Tarian Yogyakarta, Kebudayaan Asli Masyarakat Jawa

Posted on
tarian-yogyakarta
tari beksan srikandi suradewati (sumber gambar: myimage.id)

Tari Beksan Srikandi SuradewatiYogyakarta atau yang lebih sering disebut dengan Jogja merupakan salah satu kota yang mendapat julukan istimewa selain Jakarta dan Aceh. Kota yang berada dekat dengan provinsi Jawa Tengah ini memang sangat kental memegang teguh budaya Jawa, bahkan hingga saat ini Jogja dikenal sebagai simbol budaya Jawa. Lantaran budaya Jawa yang masih sangat kental terasa di Jogja, banyak orang yang menjadi begitu tertarik untuk berkunjung ke daerah tersebut. Jogja juga dikenal dengan sebutan kota pendidikan, kota pariwisata, kota budaya, kota seni, dan masih banyak sebutan atau julukan lain untuk kota yang satu ini.

Sebagai kota pariwisata memang banyak tempat bersejarah yang ada di Jogja dan sangat menarik untuk dikunjungi. Tatanan kota Jogja juga sangat kental dengan pengaruh budaya Jawa yang menambah suasana teduh dan asri saat singgah di kota ini. Salah satu kesenian tradisional di daerah Jogja yang sampai saat ini masih terus dilestarikan adalah seni tari tradisional. Ada banyak ragam tarian tradisional khas Jogja, berikut merupakan daftar tarian tradisional yang ada di Yogyakarta.

Tarian Daerah Yogyakarta

  1. Tari Serimpi

tarian-jawa-tengah
tari serimpi (sumber gambar: catatanjulfita.blogspot.com)

Tari serimpi adalah kesenian yang kepopulerannya sangat besar di daerha Yogyakarta. Pada awalnya, tarian ini merupakan sebuah pertunjukan yang sakral dan hanya boleh ditampilkan di lingkungan keratin saja. Biasanya tarian ini dipertunjukkan sebagai acara ritual kenegeraan hingga acara peringatan naiknya tahta sultan. Tarian serimpi dimainkan oleh 4 orang penari wanita yang cantik dan anggun. Makna dari serimpi sendiri berasal dari kata ‘impi’ yang berarti mimpi. Ciri khas utama dari tarian ini adalah gerakan yang lambat dan lemah gemulai, yang mana gerakan tersebut memberi makna kesopanan dan kelemah lembutan. Keempat penari yang menarikan tari serimpi ini melambangkan 4 unsur yang ada di dunia yakni api (grama), air (toya), udara (angin), dan tanah (bumi). Selain itu keempat penari juga memiliki nama-nama tersendiri diantaranya adalah batak, gulu, dhada, dan buncit. Tarian serimpi pada dasarnya memiliki banyak jenis antara lain serimpi cina, serimpi padhelori, serimpi pistol, serimpi merak kasimpir, serimpi pramugari, serimpi ludira madu, dan serimpi sangopati.

  1. Tari Rara Ngigel

tarian-yogyakarta
tari rara ngingel (sumber gambar: blogkulo.com)

Tarian daerah Jogja yang berikutnya adalah tari rara ngigel yang menceritakan tentang seorang gadis yang tumbuh menjadi dewasa. Pada umumnya tarian ditarikan oleh wanita, namun tidak jarang juga ditarikan secara berpasangan. Tarian ini menggabungkan dua kebudayaan atau nilai-nilai yang harus ada pada pribadi wanita Jawa. Tari rara ngigel menunjukkan gerakan lemah lembut sebagai ciri khas tarian Yogyakarta dan gerakan yang tegas sebagai ciri khas tarian Jawa Barat. Busana yang biasa digunakan oleh para penari rara ngigel adalah perpaduan kostum antara budaya Cina dan Jawa.

  1. Tari Kumbang Yogyakarta

tarian-yogyakarta
tari kumbang (sumber gambar: youtube.com)

Seperti namanya, tarian ini menceritakan tentang sepasang kumbang jantan dan betina yang saling kejar-kejaran layaknya sepasang kekasih. Kemudian terbang ke sebuah bunga untuk menghisap sari bunga bersama di sebuah taman. Kumbang jantan dan betina saling memadu kasih diiringi dengan suasana yang begitu romantis. Dalam kesenian tari kumbang ini, penonton akan diajak berimajinasi dengan suasana yang sangat romantis dari penampilan antara kumbang jantan dan betina.

  1. Tari Beksan Srikandi Suradewati

tarian-yogyakarta
tari beksan srikandi suradewati (sumber gambar: myimage.id)

Tarian ini diambil dari serat Mahabarata yang menceritakan tentang peperangan antara Dewi Suradewati dan Dewi Srikandhi. Suradewati merupakan adik dari Prabu Dasalengkara yang ingin menjadikan Dewi Siti Sendari sebagai istrinya. Maka Dewi Suradewati diutus untuk melamar pujaan hati sang kakak. Sayangnya, Dewi Siri Sendari sudah dijodohkan dengan Raden Abimanyu. Pada akhirnya terjadilah peperangan antara Dewi Suradewati dan Dewi Srikandhi yang membela Abimanyu., di akhir cerita kemenangan diraih oleh Dewi Srikandhi.

  1. Tari Klono Rojo

tarian-yogyakarta
tari klono rojo (sumber gambar: budayajawa.id)

Tari klono rojo adalah satu dari banyak tarian klasik dari daerah Yogyakarta. Tarian ini menceritakan adegan seorang raja yang sedang jatuh cinta kepada seorang putri yang cantik jelita yang terinspirasi dari cerita Wayang Wong. Nama ‘klono rojo’ sendiri diambil dari busana atau kostum yang digunakan dalam tarian ini. Para penari menggunakan busana seperti seorang raja lengkap dengan mahkotanya. Beberapa sumber sejarah lain juga menyebutkan jika tarian ini diambil dari tokoh raja yang sangat gagah dan berkuasa.

  1. Tari Golek Ayun Ayun

tarian-yogyakarta
tari golek ayun ayun (sumber gambar: youtube.com)

Tarian ini biasanya ditampilkan untuk upacara penyambutan tamu kehormatan serta acara-acara besar lainnya. Tarian ini menceritakan tentang wanita yang sedang beranjak dewasa yang mana mereka tengah gemar bersolek atau mempercantik diri. Tari tradisional Yogyakarta ini biasanya dimainkan oleh 2 orang penari wanita yang cantik dan anggun, namun terkadang bisa juga dimainkan oleh lebih dari 2 orang penari. Gerak lemah gemulai menjadi ciri tersendiri dalam tarian ini. Hal ini terlihat jelas dalam gerakan si penari yang seakan-akan sedang menyulam kain serta gerakan lainnya.

  1. Tari Arjuna Wiwaha

tarian-yogyakarta
tari arjuna wiwaha (sumber gambar: tari-tarianpulaujawa1.blogspot.com)

Tarian daerah Yogyakarta selanjutnya adalah tari Arjuna Wiwaha. Tarian ini biasa dipentaskan di lingkungan keraton yang menceritakan tentang sosok Arjuna yang banyak diterpa godaan saat bertapa di Indrakila. Diantara godaan yang hadir adalah dikirimnya bidadari-bidadari cantik oleh Indra yang diperintahkan untuk menggoda Arjuna agar pertapaannya gagal. Berkat keteguhan hati Arjuna, para bidadari pun gagal menggoda Arjuna dalam pertapaannya. Maka akhirnya Indra sendiri yang datang dan menyamar sebagai seorang Brahmana yang tua renta, mereka berdiskusi begitu lama hingga sang Dewa akhirnya menunjukkan jati diri yang sesungguhnya. Selepas itu, Arjuna mendapatkan tugas untuk membunuh Niwatakawaca yang merupakan seorang raksasa yang mengganggu kahyangan. Dalam tugasnya itu, Arjuna berhasil mengalahkan Niwatakawaca dan oleh para Dewa diberkan hadiah yakni boleh menikahi 7 bidadari cantik.

  1. Tari Satrio Watang Yogyakarta

tarian-yogyakarta
tari satrio watang (sumber gambar: budayajawa.id)

Tarian ini juga sering dikenal dengan nama tari Prawiro Watang merupakan tarian yang ditarikan oleh laki-laki gagah. Dalam tarian ini biasa ditampilkan secara berkelompok ataupun secara sendiri. Seperti namanya Satrio Watang memiliki makna Prajurit atau kesatria sedangkan Watang sendiri memiliki arti tongkat yang terbuat dari kayu. Sehingga tarian ini menceritakan tentang kegagahan prajurit-prajurit di zaman itu yang sangat mahir dan lihai dalam menggunakan senjata yang disebut dengan watang.

  1. Tari Golek Sulung Dayung

tarian-yogyakarta
tari golek sulung dayung (sumber gambar: youtube.com)

Tarian ini dikenal juga menceritakan tentang perempuan muda yang sangat memperhatikan penampilannya dan ingin selalu terlihat menarik. Hal ini terlihat dari gerak-gerakan yang ada dalam tarian seperti gerakan menggunakan perhiasan, bercermin dan lain sebagainya. Ciri khas tari golek sulung dayung adalah adanya karakter kemayu dan genit. Pada awalnya tarian ini ditarikan oleh laki-laki yang berpostur tubuh kecil dan berwajah feminin, akan tetapi seiring dengan perkembangannya tarian ini ditarikan oleh penari perempuan bisa sendiri ataupun ditarikan secara berkelompok.

Tarian lain dari daerah Yogyakarta yang cukup popuker adalah Tari Langen Asmoro. Tarian ini bertemakan tentang percintaan yang mana diceritakan sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta, saling memadu kasih, bermesraan dan berbahagia bersama. Memang jika berbicara tentang Yogyakarta, pasti tidak jauh dari budaya Jawa yang diwariskan turun-temurun dari nenek moyang. Meski sekarang ini sudah banyak budaya asing yang masuk ke Nusantara, namun Yogyakarta masih menjaga keaslian kebudayaan Jawa di tanah mereka.