari itu sendiri. Mayarakat ada yang beranggapan bahwa tarian ini hanya boleh dilakukan oleh para pria saja, pasalnya terdapat gerakan-gerakan yang dianggap tidak mampu dilakukan oleh wanita diantaranya adalah gerak lingang, guncang, surang-saring, dan kirep. Selain menggunakan kostum khas suku Gayo, bahasa yang digunakan dalam tarian ini juga harus menggunakan bahasa khas Gayo.

Tari Laweut Aceh

tarian-tradisional-aceh
Tari Laweut (sumber gambar: blogkulo.com)

Tarian tradisional ini juga dianggap memiliki pengarh budaya Islam yang kuat. Kata ‘laweut’ berasal dari kata ‘shalawat’ atau pujian yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW. Tari laweut ini berasal dari Kabupaten Pidie, Aceh. Dulunya tarian ini disebut dengan tari seudati dan biasa diperagakan oleh 8 orang wanita dan 1 penyanyi. Syair-syair yang dilantunkan juga berupa ayat-ayat Islam atau dakwahan. Dari segi gerakan sebenarnya ada kemiripan dengan tari saman, namun yang menjadi pemebda utama adalah tari laweut ini dilakukan dengan berdiri. Tarian ini juga tidak diiringi oleh alat musik apapun karena mengandalkan hasil tepukan tangan para penari yang dianggap sebagai musik pengiring.

Tari Tarek Pukat

tarian-tradisional-aceh
Tari tarek pukat (sumber gambar: youtube.com)

Tarian tradisional dari Aceh selanjutnya adalah tari tarek pukat. Tarian ini memiliki keunikan tersendiri karena menggambarkan aktifitas nelayan yang menangkap ikan. Hal ini tak lepas dari sejarah terciptanya tarian ini yang terinspirasi dari tradisi nelayan karena memang masyarakat Aceh dahulunya banyak yang berprofesi sebagai seorang nelayan. Makna dari tarian ini adalah kerjasama dan kebersamaan. Tari tarek pukat diiringi dengan alat musik tradisional dengan 7 orang penari wanita.

Para penari menggunakan busana tradisional khas Aceh yang dilengkapi dengan seuntai jala di pinggangnya. Gerakannya adalah ke kanan dan ke kiri yang nantinya masing-masing tali akan dikaitkan pada teman sebelahnya, lalu dilepas dan dililitkan lagi. Pada akhir gerakan nantinya tali tersebut akan membentuk jala. Meskipun gerakannya terbilang sangat sederhana, namun nilai filosofis yang terkandung di dalamnya cukup tinggi. Tarian ini kini biasa dilakukan pada acara resmi dan perayaan tertentu.

Tari Bines

tarian-tradisional-aceh
Tari Bines (sumber gambar: blogkulo.com)

Tarian ini berasal dari Kabupaten Gayo Lues dan ditarikan oleh sekelompok wanita dengan jumlah genap. Ciri khas dari tarian ini adalah gerakannya yang lambat lalu berubah menjadi gerakan yang cepat dan hingga akhirnya berhenti serentak. Tarian ini memang mirip dengan tari saman karena memang menjadi bagian dari tari saman itu sendiri. Para penari menggunakan baju lukup, kain sarung seragam, kain pajang, hiasan leher, dan hiasan tangan. Uniknya, jika ingin memberikan uang kepada penari harus menyelipkannya di atas kepala penari. Hal ini karena uang yang diberikan dianggap sebagai pengganti bunga yang diberikan kepada penari.

Tari Didong

tarian-tradisional-aceh
Tari Didong (sumber gambar: ragamseni.com)

Didong merupakan kesenian tradisional Aceh yang menyatukan beberapa unsur seperti tari, sastra, dan vokal. Tarian ini diciptakan dari seorang seniman yang bernama Abdul Kadir To’et yang peduli dengan kesenian yang digemari oleh masyarakat Takengon dan Bener Meriah ini. Gerakan tarian ini adalah duduk dan bermain dengan kedua tangan. Tarian ini menggunakan juga tidak menggunakan alat musik latar sehingga para penarinya akan mengeluarkan nada-nada seperti musik dari mulutnya.

Rapai Geleng

tarian-tradisional-aceh
Tari Rapai Geleng (sumbe rgambar: aldianmakara.wordpress.com)

Tarian ini berasal dari Manggeng, salah satu daerah di Aceh Selatan. Biasanya tarian ini dibawakan oleh penari laki-laki. Syair dari tarian ini bertujuan untuk menanamkan nilai moral pada masyarakat. Selain itu, tarian ini juga menjadi sarana dakwah pada masa awal perkembangannya di tahun 1965. Syair lagu untuk tarian ini diambil dari lagu-lagu keagamaan. Kata ‘geleng’ pada tarian ini sendiri bermakna menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri. Sedangkan kata ‘rapai’ merupakan sebutan untuk alat musik yang mirip dengan gendang yang digunakan oleh para penari. Kini alat musik semacam ini lebih dikenal dengan sebutan rebana.

Tari Ula Ula Lembing

tarian-tradisional-aceh
Tari Ula Ula Lembing (sumber gambar: tradisikita.my.id)

Tarian ini diiringi dengan lagu yang mirip dengan lagu Arab. Sayangnya, tari ula ula lembing kini semakin pudar. Dulunya, tarian ini bernuansa bahagia dan digunakan untuk ritual adat dan acara pernikahan. Tari tradisional ini diperagakan para wanita dengan kostum layaknya busana muslim, dimana para penari mengggunakan semacam jilbab atau ada juga yang menggunakan semacam ciput sebagai penutup kepala.

Tari Ratoh Duek Aceh

tarian-tradisional-aceh
Tari Ratoh Duek Aceh (sumber gambar: busy.org)

Kata ‘ratoh’ diambil dari bahasa Arab yang artinya ‘rateb’, sedangkan kata ‘duek’ berasal dari bahasa Aceh yang berarti ‘duduk’. Tarian ini juga diperagakan oleh kaum hawa yang berjumlah 10 atau lebih dengan 2 orang penyanyi. Makna dari tari tradisional ini menggambarkan kehidupan sehari-hari, kekompakan, keselarasan, sifat optimis dan tegas. Gerakan dalam tarian ini pada dasarnya memiliki kemiripan dengan tari saman, terlebih pasca tari saman diakui oleh UNESCO dan boleh dimainkan oleh para wanita.

Namun nyatanya ini merupakan tarian yang diciptakan berbeda. Jika tari saman lekat dengan budaya suku Gayo, tari ratoh duek ini justru dianggap sebagai salah satu tarian khas Aceh. Pasalnya para penyanyi dan penari mengggunakan bahasa dan busana adat Aceh saat para penari tampil di atas panggung. Tarian ini juga diiringi dengan alat musik rebana. Pada dasarnya tari ratoh duek ini memang mirip dengan tari saman, namun karena suku Gayo enggan merubah budayanya. Akhirnya masyarakat berinisiatif untuk membuat namanya menjadi tari ratoh duek dengan tidak mengubah budaya sesepuh pada gerakan tari ini.

Tarian khas lainnya yang juga berasal dari daerah Aceh adalah tari pho. Nama ‘pho’ dalam tarian ini berasal dari kata ‘peubae’ yang jika diartikan dalam bahasa Aceh berarti ‘penghormatan’. Tarian ini dibawakan oleh para wanita sebagai simbol bahwa orang tersebut tengah bersedih atau berduka cita.