Tarian Tradisional Maluku Utara, Budaya Peninggalan Kerajaan Ternate-Tidore

Posted on
tarian-tradisional-maluku-utara
tari salai jin (sumber gambar: indonesiakaya.com)

Tarian Maluku Utara – Provinsi Maluku Utara merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terbilang masih cukup muda, provinsi ini terbentuk pada tanggal 4 Oktober 1999 lalu. Maluku Utara misahkan diri dari provinsi induknya yakni Provinsi Maluku melalui otonomi daerah. Kemudian Maluku Utara menjadikan kota Sofifi sebagai ibu kota provinsinya. Sama dengan karakteristik daerah yang berada di Indonesia Timur lainnya, Maluku Utara juga kaya akan keberagaman suku bangsa. Terlebih dari catatan sejarah menunjukkan jika Maluku Utara di masa lampau memiliki 2 kerajaan besar yakni Ternate dan Tidore.

Dari masa kerajaan itulah kebudayaan yang ada di daerah Maluku Utara terbentuk. Salah satu bentuk keberagaman budaya yang ada di daerah tersebut adalah adanya tarian daerah khas Maluku Utara. Selain menjadi ciri khas, tarian ini juga mengandung nilai dan makna sosial yang begitu kental. Sebagai warisan budaya, tarian khas Maluku Utara juga bisa menjadi daya tarik wisatawan untuk berdatangan ke daerah tersebut.

Ragam Tari Tradisional Maluku Utara

Tari Soya-Soya

tarian-tradisional-maluku-utara
tari soya soya (sumber gambar: kamerabudaya.com)

Tarian ini biasanya dilakukan atau ditampilkan dalam pembukaan suatu acara dan saat menyambut tamu kehormatan. Tari soya-soya ini memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat Maluku Utara. Dahulu, tarian ini ditampilkan saat menyambut pasukan setelah melakukan peperangan melawan musuh. Tarian soya-soya merpakan tarian yang diciptakan oleh Sultan Baabullan dengan tujuan sebagai penyemangat para pasukan Ternate pasca tewasnya Sultan Khairun. Sultan Khairun merupakan ayah dari Sultan Baabullah yang gugur saat merebut Benteng Nostra Senora del Rosario (Benteng Kastela) dari tangan Portugis pada tanggal 25 Februari 1570. Pada saat itu, tarian ini dimaknai sebagai tarian perang pembebasan dari penjajahan Portugis.

Penari yang melakukan tari soya-soya menggunakan pakaian berwarna putih yang dipadukan dengan sambungan menyerupai rok berwarna merah, kuning, hitam, dan hijau. Para penari juga menggunakan ikat kepala (taqoa) berwarna kuning sebagai simbol prajurit perang. Tari soya-soya diiringi dengan gendang (tifa), gong (saragai), dan gono berukuran kecil.

Tari Gumatere

tarian-tradisional-maluku-utara
tari gumatere (sumber gambar: sumber.com)

Kesenian ini merupakan tari tradisional rakyat Morotai. Tarian ini dimaksudkan untuk meminta petunjuk terhadap persoalan maupun fenomena alam yang sedang terjadi. Pertunjukkan tari gumatere dibawakan oleh sekitar 30 penari pria dan wanita. Para penari pria menggunakan tombak dan pedang sebagai perlengkapan mereka, sedangkan para penari perempuan menggunakan lenso. Tarian ini kental akan nuansa mistis, hal ini tercermin dengan adanya salah seorang penari yang menggunakan kain berwarna hitam, nyiru, dan lilin untuk melakukan ritual meminta petunjuk ini.

Tari Dengedenge

tarian-tradisional-maluku-utara
tari dengedenge (sumber gambar: sumber.com)

Tarian ini adalah kesenian tradisional dari Halmahera Utara, masyarakat setempat menganggap tari dengedenge merupajan tarian pergaulan. Tarian ini dimainkan secara berkelompok penari pria dan wanita. Saat pertunjukkan, tarian ini diiringi oleh nyanyian yang berupa syair pantun dan mempunyai makna cinta serta harapan di masa depan. Nyanyian pengiring dalam tari dengedenge ini biasanya dibawakan dengan cara saling berbalas-balasan dan bersahutan. Bahkan tak jarang para penari pria dan penari mengakhiri tarian dengedenge ini dengan sebuah kesepakatan untuk menikah.

Tari Tide Tide

tarian-tradisional-maluku-utara
tari tide tide (sumber gambar: halobis.net)

Tarian yang satu ini juga berasal dari Halmahera Utara. Tari tide tide ditampilkan secara berpasangan oleh penari pria dan wanita. Biasanya tarian ini digunakan untuk pesta adat atau acara lainnya yan bersifat menghibur. Tarian ini difungsikan untuk memeriahkan acara tersebut. Bagi masyarakat Halmahera Utara, tarian tide tide sebagai tarian pergaulan yang akrab. Dilihat dari gerakannya, tarian ini juga menjadi penanda romantisme dan keharmonisan para pemuda-pemudi di Halmahera Utara. Pertunjukan tarian ini biasanya ditampilkan oleh 4 sampai 6 pasangan penari pria dan wanita. Tari tide-tide diiringi dengan beragam alat musik tradisional seperti tifa, gong, biola, dan seruling. Irama yang dimainkan biasanya irama bertempo sedang dan disesuaikan dengan gerakan dari para penari agar terlihat padu dan harmonis.

Tari Cakalele

tarian-tradisional-maluku-utara
tarian cakalele (sumber gambar: indonesiakoran.com)

Tarian cakalele merupakan tarian perang yang umumnya ditampilkan oleh para penari pria. Berdasarkan sumber sejarah yang ada menyebutkan jika tarian ini merupakan tarian tradisional Maluku Utara yang digunakan untuk tarian perang bagi prajurit sebelum bertempur ke medan perang. Saat ini, tarian ini tidak lagi difungsikan sebagai tarian perang namun lebih sering ditampilkan saat perayaan adat sebagai pertunjukan yang menghibur.

Tarian cakalele menggambarkan jiwa masyarakat Maluku Utara yang sangat pemberani dan tangguh. Makna ini dapat dilihat dari gerakan dan ekspresi para penari cakalele. Para penari cakelele menggunakan kostum berwarna merah dan kuning sembari membawa parang dan tameng (salawaku). Sedangkan penari wanitanya menggunakan pakaian putih sembari menggenggam sapu tangan (lenso) di kedua tangannya. Saat pertunjukkan, tarian ini diiringi dengan alat musik tifa, suling, dan bia. Tak jarang tarian ini ditampilkan dalam berbagai acara budaya serta promosi pariwisata baik di tingkat daerah, nasional, ataupun internasional.

Tari Salai Jin

tarian-tradisional-maluku-utara
tari salai jin (sumber gambar: indonesiakaya.com)

Tari salai jin merupakan tarian tradisional yang berasal dari Ternate, Maluku Utara. Tarian ini sangat kental dengan nilai magis karena merupakan tarian khas dari suku asli Ternate. Inti dalam tarian ini adalah sebuah pesan dari para mahkluk gaib yang berupa jin, ciri khas dalam tarian ini adalah selalu melibatkan mahkluk yang tidak kasat mata. Dahulu tarian ini digunakan oleh nenek moyang masyarakat Ternate untuk berkomunikasi dengan bangsa jin, tujuan dari adanya komunikasi ini adalah untuk meminta bantuan kepada para jin guna menyelesaikan persoalan yang tengah dihadapi manusia. Alasan paling umum yang menjadi alasan tarian ini diadakan adalah penyakit yang sedang diderita oleh seseorang.

Pada pertunjukkanya, tari salai jin ini ditampilkan secara berkelompok dan para penari haruslah berjumlah genap. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Saat melakukan pertunjukan biasanya para penari akan mengalami kerasukan roh halus yang berupa jin, hal tersebut bahkan masih terus terjadi sampai saat ini.

Tari Lalayon

tarian-tradisional-maluku-utara
tari lalayon (sumber gambar: indonesiakaya.com)

Tarian ini merupakan tarian pergaulan yang berisikan pesan-pesan tertentu berbau romantis dan cinta, sehingga tarian ini biasa dibawakan secara berpasangan dan memiliki gerakan yang indah sepanjang babak tarian berlangsung. Lagu berirama Melayu juga menjadi elemen terpenting dalam tarian ini untuk membentuk atmosfir romantis yang akan mendukung tersampainya pesan. Tarian ini biasanya dibawakan dalam acara formal seperti pesta adat atau perkawinan.

Tari Lelehe

Tari lelehe merupakan tarian tradisional yang berasal dari kebudayaan masyarakat suku Tobelo. Tarian lelehe biasanya dibawakan oleh sepasang penari pria dan wanita, dimana para penari tersebut bisa orang dewasa maupun anak-anak. Para penari umumnya akan memakai 2 alat yang berbahan dasar bambu dan berukuran 2 sampai 3 meter sebagai perlengkapan tarian.

Dalam perkembangannya, tarian daerah memang kerap dipertunjukkan dalam acara-acara festival budaya. Tujuannya tentu saja untuk memperkenalkan kebudayaan asli Indonesia sekaligus menjadi ajang bagi generasi muda untuk bisa melestarikan kesenian tari tradisional dari daerah masing-masing.